islampos
Media islam generasi baru

Mending Mana Abu Nawas, Dosa Besar atau Dosa Kecil?

Foto: Weber
0

ALKISAH, tiga orang mendatangi Abu Nawas. Salah satu dari mereka kemudian bertanya, “Wahai Abu Nawas, manakah yang lebih utama. Orang yang melakukan dosa-dosa besar atau orang yang melakukan dosa-dosa kecil?”

“Orang yang melakukan dosa-dosa kecil,” jawab Abu Nawas.

“Mengapa?” Tanya orang itu penasaran.

“Sebab lebih mudah diampuni oleh Tuhan,” jelas Abu Nawas. Orang pertama puas karena ia meyakini hal itu.

Kemudian orang kedua bertanya dengan pertanyaan yang sama. “Wahai Abu Nawas, manakah yang lebih utama. Orang yang melakukan dosa-dosa besar atau orang yang melakukan dosa-dosa kecil?”

“Orang yang tidak melakukan keduanya,” jawab Abu Nawas.

“Mengapa?”

“Dengan tidak melakukan keduanya, tentu tidak memerlukan pengampunan dari Tuhan,” jelas Abu Nawas. Orang kedua langsung bisa mencerna dan memahami jawaban Abu Nawas itu.

Orang ketiga pun bertanya dengan pertanyaan yang sama persis. “Wahai Abu Nawas, manakah yang lebih utama. Orang yang melakukan dosa-dosa besar atau orang yang melakukan dosa-dosa kecil?”

“Orang yang melakukan dosa-dosa besar,” tegas Abu Nawas.

“Mengapa?”

“Sebab pengampunan Allah kepada hambaNya sebanding dengan besarnya dosa hamba itu,” jawab Abu Nawas.

Lainnya dari Kategori ini
1 of 246

Bingung dengan penjelasan sang guru, seorang murid Abu Nawas kemudian bertanya, “Mengapa dengan pertanyaan yang sama bisa menghasilkan jawaban yang berbeda?”

“Manusia itu dibagi tiga tingkatan, tingkatan mata, otak, dan hati,” jelas Abu Nawas.

“Apakah tingkatan mata itu?” tanya murid Abu Nawas.

“Anak kecil yang melihat bintang dilangit, ia mengatakan bintang itu kecil karena ia hanya menggunakan mata.”

“Orang pandai yang melihat bintang, ia mengatakan bintang itu besar karena ia memiliki pengetahuan.” jawab Abu Nawas.

“Orang pandai dan mengerti yang melihat bintang di langit. Ia akan tetap mengatakan bintang itu kecil, walaupun tahu bintang itu besar. Karena bagi orang yang mengerti tidak ada sesuatu apapun yang besar, melainkan dengan ke Maha Besaran Allah.”

Kini murid Abu Nawas mulai mengerti mengapa pertanyaan yang sama bisa menghasilkan jawaban yang berbeda. []