• Home
  • Disclaimer
  • Iklan
  • Redaksi
  • Donasi
  • Copyright
Jumat, 6 November 2026
Islampos
  • Home
  • Beginner
  • Tahukah
  • Sirah
  • Renungan
  • Muslimbiz
    • Muslimtrip
  • Berita
  • Cari
No Result
View All Result
  • Home
  • Beginner
  • Tahukah
  • Sirah
  • Renungan
  • Muslimbiz
    • Muslimtrip
  • Berita
  • Cari
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Islampos
[adinserter block="1"] [adinserter block="17"]

Melihat Konsep Kesejahteraan Ekonomi Menurut Imam Asy – Syaibani

by Saad Saefullah
8 tahun ago
in Kolom
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Foto: Pinterest

Foto: Pinterest

[adinserter block="3"] [adinserter block="19"]

ABU Abdillah Muhammad bin al-Hasan bin Farqad Asy-Syaibani lahir pada tahun 132 H (750 M) di kota Wasith, ibukota Irak pada masa akhir pemerintahan Bani Umawiyyah dan Wafat tahun 189 H (804 M). Imam Asy-Syaibani yang baru berusia 14 tahun berguru kepada Abu Hanifah selama 4 tahun, yakni sampai nama yang terakhir meninggal dunia.

Setelah itu, ia berguru pada Abu Yusuf, salah seorang murid terkemuka dan pengganti Abu Hanifah, hingga keduanya tercatat sebagai penyebar mazhab Hanafi. Dan belajar kitab al-Muwatta pada Malik bin Anas.
Secara finansial, ia tampaknya telah kaya. Warisan dari ayahnya dikatakan sekitar 30.000 dirham, sebagian besar telah dihabiskan untuk digunakan pendidikan (Arnoos, 1986).

Hal ini tampaknya telah tercermin dalam pandangannya seperti yang ditunjukkan dalam bukunya. Tapi kekayaan ini tidak menyebabkan kesombongan. Kita melihat Dia menekankan dalam bukunya bahwa orang kaya membutuhkan orang miskin sebagai miskin membutuhkan orang kaya

Imam Asy – Syaibani sering berinteraksi dengan ulama ahlul ra’yi dan hadits dan karena keluasan pendidikannya sehingga Syaibani mampu mengkombinasikan antara aliran ra’yu di irak dengan hadits di Madinah.

ArtikelTerkait

Jangan Lagi Bilang “Nggak Suka Senin!”

Tentara yang Diperas oleh Negaranya Sendiri

Firaun Tak Kalahkan Musa, Netanyahu Takkan Kalahkan Gaza

Dari Era Pra Hijrah ke Gaza: Warisan Generasi Progresif dalam Menolak Ketidakadilan

Setelah abu Yusuf meninggal beliau diminta oleh khalifah Harun Al-Rasyid untuk menggantikan abu Yusuf sebagai qadhi di kota Riqqah (Irak). Namun hanya berlangsung singkat. Sehingga beliau mengundurkan diri untuk lebih konsentrasi pada pengajaran dan penulisan fikih. Imam asy-Syaibani meninggal pada tahun 189 H (804 M) di kota al-Ray dekat Teheran (Iran).

BACA JUGA: Kisah Ilmuwan Muslim yang Dituding Lakukan Sihir

Di masa kepemimpinan beliau, perekonomian islam berkembang secara signifikan . Imam Asy-Syaibani mengatakan bahwa sesungguhnya Allah menciptakan anak-anak Adam sebagai suatu ciptaan yang tubuhnya tidak akan dapat hidup kecuali dengan empat perkara, yaitu : makan, minum, pakaian, dan tempat tinggal.

Para ekonom yang lain mengatakan bahwa keempat hal ini adalah tema ilmu ekonomi. Jika keempat hal tersebut tidak pernah diusahakan untuk dipenuhi, ia tidak akan meraskan kesejahteraan karena manusia tidak akan dapat hidup tanpa keempat hal tersebut. Imam Asy-Shaybani mengatakan bahwa kasb merupakan kewajiban pada analogi mencari pengetahuan artinya diperlukan untuk pembagian kerja.

