ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Mau Jadi Penghalang atau Pejuang?

Foto: Mindbloom
0

Oleh: Ummu Kautsar
Penulis tinggal di Bandung, zahraluvtheearth@gmail.com

 

“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan mengerjakan amal saleh, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai (Islam). Dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Tetapi barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik,” (TQS. An Nur: 55).

Dahulu Islam pernah berjaya. Islam pernah menjadi negara adidaya. Ia memiliki rumah sakit pertama di dunia. Ia memiliki perpustakaan terbesar di dunia. Ia memiliki universitas pertama di dunia, juga observatorium pertama di dunia. Kesejahteraan rakyatnya terjamin. Sejarah mencatat ketika masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, tidak ditemukan mustahiq zakat. Semua rakyatnya menjadi pemberi zakat. Dan masih banyak contoh kejayaan lainnya.

Sementara kita lihat kondisi kaum muslim saat ini, kemiskinan merajalela dan mayoritasnya adalah muslim. Korupsi menjadi perihal yang biasa dilakukan pemerintah bahkan di dalam kementrian agama, dan koruptornya mengaku muslim. Banyak pula muslim yang putus sekolah sehingga jauh dari ilmu. Bahkan kini banyak muslim yang terjerat perilaku hidup bebas.

Janji Allah yang termaktub dalam Qur’an Surat An Nur ayat 55 terlihat mustahil dengan melihat keadaan sekarang. Ada juga yang beranggapan itu hal yang utopis. Tapi, itu janji Allah. Kalaulah manusia yang berjanji, boleh jadi ia akan lupa, tidak akan menepati janji. Tapi, tidak akan terjadi ketika Allah yang berjanji. Walau kini terlihat mustahil, dengan izin Allah hal itu akan terjadi. Sebagaimana Allah berfirman dalam Qur’an “kun fayakun”, jadilah maka jadilah ia.

Tercatat dalam sejarah ketika kaum muslim sedang mempersiapkan perang Ahzab atau perang parit. Pembangunan parit itu hampir selesai, namun, ada satu bagian yang terhambat oleh sebuah batu besar. Sulit sekali dipecahkan. Hingga akhirnya Rasulullah turun tangan.

Dipukulnya batu itu, hingga muncul percikan api di sana, Rasul berkata, “Allahu Akbar! Kunci Syam telah diberikan padaku. Demi Allah aku tengah melihat istana-istananya yang berwarna kemerahan”.

Pada saat pukulan kedua, Rasul berkata, “Allahu Akbar! Kunci-kunci Persia telah diberikan kepadaku. Demi Allah aku tengah melihat istana-istana kota berwarna putih”.

Pukulan terakhir, akhirnya membuat batu itu pecah menjadi pasir, “Allahu Akbar! Kunci-kunci Yaman telah diberikan pula kepadaku. Demi Allah kini aku tengah melihat pintu-pintu kota Shan’a dari tempatku ini,…”

Mendengar hal itu, para sahabat semangat. Bahkan dengan percaya dirinya bertanya mana dulu yang akan dikuasai oleh kaum muslim. Sementara para kaum munafik mengolok umat muslim. Mereka tidak percaya dengan bisyarah atau kabar gembira dari Rasulullah saw. Bahkan mereka bersekongkol dengan lawan kaum muslim untuk menghancurkan kaum Muslim. Tapi, seperti yang kita ketahui Allah turunkan pertolongannya bagi Rasul dan kaum muslim.

Bisyarah Rasul pun terbukti, pada masa setelah Rasul. Salah satunya, Muhammad Al Fatih yang berhasil membebaskan Konstantinopel. Itulah bedanya antara kaum mukmin dan munafik. Walau terlihat mustahil, tapi kaum mukmin tetap mempercayai apa yang dikatakan Rasul apalagi Allah swt. sementara kaum munafik mendengar kabar gembira dari Rasul, semakin bertambahlah rasa bencinya kepada kaum mukmin.

Kini, akankah sikap kita sebagaimana para sahabat yang mempercayai janji Allah dan Rasul dengan memperjuangkan janji tersebut. Atau akankah kita seperti kaum munafik yang benar-benar merasa itu hal yang mustahil dan membenci perjuangan termasuk para pejuang janji Allah? Wallahu a’lam. []

OPINI ini adalah kiriman pembaca Islampos. Isi dari OPINI di luar tanggung jawab redaksi Islampos. Kirim OPINI Anda lewat imel ke: islampos@gmail.com, paling banyak dua (2) halaman MS Word. Sertakan biodata singkat dan foto diri.

loading...
loading...