• Home
  • Disclaimer
  • Iklan
  • Redaksi
  • Donasi
  • Copyright
Minggu, 5 April 2026
Social icon element need JNews Essential plugin to be activated.
Islampos
  • Home
  • Beginner
  • Tahukah
  • Sirah
  • Renungan
  • Muslimbiz
    • Muslimtrip
  • Berita
  • Cari
No Result
View All Result
  • Home
  • Beginner
  • Tahukah
  • Sirah
  • Renungan
  • Muslimbiz
    • Muslimtrip
  • Berita
  • Cari
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Islampos

Ketika Nabi Musa Berdoa Agar Dilepaskan Kekakuan Lidah

by Haura Nurbani
2 tahun ago
in Islam 4 Beginner
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Nabi Musa, Nabi Adam, Nabi Khidir, Imam Mahdi, Qabil dan Habil, Nabi Ibrahim

Foto: Pinterest. Hanya Ilustrasi.

NABI Musa berdoa yang tercantum dalam Surah Thaha (20) ayat 27:

وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّنْ لِّسَانِيْ ۙ

dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku

Para ulama bersilang pendapat tentang apa yang dimaksud dengan kekakuan dalam lisan Nabi Musa ini yaitu sebagai berikut:

ArtikelTerkait

Talak: Halal yang Dibenci, Senjata Iblis untuk Memecah Belah

7 Prinsip Utama dalam Kehidupan Seorang Muslim

Amalan Unggulan, Amalan Rahasia, dan Amalan yang Terus-Menerus

Tempat-Tempat Terlarang untuk Shalat, di Mana Saja?

Pertama, Nabi Musa memang mengalami kesulitan berbicara sejak lahir.

Kedua, sebagian ahli tafsir menyebutkan bahwa suatu ketika Musa pernah digendong oleh Fir’aun. Ketika dalam gendongannya, Musa pun memukul dan menarik jenggotnya.

BACA JUGA:  Nabi Musa dan Seseorang yang Beliau Tak Sabar Terhadapnya

Fir’aun lantas marah dan berkata pada istrinya, “Wahai istriku, lihatlah tingkah anak ini! Kecilnya saja sudah seperti ini. Kalau sudah dewasa pasti akan membunuhku!” Asiah pun menjawab, “Wahai Fir’aun, dia hanya anak kecil yang belum mengerti apa-apa. Ujilah ia jika kamu tidak percaya.”

Nabi Musa
Foto: Pinterest

Fir’aun pun benar-benar menguji ketidakmengertian Musa saat itu dengan menyodorkan batu permata dan bara api padanya. Musa kecil pun lebih tertarik pada nyala bara api, Ialu mengambilnya dan memakannya sehingga terbakarlah lidah beliau. Melihat itu, Fir’aun pun kembali tenang dan percaya bahwa Musa memang layaknya anak kecil seusianya yang belum mengerti apa-apa.

Riwayat ini sangatlah populer, tetapi ia tidak pernah diriwayatkan secara marfu dari Rasulullah ﷺ dan kemungkinan besar sumber kisah ini adalah kabar Israiliyyat. Kesahihan kisah di atas juga patut diragukan karena tidak disebutkan dalam ayat-ayat Al-Quran keterangan bahwa beliau adalah seorang yang gagap dalam berbicara.

Pendapat yang lebih kuat adalah bahwa kekakuan berbicara itu disebabkan oleh ketakutannya menghadapi Fir’aun. Sebagaimana orang pada umumnya takut tatkala bertemu dengan orang berkedudukan, terkadang bicaranya menjadi terbata-bata lantaran rasa grogi atau takut.

Apakah kekakuan tersebut hilang secara sempurna atau hanya hilang sebagian?

Sebagian ulama berpendapat bahwa Nabi Musa hanya meminta agar dihilangkan sebagian kekakuan tersebut, tdak seluruhnya. Karenanya beliau berdoa dengan menyebut bentuk tunggal عُقْدَةً Bukan bentuk jamak uqadan. Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Katsir dan juga Al-Qurthubi.

Firaun, Nabi Musa
Foto: Unsplash

Oleh karenanya Allah menyebutkan salah satu sindiran Fir’aun kepada Nabi Musa adalah sebagaimana tercantum dalam Surah Az-Zukhruf (43) ayat 52:

اَمْ اَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْ هٰذَا الَّذِيْ هُوَ مَهِيْنٌ ەۙ وَّلَا يَكَادُ يُبِيْنُ

Bukankah aku lebih baik dari orang yang hina ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya)?

Ini menunjukkan bahwa ketika mendakwahi Fir’aun masih ada kekakuan lisan Nabi Musa yang tersisa yang akhirnya dijadikan bahan ejekan oleh Fir’aun.

BACA JUGA:  Kisah Nabi Musa Mendapatkan Istri

Ibnu Katsir menegaskan bahwa Nabi Musa hanya meminta agar sebagian dari kekakuan lisannya dihilangkan sehingga pembicaraan dan ucapan beliau dapat dipahami dengan baik oleh Fir’aun dan kaumnya. Demikianlah kebiasaan para nabi, mereka tidak pernah meminta kepada Allah kecuali apa yang sesuai dengan keperluan mereka.

Ini adalah pelajaran berharga bagi kita semua agar hendaknya kita tidak meminta sesuatu yang di luar keperluan kita. Sadarilah bahwa semakin banyak kenikmatan yang kita dapatkan maka tanggung jawab dan kewajiban untuk bersyukur akan semakin besar pula. Sementara, kita yang lemah ini belum tentu bisa mensyukuri dan mempertanggungjawabkan semua itu dengan baik. []

SUMBER: TAFSIR AT-TAYSIR

Tags: Nabi Musa
Previous Post

Ketika Allah Berbicara dengan Nabi Musa

Next Post

Hukum Bacaan Al-Quran untuk Orang Lain

Haura Nurbani

Haura Nurbani

Please login to join discussion
Social icon element need JNews Essential plugin to be activated.

© 2022 islampos - Membuka, Menginspirasi, Free to Share.

No Result
View All Result
  • Home
  • Beginner
  • Tahukah
  • Sirah
  • Renungan
  • Muslimbiz
    • Muslimtrip
  • Berita
  • Cari

© 2022 islampos - Membuka, Menginspirasi, Free to Share.