• Home
  • Disclaimer
  • Iklan
  • Redaksi
  • Donasi
  • Copyright
Jumat, 25 September 2026
Islampos
  • Home
  • Beginner
  • Tahukah
  • Sirah
  • Renungan
  • Muslimbiz
    • Muslimtrip
  • Berita
  • Cari
No Result
View All Result
  • Home
  • Beginner
  • Tahukah
  • Sirah
  • Renungan
  • Muslimbiz
    • Muslimtrip
  • Berita
  • Cari
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Islampos
[adinserter block="1"] [adinserter block="17"]

Shalat Ashar di Bani Quraidhah

by Saad Saefullah
7 tahun ago
in Sirah
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Abu Bakar Berdagang

Foto: Pinterest

[adinserter block="3"] [adinserter block="19"]

SATU hari di tahun kelima Hijriyah. Sekelompok orang Yahudi bergegas ke Mekkah. Mereka memprovokasi kaum kafir Qureisy agar menyerang kaum Muslimin yang berpusat di Madinah.

Kedatangan tokoh-tokoh Yahudi itu mendapat sambutan hangat. Demi merontokkan pasukan Muslimin, mereka segera meminta bantuan kabilah-kabilah yang telah lama menentang dakwah Rasulullah SAW. Termasuk mereka yang sebenarnya terikat perjanjian militer dengan Rasulullah di dekati.

Abu Sufyan, sang duta penghubung antarkabilah, berhasil menghimpun kekuatan sebesar 10 ribu tentara. Pasukan gabungan sebanyak ini terhitung sangat besar untuk ukuran kala itu. Sebab, itu sebanding dengan jumlah seluruh penduduk Madinah yang terdiri atas pasukan Islam, anak-anak, wanita, serta orang lanjut usia.

Merasa memiliki pasukan yang tak tertandingi itu, rencana penyerangan ke jantung pasukan Islam di Madinah pun ditentukan. Namun, rencana tersebut terendus Rasulullah melalui kabar dari shahabat-shahabatnya.

ArtikelTerkait

7 Fakta Sosok Nabi Musa AS: Nabi Penyelamat Bani Israil

Bagaimana Cara Kerja Pembayaran QRIS dan Bagaimana Sejarahnya?

Abu Bakar: Cinta Sejati pada Rasulullah ﷺ yang Mengalahkan Segalanya

Fatimah Tidak Izinkan Abu Bakar Masuk ke Dalam Rumah, tanpa Izin Suami

BACA JUGA: Istri-Istri Nabi Cemburu dengan yang Didapatkan Aisyah

Rasulullah SAW segera mengumpulkan para sahabatnya untuk meminta pendapat mereka soal serangan kaum nonMuslim yang diberi sandi perang Ahzab itu. Salman Al-Farisi, sahabat Nabi asal Persia, mengusulkan, yang kemudian diterima, pembuatan parit-parit sebagaimana dilakukan bangsa Persia menghadapi perang besar.

Seluruh anggota pasukan Islam bahu-membahu dan bekerja keras menggali parit. Selama 6 hari mereka akhirnya dapat membentengi diri dengan parit-parit di selaga penjuru kota Madinah.

Di saat kesiapan dan kesiagaan pasukan Islam menggema, kelompok Yahudi Bani Quraidhah yang tinggal di Madinah bersikap arogan. Mereka dengan congkak merobek isi perjanjian damai yang pernah diteken dengan Rasulullah. Mereka bahkan bersiap-siap memebantu pasukan Ahzab untuk menghabisi Rasulullah beserta pengikutnya. Terang saja pasukan Islam bertambah bebannya, dengan musuh yang tinggal di dalam (Madinah).

Pasukan kafir terperangah begitu menyaksikan bentangan parit yang menghalangi gerak laju mereka. Sebab, baru kali itu mereka mendapati perang dengan strategi yang di luar kebiasaan bangsa Arab. Berkali-kali mereka berusaha menerobos parit, tetapi gagal. Dengan pertolongan Allah–melalui “pasukan” badah dahsyat–pasukan Ahzab kocar-kacir dan kembali ke daerah kabilah mereka masing-masing….

Tiga kelompok Yahudi yang bersekutu dengan pasukan Ahzab termasuk yang menderita kekalahan. Meski menanggung rasa bersalah mereka pada akhirnya kembali ke Madinah karena memiliki sanak famili dan tanah pertanian di sana.

Ketiga kelompok turunan Yahudi adalah Bani Qainuqa, Bani Nadhir, dan Bani Quraidhah. Dengan mereka inilah Nabi SAW mengikat perjanjian untuk tidak saling mengganggu. Perjanjian ini diteken demi menciptakan suasana rukun dan damai antarkelompok untuk bisa hidup berdampingan di Madinah.

Bergabungnya ketiga kabilah Yahudi tersebut membuat renggang hubungan dengan kaum Muslimin. Kabilah Yahudi telah melakukan pengkhianatan dan pelanggaran terhadap kesepakatan. Atas tindakan mereka berkhianat ini, pasukan Islam “mengganjarnya” pengusiran kabilah Bani Qainuqa dan Bani Nadhir dari Madinah.

Sedangkan Bani Quraidhah yang dengan lancang merobek-robek naskah perjanjian damai, mendapatkan hukuman yang berat. Rasulullah SAW melalui petunjuk Allah SWT memerintahkan untuk mengepung dan menyerang perkampungan Bani Quraidhah.

