• Home
  • Disclaimer
  • Iklan
  • Redaksi
  • Donasi
  • Copyright
Rabu, 4 November 2026
Islampos
  • Home
  • Beginner
  • Tahukah
  • Sirah
  • Renungan
  • Muslimbiz
    • Muslimtrip
  • Berita
  • Cari
No Result
View All Result
  • Home
  • Beginner
  • Tahukah
  • Sirah
  • Renungan
  • Muslimbiz
    • Muslimtrip
  • Berita
  • Cari
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Islampos
[adinserter block="1"] [adinserter block="17"]

Ketika Hidupmu Terasa Sempit…

by Sodikin
6 tahun ago
in Ibrah
Reading Time: 3 mins read
A A
0
stres

Ilustrasi. Foto: Nation

[adinserter block="3"] [adinserter block="19"]

Oleh: Taufik Ginanjar

SETIAP orang berpotensi bahkan sangat mungkin mengalami kondisi di mana semuanya terasa serba sulit, rezeki serasa sempit, kebahagiaan yang didamba serasa tak ada. Sampai hati, seseorang menghujat dan mencela takdir kehidupan yang tengah dijalaninya. Serasa Allah tak adil dalam hidupnya. Sebetulnya, apa yang memengaruhi perasaan kita waktu itu?

Salah satu jawaban terbesarnya adalah pemaknaan. Bagaimana pikiran dan hati kita memaknai apa yang terjadi, adalah salah satu hal fundamental yang membangun struktur kebahagiaan. Jika seseorang mampu memaknai semua yang menimpanya dengan penuh penerimaan, maka ia akan bisa berdamai dengan kompleksitas beban masalahnya. Mampu memaknai dengan benar, berarti ia akan mampu untuk mengambil keputusan yang tepat dalam melangkah ke depannya.

BACA JUGA: Ambil Makna, Rasakan Bahagia

ArtikelTerkait

Sapu Cinta dari Sultan Abdul Hamid II

Istighfar dan Para Ulama Salaf

Kunci Menjadi Kaya: Sedekah dan Keberkahan harta

Sunnah Keluar Rumah, oleh: Ustadz Dr. Khalid Basalamah, Lc., MA.

Memaknai dan menerima apa saja yang Allah tetapkan dan berikan untuk dirinya, atau yang biasa kita sebut Qana’ah adalah jawaban yang tepat saat kita dihadapkan pada sebuah kondisi krisis, serba sulit dan serba menghimpit.

Jangan-jangan yang kita pikirkan tentang kebahagiaan itu selama ini ukurannya adalah duniawi. Punya uang banyak, dianggap bisa bahagia. Punya pasangan, punya anak, punya jabatan, punya popularitas, punya segalanya baru bisa dianggap bahagia. Jika orientasi kebahagiaan itu diletakan pada material, maka selamanya kita tak akan pernah merasa puas dan bahagia.

Bahagia itu ketika hati kita benar benar sakinah. Sakinah itu hanya diturunkan oleh Allah kepada mereka yang validitas keimanannya teruji. Teruji ketika diberi godaan dan ujian, masih tetap bisa menghamba hanya kepada Allah semata. Masih sanggup menggantungkan dan menaruh seluruh harapannya (roja’) hanya kepada Allah.

Lihat Substansinya

Untuk mengubah pemaknaan kita terhadap kondisi yang terjadi, maka lihatlah apa sebenarnya isinya itu. Apapun yang Allah berikan pada diri kita, dan apapun yang tidak Allah berikan pada kita namun diberikan kepada orang lain, maka pandanglah substansinya. Pahamilah  bahwa Allah merencanakan yang terbaik untuk hidup kita. Ukurannya bukan duniawi, tapi ukhrawi. Rasakanlah bahwa itu cukup bagi kita. Rasakanlah bahwa Allah sedang mengurus diri kita (agar terhindar dari istidraj misalnya). Rasakanlah bahwa Allah sedang menguji kesetiaan kita terhadap-Nya.

Konversi Kebahagiaan

Qanaah yang dimiliki seseorang selalu memberi 2 konsekuensi: bersyukur dan bersabar. Ia akan mampu melakukan konversi  dalam pikirannya. Misal, saat ia harus menyaksikan teman-temannya sudah dikaruniai harta, jabatan, pasangan hidup hingga anak keturunan, sedang dirinya belum ke arah sana. Di pikirannya ia mengonversi apa yang Allah berikan untuknya adalah kebaikan.

