Laki-laki Menikah Lagi Gak Perlu Izin Istri Tua kan? (2-Habis)

0

Oleh: Ernydar Irfan

AKU tersenyum. “Alhamdulillah ala kulli haal kalau banyak orang melihat begitu. Tapi percayalah, setiap pernikahan memiliki masalah dan ujiannya sendiri. Kalau kita melihat rumah tangga orang lain tenang dengan kebahagiaan yang menyilaukan, jangan lantas berpikir hidup mereka sempurna. Bisa jadi di balik itu, ujian dan prahara yang sedang mereka jalani berlipat dari apa yang kita jalani. Hanya saja mungkin mereka lebih pandai menyimpan dengan rapat ketimbang menceritakan apa yang mereka alami dengan orang lain,” kataku menghiburnya. “Gak mau coba lagi selesaikan dengan suamimu sebelum melangkah lebih jauh?” 

“Apa lagi yang mau dicoba, Er? Dia gak butuh aku…”  jawabnya gusar. “Sejak awal pernikahan, dia kurang menghargai aku, perhatianku, rasa cintaku. Buat dia pernikahan ini seperti melepas tanggung jawab sosial aja bahwa dia sudah menikah. Itu saja yang dia butuhkan. Dia butuh wanita yang bisa mengubah statusnya dan butuh punya keturunan sebagai bukti eksistensinya. Dia tidak suka aku telepon sekadar tanya, sudah makan belum, sudah shalat belum. Buat dia itu pertanyaan yang bodoh dan ngabisin waktunya aja.

“Atau aku sekadar cerita apa yang ku alami dan anak anak, menurut dia itu mengganggu jam kerjanya. Dia gak pernah komunikasikan jam berapa dia akan pulang ke rumah, hingga aku dan anak anak setiap hari menanti hingga lelah berharap. Jangan bilang kenapa gak telepon aja, karena buat dia ini seolah aku mengekang, aku cemburu, aku gak ngerti kesibukan dia. Jadi telepon dariku buat dia adalah hal yang jelek dan harus segera disudahi, sedang dia akan merasa nyaman bertelepon dengan teman sekolahnya, dengan keluarganya, dengan urusan -urusan lain.”

“Mungkin dia pikir di rumah bisa ngobrol,” kataku.

“Ngobrol di rumah? Tau, Er? Dia sampai rumah sudah jam 8 malam, kita semua sudah kelelahan dengan segala aktivitas, yang dia pegang remot teve dan hape. Gak berkumpul dan bergumul dengan anak anak. Kalau interaksi sama anak ngomongnya gak enak, kalau apa yang gak sesuai dengan dia di rumah mulutnya sinis nyakitin. Urusan rumah bocor, handle pintu rusak, lampu putus bisa berbulan-bulan dan kita sampai musti marah baru bergerak.

“Bukan cuma itu, kita sama sama punya penghasilan, gaji dia, dia pegang semua, dia kasih aku sesukanya aja… Dan segala kekurangan itu semua, aku yang penuhi. Kalaulah dia berpikir aku ini wanita yang selain cari penghasilan, waktuku pun terbatas harus urus rumah dan keluarga, manalah kakiku bebas melangkah?

“Tapi dia tidak perduli. Jadi jangankan dia mau manjakan aku di salon atau spa, memberikan fasilitas layaknya istri-istri orang selevel dia, untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga standar pantas pun musti aku yang turun tangan. Halooo… lalu apa gunanya laki-laki itu ada di rumah, Er? Jawab aku! Apa kamu masih berusaha mencari salah dan lemahku?” tanyanya sengit.

Aku tertawa, “Kok jelek amat sih prasangkanya sama aku, aku kan cuma berusaha netral…” kataku berusaha menenangkan.

“Aku udah capek dengan semua ini. Itu baru masalah di dalam. Belum masalah keluarganya yang bermulut busuk. Belum masalah anak anak karena sikap dia yang musti aku treatment. Aku juga berhak bahagia, Er,” kali ini tangisnya meledak.

Aku biarkan dia menumpahkan tangis dan kekesalannya… Aku cuma diam menatapnya iba.