Persiapan penyerangan itu pun dengan sigap dipenuhi. Pasukan Islam yang dipimpin Saad bin Mu’adz–pemimpin Bani Aus yang dulu menjadi sekutu dekat Bani Quraidhah–siap-siap berangkat. Dalam pesan pemberangkatan Rasulullah SAW bersabda, “Tak seorang pun boleh melakukan shalat Ashar kecuali di Bani Quraidhah.”

Siang itu pun pasukan Islam dengan penuh semangat jihad berangkat ke perkampungan Bani Quraidhah. Derap kuda menerbangkan debu-debu pasir hingga kiloan meter.

Lokasi yang dituju memang cukup jauh sehingga sebagian shahabat ada yang menduga hingga matahari tenggelam bisa jadi pasukan belum tiba di tempat tujuan.

BACA JUGA: Cinta Nabi untuk Usamah bin Zaid

Waktu shalat Ashar tiba. Pasukan Islam baru sampai separuh perjalanan. Pesan Rasulullah masih terngiang di benar tiap-tiap jundi (tentara). Dengan mempercepat laju kuda mereka berharap segera tiba di tujuan. Karena jaraknya terasa masih jauh, sebagian anggota pasukan tiba-tiba berinisiatif melakukan shalat Ashar. Setelah bertayamum mereka pun melaksanakannya. Sebagian anggota pasukan lainnya tetap melanjutkan perjalanan.

Sinar matahari dengan lembayung senjanya sudah nampak mendekati ujung barat bumi. Pasukan yang belum menunaikan shalat Ashar itu sudah harap-harap cemas. Tapi, “bau” kampung Bani Quraidhah sudah tercium. Hingga mereka tiba sebelum Maghrib. Tanpa perlawanan yang berarti karena posisi yang terjepit dan mental yang telah melemah, pasukan bani Quraidhah mendapat hukuman setimpal akibat pengkhianatan itu.

Kembali ke Madinah dengan membawa kemenangan besar, pasukan Islam mengadukan perihal implementasi perintah Rasul yang berbeda. Setelah terdiam sejenak, Rasulullah SAW bersabda, “Anda benar; Anda juga benar.”

Mendengar sabda mulia nan bijak itu, seluruh shahabat merasa tenteram. Lebih-lebih Rasulullah SAW sendiri bahagia karena meski berbeda pendapat, para shahabat tetap taat dan tidak berpecah belah. []

Sumber: Majalah SAKSI]

Tags: bani quraidhah
ADVERTISEMENT
Previous Post

Sekarang, Cepatlah Engkau Makan

Next Post

Inilah 4 Gaya Alquran Sampaikan Pesan

Saad Saefullah

Saad Saefullah

Lelaki. Tidak terkenal. Menyukai kisah-kisah Nabi dan Para Sahabat.

Related Posts

pasukan nabi isa, pemuda, nabi ibrahim, nabi musa

7 Fakta Sosok Nabi Musa AS: Nabi Penyelamat Bani Israil

7 Juli 2025
QRIS

Bagaimana Cara Kerja Pembayaran QRIS dan Bagaimana Sejarahnya?

30 Juni 2025
Ibnu Abbas, Bani Israil, Abu Bakar

Abu Bakar: Cinta Sejati pada Rasulullah ﷺ yang Mengalahkan Segalanya

27 Juni 2025
Penjagaan Allah terhadap Nabi, Abu Bakar

Fatimah Tidak Izinkan Abu Bakar Masuk ke Dalam Rumah, tanpa Izin Suami

12 Juni 2025
Please login to join discussion

Tulisan Terbaru

Melakukan Perubahan, sifat jujur, orang yang meninggalkan shalat, istidraj, FITNAH, SYAHWAT, maksiat, bunuh diri, dosa, maksiat, taubat

5 Alasan Jangan Mengungkit Dosa Masa Lalu Seseorang yang Sudah Bertaubat

by Yudi
14 Juli 2025
0

agar tidak mengulangi dosa, mengganti shalat wajib, dosa jariyah, mandi, dosa, shalat

Jangan Tinggalkan Shalat Meski Badan Kotor saat Kerja, Tidak Semua Kotor Itu Najis

by Yudi
14 Juli 2025
0

Senin

Jangan Lagi Bilang “Nggak Suka Senin!”

by Dini Koswarini
14 Juli 2025
0

Cerai, Sebab Zina Dilarang dalam Islam, zina, Penyebab Lelaki Selingkuh, Talak

Talak: Halal yang Dibenci, Senjata Iblis untuk Memecah Belah

by Saad Saefullah
13 Juli 2025
0

Laporan Donasi Islampos Juli 2025: Alhamdulillah, Sudah Terkumpul Rp2.390.999!

by Saad Saefullah
13 Juli 2025
0

Terpopuler

No Content Available
Facebook Twitter Youtube Pinterest Telegram

© 2022 islampos - Membuka, Menginspirasi, Free to Share.

No Result
View All Result
  • Home
  • Beginner
  • Tahukah
  • Sirah
  • Renungan
  • Muslimbiz
    • Muslimtrip
  • Berita
  • Cari

© 2022 islampos - Membuka, Menginspirasi, Free to Share.