Ia mulai memandang dan mensyukuri hidup karena masih ada orangtuanya yang bisa ia bahagiakan terlebih dulu. Ia melihat bahwa dirinya dengan kondisi seperti itu masih bisa khusyu dalam sholat dan ibadah lainnya. Konversi yang dilakukan dalam pikirannya bekerja secara alamiah, efek mekanisme Qana’ah yang ia miliki. Sehingga, diberi kondisi apapun, baginya itu adalah sebuah hal yang patut disyukuri pemberian dari Rabb-nya.

BACA JUGA: Bahagianya Orang-orang seperti Pak Haji Bolot

Sudut Pandang

Mekanisme selanjutnya efek dari Qanaah seseorang adalah melihat malasah dengan sudut pandang yang tepat. Tepat dalam artian  Allah ridha terhadap hal itu. Misal, orang lain udah sukses secara finansial, tapi ia dan keluarga tercintanya masih di taraf yang biasa biasa. Hal itupun tak menjadikan hatinya sesak. Ia justru bersykur sekaligus bersabar. Ia menghayati dan memandang boleh jadi hal tersebut mendatangkan madharat untuk kehidupannya. Nampak nampaknya ia memandang dunia dan segala isinya merupakan hal yang biasa saja. Semuanya adalah ujian.

Saat kondisi hidup terasa sulit dan terus menghimpit, maka cobalah untuk memaknai semuanya dengan benar. Lihat substansinya, lakukan konversi di pikiran kita bahwa apa yang Allah berikan pada diri kita jauh lebih baik, perbaiki juga sudut pandang kita dalam menilai masalah keduniawian.

Semuanya cukup dengan memiliki Qanaah, merasa cukup dengan apa yang Allah berikan. Kesempitan tak akan lama-lama menghimpit. Ia akan segera berubah jadi haru, karena Allah telah melapangkannya. Segala puji bagi Allah atas segala perasangka buruk kita dan pemaknaan negatif kita selama ini. []

SUMBER: PERSIS

Tags: DuniaHartakebahagiaanMateriprasangka
ADVERTISEMENT
Previous Post

Ini 3 Tingkatan Manusia dalam Mengendalikan Hawa Nafsu

Next Post

Alasan Nabi Sulaiman Sembelih Kuda-kudanya yang Kuat dan Gagah

Sodikin

Sodikin

Related Posts

Sultan Abdul Hamid II

Sapu Cinta dari Sultan Abdul Hamid II

7 Juli 2025
Imam Syafi'i, Ulama, Madzhab, Istighfar

Istighfar dan Para Ulama Salaf

5 Juli 2025
Rezeki, Jalan Rezeki, pencuri, Uang Haram, Sedekah

Kunci Menjadi Kaya: Sedekah dan Keberkahan harta

4 Juli 2025
Pahala, Sunnah Keluar Rumah

Sunnah Keluar Rumah, oleh: Ustadz Dr. Khalid Basalamah, Lc., MA.

21 Juni 2025
Please login to join discussion

Tulisan Terbaru

Melakukan Perubahan, sifat jujur, orang yang meninggalkan shalat, istidraj, FITNAH, SYAHWAT, maksiat, bunuh diri, dosa, maksiat, taubat

5 Alasan Jangan Mengungkit Dosa Masa Lalu Seseorang yang Sudah Bertaubat

by Yudi
14 Juli 2025
0

agar tidak mengulangi dosa, mengganti shalat wajib, dosa jariyah, mandi, dosa, shalat

Jangan Tinggalkan Shalat Meski Badan Kotor saat Kerja, Tidak Semua Kotor Itu Najis

by Yudi
14 Juli 2025
0

Senin

Jangan Lagi Bilang “Nggak Suka Senin!”

by Dini Koswarini
14 Juli 2025
0

Cerai, Sebab Zina Dilarang dalam Islam, zina, Penyebab Lelaki Selingkuh, Talak

Talak: Halal yang Dibenci, Senjata Iblis untuk Memecah Belah

by Saad Saefullah
13 Juli 2025
0

Laporan Donasi Islampos Juli 2025: Alhamdulillah, Sudah Terkumpul Rp2.390.999!

by Saad Saefullah
13 Juli 2025
0

Terpopuler

No Content Available
Facebook Twitter Youtube Pinterest Telegram

© 2022 islampos - Membuka, Menginspirasi, Free to Share.

No Result
View All Result
  • Home
  • Beginner
  • Tahukah
  • Sirah
  • Renungan
  • Muslimbiz
    • Muslimtrip
  • Berita
  • Cari

© 2022 islampos - Membuka, Menginspirasi, Free to Share.