islampos
Media islam generasi baru

Panen di Musim Kemarau

0

Oleh: Eko Jun

APA yang ada di sekitar kita seringkali memberikan gambaran menakjubkan, andai kita mau mentadaburi. Contoh mudah adalah apa yang terjadi di sawah dan ladang para petani. Keajaiban sunatulloh yang sering luput dari perhatian kita.

Pertama, Hidupnya Bumi
Dulu iblis mengklaim bahwa api lebih mulia dari tanah, sehingga dia tidak mau sujud (hormat) kepada Adam. Padahal sebenarnya tanah itu lebih baik daripada api. Karena tanah menjadi sumber penghidupan bagi manusia, hewan dan tumbuhan sedangkan api hanya bisa membakar.

Tanah “hidup” dengan air. Saat musim kering kemarau panjang, tanah jadi “mati” dan tidak bisa memberikan daya dukung kehidupan. Dengan siraman air dan hujan, tanah kembali hidup. Hm,… mudah sekali Allah menghidupkan makhlukNya dari kematian. Jadi, tidak layak jika kita masih meragukan adanya hari kebangkitan kelak.

Kedua, Produktivitas Alam
Panen di masa air melimpah, itu sih biasa. Tapi panen di musim kemarau, itu sungguh luar biasa. Alam sungguh produktif, bergantung sejauh mana kita bisa berkreasi untuk mengolahnya. Musim kemarau, sawah tidak bs ditanani padi. Akhirnya dijadikan ladang untuk semangka. Ajaib, tanah yang kering bisa menghasilkan buah yang kandungan airnya sangat tinggi.

Peristiwa ini sangat menakjubkan. Bagiku, ini seperti nabi Ibrahim As dan nabi Zakaria As yang sudah “kering” tapi masih bisa mendapatkan keturunan. Atau, seperti Khadijah yang menikah dengan Nabi Muhammad SAW di usia 40 tahun tapi masih bisa melahirkan 6 anak. Ini masalah ikhtiar dan doa.

Khatimah
Beberapa tahun belakangan, kita menghadapi fenomena alam yang cukup ekstrem di tingkat global. Kekeringan, angin topan, badai dll yg berujung bencana. Umumnya kita masih berkutat pada program siaga bencana, belum melangkah pada pemanfaatan atas kondisi ekstrem itu. Kondisi ekstrim tentu menuntut solusi yg ekstrim pula.

Hampir segala bencana ada di Indonesia. Mulai dari tsunami sampai kabut asap. Mungkin ini hukuman, bisa jadi ujian. Tapi, mengapa kita jarang menganggap bahwa ini adalah kondisi prasyarat lahirnya manusia – manusia kreatif? Bukankah Jepang tampil menjadi penguasa teknologi karena kondisi alamnya yang “tidak bersahabat”?

Para petani sdh memberikan contoh bersahabat dengan alam dalam berbagai kondisi. Tiba saatnya bagi kita untuk melakukan hal yg sama. Selamat mencoba. []

 

loading...
loading...