ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Ekspansi ke Spanyol: Kisah tentang Toleransi dan Perdamaian

0

Oleh: Moh. Mahmud*

 

GERAKAN penaklukan ke Spanyol tidak lepas dari solidaritas di antara ketiga tokoh penting yang dapat dikatakan paling berjasa dalam proses penaklukan Spayol. Ketiganya adalah Tharif bin Malik, Thaqriq bin Ziyad, dan Musa bin Nushair. Tharif bin Malik sendiri lebih tepatnya disebut sebagai penyelidik. Ia menyebrangi selat yang terletak di antara Maroko dan benua Eropa. Pada saat itu, ia bersama pasukan berjumlah 500 orang yang di antaranya terdiri dari pasukan berkuda dengan menaiki empat buah kapal yatu disediakan oleh Ratu Julian (mantan penguasa wilayah Septah).

Pada penyerbuan itu, Tharif tidak menemukan perlawanan yang berarti. Ia kembali ke Afrika Utara dengan membawa buah tangan berupa kemenangan dan harta rampasan yang berlimpah. Dengan kemenangan Tharif tersebut, ditambah dengan polemik yang terjadi di tubuh kerajaan Visigothic yang berkuasa pada waktu itu, serta motivasi besar untuk memperoleh harta rampasan, pada tahun 711 M., Musa bin Nushair mengirim pasukan sejumlah 7. 000 orang di bawah pimpinan Thariq bin Ziyad.

Pasukan yang lebih besar dan lebih nyata itu membuat Thariq lebih dikenal sebagai seorang penakluk Spanyol. Sebagian besar pasukannya berasal dari suku Barbar yang didukung oleh Musa bin Nushair dan sebagian lagi berasal dari orang Arab yang dikirim oleh Khalifah Al-Walid. Di bawah komando Thariq, pasukan itu melewati selat dan gunung, tempat pertama kali Thariq dan pasukannya mendarat dan melakukan persiapan. Gunung itu kemudian dikenal dengan Gibraltar atau Jabal Thariq.

Dengan dikuasainya daerah ini, maka terbukalah pintu untuk menguasai Spanyol. Raja Roderick akhirnya dapat dikalahkan di sebuah tempat bernama Bakkah. Dari kemenangan itu, Thariq bersama pasukannya dapat menaklukkan kota-kota penting, seperti Cordova, Granada, dan Toledo (ibu kota kerajaan Goth saat itu). Namun, sebelum Thariq menaklukkan Toledo, ia meminta tambahan pasukan kepada Musa bin Mushair di Afrika Utara. Musa pun mengirim pasukan sejumlah 5000 personil sehingga pasukan Thariq menjadi 12. 000 orang. Akan tetapi, pasukan it u tidak sebanding dengan pasukan Gotihc yang jauh lebih besar, yaitu 100. 000 orang.

Kemenangan pertama yang diraih oleh Thariq membuat Musa bin Nushair juga harus terjun di gelanggang pertempuran dengan maksud membantu Thariq. Dengan pasukan yang lebih besar, Musa melewati kota demi kota yang akhirnya dapat ditaklukkan. Sebelum bergabung dengan Thariq di Toledo, Musa telah berhasil menaklukkan Sidonia, Karmona, Sevilla, dan Merida serta dapat mengalahkan Theodomir, penguasa kerajaan Gothic di Oriheula. Selanjutnya, Musa dan Thariq berhasil menguasai seluruh kota penting di Spanyol, termasuk wilayah utaranya, mulai dari Saragosa sampai Navarre.

Pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz (99 H. /717 M.) gelombang perluasan wilayah juga mulai muncul. Wilayah yang menjadi target pada waktu itu, yaitu sekitar pegunungan Pyrenia dan Prancis Selatan. Perluasan selanjutnya dilakukan ke Avirignon (734M.), Lyon (743 M.), dan pulau-pulau yang terdapat di Laut Tengah. Umat Islam juga berhasil menguasai Majorca, Corsia, Sardinia, Creta, Rhodesia, Cyprus, dan sebagian daerah Sisilia. Gelombang penaklukan umat Islam kedua pada awal abad ke-8 ini telah menundukkan seluruh kawasan Spanyol dan menjangkau sampai Prancis Tengah serta daerah-daerah penting di Italia.