Hingga aku berkata, “Setiap rumah tangga punya ujiannya sendiri. Banyak rumah tangga bertahan bukan karena saling cinta, tapi karena ingin memberikan suasana bertumbuh yang baik buat anak-anaknya. Cinta dalam rumah tangga memang perlu, tapi apa iya musti seperti ini akhirnya? Anak anak tidak pernah minta terlahir menjadi anak siapa dan dalam keluarga seperti apa, haruskah mereka menjadi korban atas alasan satu kata antara suami istri ‘cinta’, lalu mereka sendiri merasa tidak dicinta? Padahal mereka buah cinta kalian dulu.

“Aku tahu bersabar itu begitu melelahkan….. Aku tahu rasanya memijak bumi dengan hati perih itu menyakitkan. Aku tahu betapa ibadah dan amalan kita pun terganggu ketika masalah mendera. Aku gak menghakimi dirimu, atau suamimu, gak juga laki laki calon suamimu,” kucoba meyakininya.

“Tapi, ingatkah kamu dulu ketika sebelum menikah masa-masa itu punya impian manis dalam rumah tangga? Sekarang pun demikian. Kamu merasa masamu dengan calonmu juga punya impian manis, tapi pada kenyataannya nanti belumlah tentu.

“Pernikahan bukan cuma butuh perasaan tapi juga logika. Anakmu, istrinya, anaknya. Jika kamu melakukan dengan cara seperti ini, itu kamu merebut cinta mereka. Tapi kalau mereka yang bersedia berbagi, itu akan lain soal dan insya Allah membawa keberkahan buat semua. Itu jika kamu akan terus mengikuti langkah ini,” kataku.

“Apakah kamu tidak ada lagi keinginan mencoba memperbaiki lagi apa yang ada di dalam? Sekian tahun bersama dengan empat  anak… pasti ada masa masa indah. Kalau kamu bisa menumbuhkan rasa cinta pada orang yang sebelumnya tidak kamu kenal baik, kenapa enggak kamu tumbuhkan rasa cinta dengan lelaki yang kamu kenal betul kebaikan dan keburukannya? Karena sebelum kamu menikahi suamimu, kamu pun cuma mengenalnya baik tanpa tahu keburukannya kan? Sama dengan lelaki itu…

“Aku yakin jauh di lubuk hatimu yang dalam, masih ada cinta untuk suamimu… Istiqarah… serahkan semuanya pada Allah, kita cuma berhak menjalani,” aku berusaha mengingatkannya.

Tangis dan isak nya mereda….. diam… lalu hening.

“Kita tidak akan diuji dengan apa yang kita tidak mampu, tapi kita diuji sesuai batas kemampuan. Kita saja yang kurang sabar dan kurang bersyukur. Ketika rumah tanggamu baik baik saja, sudikah kamu seseorang hadir merebutnya? Atau pernahkan kamu bertanya apakah dalam hal ini terjadi pada dirimu kamu lebih memilih berbagi dari pada direbut? Pikirkan hal ini juga….

“Pernikahan suatu ibadah, maka mulailah semuanya dengan niat dan cara yang baik… Mungkin perjalanan yang berat ini terjadi karena niat dan cara kita memulai pernikahan ini ada yang kurang baik, intropeksi dulu, muhasabah dulu, mungkin ada yang tersakiti? Ada doa orang yang terdzalimi? Ada dosa besar? Direnungkan lagi… Karena semua yang diawali dengan tidak baik, jalannya pun tidak akan baik,” kataku berusaha mengingatkan lagi.

Setelah itu kami berpisah.

Kemarin aku ke rumah sakit, tanpa sengaja aku berjumpa dengannya. Masih dengan suaminya bergandengan tangan dengan mesra, berjalan sambil berbincang dan raut wajah bahagia. Dia Dia berteriak memanggilku, kami berperluk erat tanpa kata… Tapi aku tahu… Dia bahagia. []

HABIS

loading...
loading...
Langganan newsletter Kami
Langganan newsletter Kami
Daftar dan dapatkan informasi update dari Kami langsung ke Inbox e-mail Anda
Kamu dapat berhenti berlangganan kapanpun

Maaf Anda Sedang Offline