• Home
  • Disclaimer
  • Iklan
  • Redaksi
  • Donasi
  • Copyright
Sabtu, 13 Desember 2025
Islampos
  • Home
  • Beginner
  • Tahukah
  • Sirah
  • Renungan
  • Muslimbiz
    • Muslimtrip
  • Berita
  • Cari
Tidak ada Hasil
View All Result
  • Home
  • Beginner
  • Tahukah
  • Sirah
  • Renungan
  • Muslimbiz
    • Muslimtrip
  • Berita
  • Cari
Tidak ada Hasil
View All Result
Tidak ada Hasil
View All Result
Islampos
Home Fiksi

Nelangsa

Oleh Rifki M Firdaus
8 tahun lalu
in Fiksi
Waktu Baca: 2 menit baca
A A
0
Foto: Duapah.com

Foto: Duapah.com

234
BAGIKAN

Oleh: Mawar Dani
Pegiat tulis berdomisili di Asahan

 

BERWAJAH manis, sudah selesai kuliah ditambah berasal dari keluarga terpandang. Wanita mana yang tidak kepincut dengannya. Begitupun aku. Meski tidak bisa disebut sering namun pertemuan itu rutin dilakukan dalam arisan keluarga.

Kami anak-anak yang berasal dari orangtua yang menjabat sebagai kepala seksi di sebuah instansi pemerintahan. Untuk tetap menjalin ukhuwah maka arisan keluarga yang rutin diadakan tiap awal bulan menjadi pilihan agar hubungan tetap terjalin dengan baik.

ArtikelTerkait

Tapi Ini Tanah Kami, Meski Duka dan Mati Tertanam di Sini

Hidup Itu Seperti UAP… Puisi Terakhir WS Rendra

Suamiku Mantan Majikanku

Gadis Cantik Sebagai Anugerah Tuhan

Aku single begitupun dia. Sering bertemu tanpa membawa pasangan masing-masing sehingga semacam jembatan yang menghubungkan dua hati bersatu.

Babak Baru Dalam Hidupku
Keakraban itu ternyata dapat dicium oleh orangtua kami. Keluarganya sebagai pihak pria lebih dahulu mengutarakan ini. Me-ni-kah. Tujuh bulan rasanya sudah cukup melihat kekompakan kami tiap kali bertemu.

Sebagai wanita, apa yang aku tunggu. Dia dan keluarganya dari keturunan yang baik-baik, terlebih ayahku yang sudah sangat kental bersahabat dengan ayahnya.

Perencanaan berjalan mulus. Pesta pernikahan yang cukup mewah. Hajatan orang yang berkuku seperti magnet yang menarik setiap undangan untuk mengharuskan dirinya hadir di sana; begitu istilah mereka.
Ini dunia mimpiku. Menikah di usia dua puluh tiga saat telah selesai kuliah. Menikah dengan seorang lelaki dari keluarga terpelajar. Sempurna; mungkin.

Seminggu resmi menyandang status sebagai seorang istri, aku langsung diboyong ke rumah yang telah disediakan orangtuanya. Masih dalam bayangan bahagia, ini pertanda baik karena aku tidak mengalami masa menikmati pondok mertua indah. Di samping itu, percekcokan dengan ipar perempuan pasti bisa dihindari.

Masalah Kemudian Muncul
Aku tahu jika suami bekerja sebagai wiraswasta. Punya usaha kecil-kecilan yakni toko sembako. Aku tak pernah menuntut dia untuk menjadi PNS seperti kedua orangtua kami yang berstatus abdi Negara. Menjadi bos bagi diri sendiri adalah pilihan tepat.

Lima bulan berlalu …

Suami yang kukenal penuh tanggung jawab kini mulai berubah. Sering main bersama temannya walau pun sekedar nongkrong di simpang jalan. Mungkinkah karena kami tinggal di sebuah perkampungan sehingga tertular dengan kebiasaan pemuda yang tidak punya aktivitas? Entahlah.

Toko menjadi terabaikan, sementara aku sudah mengandung buah cinta kami. Tentu ini menjadi beban buatku di tengah kondisi berbadan dua. Pilu dan menyedihkan. Kelakuan suami yang kembali seperti remaja membawaku pada suatu kenyataan hidup entah apa aku pantas menyebutnya. Jatah belanja bulanan pun beralih tanggung jawab pada mertua. Setiap minggu aku menerima sekian ratus ribu untuk memenuhi kebutuhan hidup termasuk nutrisi bagi si jabang bayi. Aku malu!

Aku memahami kalau selama ini mertua tak pernah berat hati menanggung semuanya. Entah karena anak yang kukandung berjenis kelamin laki-laki seperti yang dibanggakannya akan menjadi penerus marga ataukah memang benar sayang kepadaku yang bukan dianggap sebagai menantu melainkan seperti anak sendiri. Entahlah.

Malaikat kecilku
Wajah mungil itu mampu meluluhkan segala kesedihan yang selama ini kupendam. Tangisnya yang membangunkan malam panjangku menjadi cerita tersendiri sebagai wanita dengan status baru; ibu.

Aku lebih memilih melahirkan Azzam di rumah orangtuaku. Meski malu karena lagi-lagi biaya itu bukan ditanggung suami, tapi aku lebih tenang. Bagaimana pun orangtuaku pasti lebih tulus mengasihi.

