DALAM perjalanan menuju Allah ﷻ, setiap hamba memerlukan pijakan yang kokoh dan arah yang jelas. Jalan ini tidak cukup ditempuh hanya dengan semangat dan niat baik, melainkan juga dengan prinsip dan pedoman yang bersumber dari wahyu. Para ulama salaf, dengan keluasan ilmu dan ketajaman bashirah-nya, telah merumuskan prinsip-prinsip dasar yang menjadi fondasi kuat dalam menapaki jalan ketaatan.
Sahl At-Tusturi rahimahullah, salah seorang tokoh sufi dan ulama besar, menyampaikan sebuah kaidah ringkas namun padat makna. Ia berkata,
أُصُوْلُنَا سَبْعَةُ أَشْيَاءَ: التَّمَسُّكُ بِكِتَابِ اللّٰهِ، وَاْلإِقْتِدَاءُ بِسُنَّةِ رَسُوْلِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَكْلُ الْحَلَالِ، وَكَفُّ الأَذَى، وَاجْتِنَابُ الآثَامِ، وَالتَّوْبَةُ، وَأَدَاءُ الْحُقُوْقِ
“Prinsip kami ada tujuh perkara: berpegang kepada Kitabullah, meneladani Sunnah Rasulullah ﷺ, memakan yang halal, menahan diri dari menyakiti orang lain, menjauhi dosa, bertaubat, dan menunaikan hak.” (Al-I’tisham, Asy-Syathibi: 1/126). Mari kita telaah satu per satu prinsip ini dalam cahaya al-Qur’an, as-Sunnah, dan perkataan para ulama salaf.
1. Berpegang kepada Kitabullah
Al-Qur’an adalah petunjuk hidup yang Allah turunkan untuk menuntun manusia menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Prinsip pertama adalah menjadikan Kitabullah sebagai pegangan hidup dalam segala hal—ibadah, muamalah, adab, bahkan dalam perkara dunia.
Imam Al-Auza’i rahimahullah berkata: “Berpeganglah kalian dengan atsar salaf, meskipun manusia menolakmu. Waspadalah dari pendapat orang, walau mereka memperindahnya dengan perkataan yang indah.” (Al-Hilyah, 6/324)
BACA JUGA: Apa yang Terjadi Jika Cristiano Ronaldo Menjadi Muslim?
2. Meneladani Sunnah Rasulullah ﷺ
Setiap ucapan, perbuatan, dan ketetapan Rasulullah ﷺ adalah teladan terbaik. Menjadikan sunnah sebagai rujukan berarti tidak mengikuti hawa nafsu dan kebiasaan masyarakat jika menyelisihi ajaran beliau.
Imam Malik rahimahullah berkata: “Sunnah adalah seperti bahtera Nuh. Siapa yang menaikinya, dia akan selamat. Siapa yang tertinggal, dia akan tenggelam.” (Syarh Ushul I’tiqad Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Al-Lalika’i, no. 136)
3. Memakan yang Halal
Makanan halal bukan hanya sekadar hukum fiqih, tapi ia memiliki dampak langsung pada hati, perilaku, dan keberkahan hidup. Memakan yang haram atau syubhat dapat mengeraskan hati dan menjadi penghalang terkabulnya doa.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Makanan yang haram akan menguatkan jasad untuk bermaksiat dan melemahkan hati dari ketaatan.” (Al-Fawaid, hlm. 100)
4. Menahan Diri dari Menyakiti Orang Lain
Akhlak seorang mukmin sejati tercermin dari kemampuan menahan lisan dan tangannya dari menyakiti orang lain. Islam menekankan pentingnya menjaga hak sesama dan tidak menjadi penyebab kesulitan orang lain.
Abdullah bin Mubarak rahimahullah berkata: “Akhlaq yang baik adalah wajah yang berseri, memberi kebaikan, dan tidak menyakiti orang lain.” (Shifat ash-Shafwah, 2/420)
5. Menjauhi Segala Dosa
Meninggalkan dosa, baik besar maupun kecil, merupakan syarat mutlak dalam meraih kecintaan Allah. Dosa yang terus dilakukan tanpa penyesalan dapat menggelapkan hati dan menjauhkan dari petunjuk.
Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata: “Dosa-dosa mereka ringan di lisan mereka, namun besar di dalam hati orang-orang yang bertakwa.” (Jami’ al-‘Ulum wal-Hikam, hlm. 276)
6. Taubat
Setiap manusia pasti bersalah, dan sebaik-baiknya orang berdosa adalah yang segera kembali kepada Allah. Taubat bukan hanya penyesalan, tapi perubahan nyata dalam sikap dan jalan hidup.
Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Taubat itu dengan meninggalkan dosa dan tidak mengulanginya, bukan hanya dengan ucapan.” (Al-Jami’ li Akhlaq ar-Rawi, 1/264)
BACA JUGA: 7 Tanda Kebahagiaan Seorang Muslim, Apa Saja?
7. Menunaikan Hak-Hak
Islam sangat menekankan keadilan, termasuk dalam menunaikan hak orang lain—baik berupa amanah, utang, atau hubungan sosial. Melalaikan hak orang lain adalah bentuk kezaliman yang akan diperhitungkan di akhirat.
Ibn Rajab al-Hanbali rahimahullah berkata: “Menunaikan hak manusia adalah bagian dari kesempurnaan iman dan bentuk nyata takwa kepada Allah.” (Jami’ al-‘Ulum wal-Hikam, hlm. 219)
Penutup
Ketujuh prinsip ini bukan hanya teori, tetapi jalan nyata menuju Allah ﷻ. Siapa yang menjadikannya sebagai prinsip hidup, maka ia akan selamat di dunia dan akhirat. Semoga Allah ﷻ menjadikan kita hamba-hamba yang berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah, serta menghiasi hidup kita dengan amal salih dan akhlak yang mulia. []