Imam Asy-Syaibani mengungkapkan bahwa untuk mencapai kesejahteraan ekonomi dibutuhkan saling membantu dan mendekatkan diri pada Allah adalah zakat dan sedeqah. Dan untuk mencari nafkah ada empat cara dasar yaitu: menyewa tenaga kerja, perdagangan, pertanian, dan kerajinan.

Pengungkapan tersebut juga dijelaskan oleh imam Asy-Syaibani. Pertama, Pertanian lebih berjasa daripada perdagangan, dikatakan bahwa pertanian karena manfaatnya yg dirasakan masyarakat banyak (dengan beras sebagai bahan makanan pokok). Kedua, pertanian dan kegiatan turunan, adalah penyedia utama kebutuhan makhluk hidup lainnya, burung dan hewan, yang dapat dimakan atau sebaliknya. Ketiga, sebagai bahan baku. Keempat, pertanian menyediakan sumber untuk zakat dari dalam sebagai sedekah wajib, seperti zakat, pada pertanian ditetapkan dalam Qur ‘an. 

BACA JUGA: Ekonomi Islam untuk Kemaslahatan Dunia Akhirat

Jika kita melihat dari bagaimana dengan pertumbuhan perekonomian sekarang, sangat memungkinkan untuk bisa meniru konsep yang telah diterapkan di masa Imam Asy-Syaibani. Dengan mengedepankan sektor pertanian merupakan solusi terbaik untuk mengembangkan perekonomian di negara agrarian seperti Indonesia.

Didukung penduduk Indonesia yang 80% merupakan mayoritas beragama islam, sangat memungkinkan untuk mencapai kesejahteraan ekonomi dengan berzakat dan sedekah sebagaimana yang telah diajarkan oleh rasulullah saw dan dikembangkan di masa imam Asy-Syaibani. 

Wallahu a’lam bishawab. []

Tags: Kolom Mahasiswa
ADVERTISEMENT
Previous Post

Pernahkah Anda Takut Mati?

Next Post

Kirim Pahala Menurut Imam Ahmad Bin Hambal

Saad Saefullah

Saad Saefullah

Lelaki. Tidak terkenal. Menyukai kisah-kisah Nabi dan Para Sahabat.

Related Posts

Senin

Jangan Lagi Bilang “Nggak Suka Senin!”

14 Juli 2025
Israel, Yahudi, Gaza, Tentara

Tentara yang Diperas oleh Negaranya Sendiri

10 Juli 2025
Firaun, Benjamin Netanyahu

Firaun Tak Kalahkan Musa, Netanyahu Takkan Kalahkan Gaza

9 Juli 2025
Gaza

Dari Era Pra Hijrah ke Gaza: Warisan Generasi Progresif dalam Menolak Ketidakadilan

8 Juli 2025
Please login to join discussion

Tulisan Terbaru

Melakukan Perubahan, sifat jujur, orang yang meninggalkan shalat, istidraj, FITNAH, SYAHWAT, maksiat, bunuh diri, dosa, maksiat, taubat

5 Alasan Jangan Mengungkit Dosa Masa Lalu Seseorang yang Sudah Bertaubat

by Yudi
14 Juli 2025
0

agar tidak mengulangi dosa, mengganti shalat wajib, dosa jariyah, mandi, dosa, shalat

Jangan Tinggalkan Shalat Meski Badan Kotor saat Kerja, Tidak Semua Kotor Itu Najis

by Yudi
14 Juli 2025
0

Senin

Jangan Lagi Bilang “Nggak Suka Senin!”

by Dini Koswarini
14 Juli 2025
0

Cerai, Sebab Zina Dilarang dalam Islam, zina, Penyebab Lelaki Selingkuh, Talak

Talak: Halal yang Dibenci, Senjata Iblis untuk Memecah Belah

by Saad Saefullah
13 Juli 2025
0

Laporan Donasi Islampos Juli 2025: Alhamdulillah, Sudah Terkumpul Rp2.390.999!

by Saad Saefullah
13 Juli 2025
0

Terpopuler

No Content Available
Facebook Twitter Youtube Pinterest Telegram

© 2022 islampos - Membuka, Menginspirasi, Free to Share.

No Result
View All Result
  • Home
  • Beginner
  • Tahukah
  • Sirah
  • Renungan
  • Muslimbiz
    • Muslimtrip
  • Berita
  • Cari

© 2022 islampos - Membuka, Menginspirasi, Free to Share.