ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Terlambat Bicara atau Gangguan Bicara?

Foto: M Newland & Associates
0

Oleh Widianingsih Idey Widia

“Obin Atu ah aduuus (mobil aku mah bagus),” ujar anak empat  tahunan, ketika itu. Ia memperlihatkan mobil-mobilannya.

Usia enam tahun ia masih nampak lucu dan menggemaskan, berceloteh dengan kata kata yang masih agak cadel. Banyak orang tak mengira usia nya 6 tahun dari bahasa nya pun postur tubuh mungilnya.

Seusia itu anak tersebut memang nampak sangat lucu dan menggemaskan, orangtua nampak tak khawatir sedikitpun. Namun, jika ini terus berlanjut tiba saat usianya 8 tahun, kelucuannya mulai menghilang. Dia sulit mengekspresikan apa ide dan perasaannya, karena orang lain tak paham sebagian kata kata yang diucapkannya.

Saat bayi, orangtua nya lebih fokus pada membeli pakaian bermerk, mainan mahal, makan di berbagai restoran terkenal. Orangtua nya asyik saja melakukan “baby talking” dengan anaknya.

Saat anak ini usia bayi antara 8-18 bulan, orangtua tidak cek dan ricek, apakah bayinya memahami apa yang ibu nya katakan? Bagaimana sang bayi meresponnya?

Saat bayi usia 0-2 tahun, seharusnya orangtua bicara jelas dan memakai kalimat SPOK. Usia 8-18 bulan bayi nya akan babbling dan bayi mereka juga mengerti banyak kata lebih dari yang bisa mereka ucapkan. Sehingga saat usia 18-24 bulan dia mulai bisa bicara dua sampai tiga kata yang dia mengerti maknanya.

Jika tak ada masalah pada fungsi vegetasi anak, tidak ada masalah pada organ bicara dan organ pendengarannya, usia 6 tahun dia sudah mampu bicara lengkap, intonasi jelas, mampu menjelaskan sesuatu, menjelaskan isi cerita.

Jika usia itu bicara belum jelas artinya anak mengalami gangguan bicara. Ini akibat 0-2 tahun ada tahapan yang terlewatkan. []

loading...
loading...