Berdasarkan kemenangan-kemenangan luar biasa yang diraih oleh umat Islam dan nampak begitu mudah, tentunya tidak dapat dielakkan dari adanya faktor-faktor eksternal dan internal yang menguntungkan umat Islam sendiri. Faktor eksternal dalam arti kondisi sosial, ekonomi, dan politik yang terjadi di Spanyol sendiri. Sedangkan faktot internal berarti kondisi psikis atau emosional dari para pemimpin, tokoh pejuang, dan prajurit Islam. Dan tentunya, faktor-faktor menguntungkan itu bukanlah sesuatu yang kebetulan. Terdapat taktik, strategi, dan pemikiran yang matang di balik semua itu.

Pada saat umat Islam melakukan penaklukan, kondisi ekonomi, sosial, dan politik Spanyol memang memprihatinkan. Secara politik, wilayah Spanyol terpecah belah menjadi beberapa negara kecil. Hal itu juga bersamaan dengan sikap penguasa yang tidak toleran terhadap penganut aliran agama Kristen yang bukan “aliran monofisit”. Lebih dari itu, penganut agama Yahudi—yang merupakan bagian terbesar dari penduduk Spanyol—secara paksa dipaksa menurut agama Kristen. Mereka yang tidak bersedia disiksa dan dibantai. Rakyat pun dibagi ke dalam sistem kelas sehingga kondisi masyarakat diwarnai dengan kemelaratan, ketertindasan, dan tidak adanya persamaan hak. Dalam suasana hidup yang semacam itu, mereka yang tertindas tentunya menanti kehadiran juru pembebas yang tidak lain adalah umat Islam. Umat Islam hadir seumpa penerang di tengah kegelapan dan pembebas dari belenggu penindasan.

Saat Islam masuk ke Spanyol, kondisi ekonominya dalam keadaan rapuh, termasuk juga perdagangan, industri, dan pertambangan. Berbagai kelumpuhan yang terjadi sebenarnya dipicu oleh oleh keadaan politik yang kacau-balau. Kondisi terburuk timbul terjadi saat pemerintahan berada di bawah kekuasaan Raja Roderick. Lebih tepatnya, saat Roderick memindahkan ibu kota dari Sevilla ke Toledo dan membehentikan Witiza—yang waktu menjadi pemimpin wilayah Toledo—begitu saja. Peristiwa itulah yang menjadi awal kehancuran kerajaan Goth. Karena melihat Witiza diberhentikan begitu saja, Oppas dan Achilla (kakak dan anak Witiza) tidak hanya tinggal diam. Keduanya memilih bergabung dengan umat Islam di Afrika Utara untuk bersama-sama menjatuhkan Roderick.

Hal lain yang juga menguntungkan umat Islam ialah persekutuan dengan orang-orang Yahudi yang selama ini tertekan sehingga penuh tekad memberikan bantuan kepada umat Islam untuk menghancurkan Roderick. Umat Islam menjalin relasi dengan mereka dengan penuh rasa persaudaraan dan perdamaian.

Sedangkan faktor internal yang menguntungkan umat Islam adalah kondisi psikis atau emosional para penguasa, tokoh-tokoh pejuang, dan para prajurit Islam yang terlibat dalam penaklukan wilayah Spanyol. Prajurit-prajurit yang kompak dan penuh rasa optimis itu berada di bawah komando para pemimpin yang bermental baja. Terdapat solidaritas dan kesetiakawanan yang tinggi di antara mereka. Persoalan-persoalan dihadapi dengan strategi-strategi jitu dan penuh ketabahan. Hal berharga yang penting untuk diamati, yaitu sikap toleransi umat Islam. Persaudaran dan saling tolong menolong antara umat Islam dengan orang-orang Kristen dan Yahudi. Pribadi-pribadi umat Islam yang penuh harmoni menjalin persaudaraan yang penuh kedamaian mambuat penduduk Spanyol menyambut mereka dengan hati terbuka dan penuh kehangatan. []

*Mahasiswa Jurusan Ilmu Hadis 2107, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Saat ini sedang menjadi bagian dari keluarga besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Korp Panglima Pemebabasan, Rayon Pembebasan Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ia juga tercatat sebagai anggota Ikatan Alumni Annuqayah (IAA) Daerah Istimewa Yogyakarta.

Langganan newsletter Kami
Langganan newsletter Kami
Daftar dan dapatkan informasi update dari Kami langsung ke Inbox e-mail Anda
Kamu dapat berhenti berlangganan kapanpun
loading...
loading...