Doaku memang terkabul tapi terlupa akan satu hal, aku lupa meminta suami yang bertanggung jawab. Kupandangi seluruh bagian tubuh anaknya, semua lengkap dan sempurna. Itu caraku mensyukuri hidup ketika semua seakan mengecewakan. Mendekap hangat jagoan dan separuh hidupku.

“Jadilah lelaki yang bertekad kuat mengemban tanggung jawab keluarga, Nak,” bisikku setiap waktu. Semoga menjadi doa yang ma’bul.

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan ditanya tentang orang-orang yang dipimpinnya,” (HR Bukhari & Muslim). []

Tags: cerpenmuslimahNelangsawanita
Share234SendShareTweetShareScan
ADVERTISEMENT
Previous Post

Ini 4 Hal yang Tidak Boleh Diketahui Anak

Next Post

Keutamaan Berjilbab, Rugi Jika Dilepas

Rifki M Firdaus

Rifki M Firdaus

Terkait Posts

Palestina, Semangka, tanah, Pelajaran dari Gaza, Palestina, Palestina

Tapi Ini Tanah Kami, Meski Duka dan Mati Tertanam di Sini

6 November 2023
Hadits tentang Sabar, Konsultasi Kesehatan, Puisi Terakhir WS Rendra

Hidup Itu Seperti UAP… Puisi Terakhir WS Rendra

10 Oktober 2023
KDRT, Balasan bagi Orang yang Suka Memaki dan Menyakiti Orang Lain, Suamiku

Suamiku Mantan Majikanku

17 Agustus 2023
cantik, Rukun Islam, Amal Penghapus Dosa

Gadis Cantik Sebagai Anugerah Tuhan

9 Maret 2023
Please login to join discussion

Tulisan Terbaru

Melakukan Perubahan, sifat jujur, orang yang meninggalkan shalat, istidraj, FITNAH, SYAHWAT, maksiat, bunuh diri, dosa, maksiat, taubat

5 Alasan Jangan Mengungkit Dosa Masa Lalu Seseorang yang Sudah Bertaubat

Oleh Yudi
14 Juli 2025
0

agar tidak mengulangi dosa, mengganti shalat wajib, dosa jariyah, mandi, dosa, shalat

Jangan Tinggalkan Shalat Meski Badan Kotor saat Kerja, Tidak Semua Kotor Itu Najis

Oleh Yudi
14 Juli 2025
0

Senin

Jangan Lagi Bilang “Nggak Suka Senin!”

Oleh Dini Koswarini
14 Juli 2025
0

Cerai, Sebab Zina Dilarang dalam Islam, zina, Penyebab Lelaki Selingkuh, Talak

Talak: Halal yang Dibenci, Senjata Iblis untuk Memecah Belah

Oleh Saad Saefullah
13 Juli 2025
0

Laporan Donasi Islampos Juli 2025: Alhamdulillah, Sudah Terkumpul Rp2.390.999! 1

Laporan Donasi Islampos Juli 2025: Alhamdulillah, Sudah Terkumpul Rp2.390.999!

Oleh Saad Saefullah
13 Juli 2025
0

Terpopuler

12 Ayat Al-Quran tentang Istiqamah, Dapat Memotivasi Kita

Oleh Sufyan Jawas
31 Oktober 2021
0
Hadist Nabi Tentang Ikhlas

ayat Al-Quran Tentang Istiqamah

Lihat LebihDetails

85 Motto Hidup dari Kutipan Ayat Alquran

Oleh Eneng Susanti
17 Januari 2023
0
motto hidup ayat Alquran, cara menjadikan Al-Qur'an sebagai penyembuh

SAHABAT mulia Islampos, ada banyak pelajaran dan hikmah yang bisa dipetik dari Alquran. Banyak pula kutipan ayat Alquran yang bisa...

Lihat LebihDetails

Berikut 7 Ayat Al-Quran tentang Masjid

Oleh Sufyan Jawas
1 November 2021
0
Ayat Al-quran tentang masjid

Saking pentingnya dalam kehidupan seorang Muslim, ada beberapa ayat Al-Quran tentang masjid. 

Lihat LebihDetails

MasyaAllah, Inilah 124 Nama Sahabiyat untuk Bayi Perempuan beserta Artinya

Oleh Haura Nurbani
24 Agustus 2023
0
Hukum Mengubur Ari-ari Bayi, Fakta Bayi Baru Lahir, ASI, ciri bayi cerdas, nama, Nama Anak Perempuan, Hukum Bayi Tabung dalam Islam, Doa ketika Melahirkan

Nama Sahabiyat adalah nama wanita-wanita agung yang dikaitkan dengan Nabi Muhammad dalam menyebarkan Islam bersamanya.

Lihat LebihDetails

Bait-bait syair Imam Syafi’i yang Menyentuh dan Menggetarkan Jiwa

Oleh Dini Koswarini
26 Oktober 2022
0
Penilaian Manusia, Muhasabah, Imam Syafi'i, ujian, akad

Inilah Bait-bait syair Imam Syafi’i rahimahullah yang bisa kita jadikan sebagai keteladanan di saat kondisi seperti sekarang ini.

Lihat LebihDetails
Facebook Twitter Youtube Pinterest Telegram

© 2022 islampos - Membuka, Menginspirasi, Free to Share.

Tidak ada Hasil
View All Result
  • Home
  • Beginner
  • Tahukah
  • Sirah
  • Renungan
  • Muslimbiz
    • Muslimtrip
  • Berita
  • Cari

© 2022 islampos - Membuka, Menginspirasi, Free to Share.