MENGAPA engkau laki-laki tidak mau shalat berjamaah ke masjid?
Wahai laki-laki…
Engkau sehat, kakimu kuat, matamu terang, telingamu tajam.
Engkau tinggal hanya beberapa langkah dari masjid, bahkan azan terdengar lebih keras dari suara notifikasi ponselmu.
Waktumu lapang, engkau sempat berselancar di media sosial berjam-jam, sempat nongkrong berlama-lama, sempat menonton pertandingan bola sampai larut malam.
Lalu… mengapa engkau masih enggan melangkahkan kaki ke masjid untuk shalat berjamaah?
Apakah masjid itu begitu jauh untukmu?
Apakah panggilan azan itu tidak menyentuh hatimu?
Ataukah hatimu sudah terlalu keras untuk digerakkan oleh seruan Allah?
BACA JUGA: Wahai Jiwa, Mengapa Engkau Enggan Sedekah?
Padahal Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa mendengar azan, lalu tidak mendatanginya (masjid), maka tidak ada shalat baginya kecuali jika ada uzur.” (HR. Ibnu Majah dan ad-Daruquthni. Dihasankan oleh Al-Albani)
Imam Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma ketika ditanya tentang makna “udzur” dalam hadist ini, beliau menjawab:
“Yakni rasa takut atau sakit.” (HR. Abu Dawud)
Lihatlah bagaimana sahabat-sahabat Rasul ﷺ memahami pentingnya shalat berjamaah di masjid. Mereka tidak menjadikan alasan yang ringan sebagai pembenaran untuk meninggalkannya. Bahkan, ketika hujan deras atau kondisi sulit, mereka tetap berusaha hadir ke masjid.
Imam Al-Auza’i rahimahullah berkata: “Tidak ada shalat bagi orang yang tinggal di dekat masjid kecuali di masjid.” (Siyar A’lām an-Nubalā’)
Apakah engkau merasa lebih tahu dari para sahabat? Lebih bijak dari para ulama salaf? Atau lebih sibuk dari Rasulullah ﷺ yang dalam keadaan sakit berat pun tetap shalat berjamaah dengan dipapah?
Wahai laki-laki…
Masjid adalah rumah Allah.
Di sanalah jiwa-jiwa dibersihkan, dada dilapangkan, hati dikuatkan.
Engkau menolak datang ke tempat yang Allah cintai, namun ringan untuk datang ke tempat-tempat hiburan yang melalaikan.
Shalat berjamaah bukan sekadar rutinitas, ia adalah bentuk ketaatan yang tinggi. Ia adalah syiar Islam, bukti keimanan dan kejujuran dalam mengakui keesaan Allah.
Dengarkanlah sabda Rasulullah ﷺ yang begitu tegas: “Sungguh aku ingin memerintahkan seseorang untuk mengimami shalat, lalu aku pergi bersama beberapa orang membawa kayu bakar menuju suatu kaum yang tidak menghadiri shalat berjamaah, lalu aku bakar rumah-rumah mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Itulah murka Nabi ﷺ terhadap laki-laki yang tidak datang ke masjid padahal mampu. Bukankah ini cukup membuatmu gemetar? Bukankah ini menunjukkan betapa besarnya dosa meninggalkan shalat berjamaah tanpa uzur?
Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata: “Tidak ada bagian dalam Islam bagi siapa saja yang meninggalkan shalat berjamaah di masjid.” (Mukhtashar Qiyām al-Lail li al-Marwazī)
Wahai laki-laki…
Kalau bukan engkau yang memakmurkan masjid, lalu siapa?
Kalau engkau tidak menjadi teladan bagi anak-anakmu untuk shalat berjamaah, siapa lagi?
Kalau engkau terus menunda-nunda untuk taat, apa yang akan engkau bawa menghadap Allah nanti?
Bayangkan saat maut menjemputmu…
Engkau tidak akan ditanya berapa banyak uangmu, berapa followers-mu, berapa gelar akademismu.
Engkau akan ditanya tentang shalatmu.
Apakah engkau menjaganya? Apakah engkau mendirikannya bersama orang-orang beriman?
Saudaraku…
Bangkitlah.
Tanggalkan malasmu. Lawan rasa enggan itu.
Jangan biarkan dirimu menjadi laki-laki yang gagah di dunia, tapi lemah di hadapan panggilan Allah.
Buktikan keimananmu dengan langkah ke masjid.
Setiap langkahmu akan menghapus dosa dan mengangkat derajatmu.
BACA JUGA: Mengapa Engkau Tidak Shalat, Wahai Abi?
Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa bersuci di rumahnya, lalu berjalan ke salah satu rumah Allah untuk menunaikan kewajiban dari kewajiban Allah, maka setiap langkahnya akan menghapuskan satu dosa dan mengangkatnya satu derajat.” (HR. Muslim)
Tidakkah engkau rindu pada kemuliaan seperti itu?
Tidakkah engkau ingin menjadi laki-laki sejati—yang Allah sebut dalam Al-Qur’an:
“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat…” (QS. An-Nur: 37)
Wahai laki-laki…
Bukan waktunya lagi untuk beralasan.
Masjid memanggilmu. Allah menunggumu.
Langkahkan kakimu. Sebelum kakimu tak bisa lagi melangkah. []









