ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Kesabaran Seorang Ibu

0

Oleh: Islahuddin Panggabean, S.Pd
Pengurus Gerakan Islam Pengawal NKRI

DISEBUTKAN bahwa Ummu Sulaim memiliki seorang anak bernama Abu Umair yang sering dicandai oleh Nabi sebagaimana terekam dalam hadist, “Wahai Abu Umair, apa yang dilakukan burung kecil piaraanmu itu? Suatu ketika anak itu sakit. Singkatnya, anak itu pun meninggal dunia. Abu Thalhah, ayahnya kala itu sedang berada di kebun.

Ummu Sulaim pun memandikannya, mengafaninya, memberinya wewangian dan menutupinya dengan kain, ia berkata kepada para sahabatnya, “Tak ada seorang pun yang boleh mengabarkan hal ini kepada Abu Thalhah kecuali aku.” Tatkala Abu Thalhah datang, Ummu Sulain telah berdandan dengan rapi, ia siapkan makan malam. Abu Thalhah bertanya tentang anaknya. Maka sang istri menjawab, ”Sungguh ia telah beristirahat.”

Malam itu setelah ’pengantinan, Ummu Sulaim berkata, ”Wahai Abu Thalhah bagaimana pendapatmu jika ada satu keluarga yang dititipi sesuatu kemudian pemilik barang tersebut memintanya kembali, apakah mereka akan mengembalikannya atau menahannya?” Ia menjawab, ”Mereka harus mengembalikannya.” Lalu Ummu Sulaim berkata, Kalau begitu bersabarlah karena Abu Umair telah meninggal.”

Sikap Ummu Sulaim ini menunjukkan kesabaran yang luar biasa. Padahal umumnya seorang ibu yang paling bersedih atas kematian sang buah hati. Atas apa yang dilakukan oleh Ummu Sulaim, Nabi pun mendoakan keberkahan baginya. Akhirnya di kemudian hari lahir kembali anak mereka bernama Abdullah. Anak ini di kemudian hari memiliki 7 orang putra yang kesemuanya sholih dan hafiz al-Quran. Subhanallah.

Menjadi seorang Ibu adalah impian bagi setiap wanita. Itu menggenapi impian sebelumnya yakni menjadi seorang istri. Dalam Islam, ibu merupakan sosok yang mulia dan dimuliakan. Ia 3 kali didahulukan daripada ayah dalam masalah siapa yang harus dibaktikan. Begitupula dalam hadist dicantumkan bahwa surga itu berada di bawah telapak kaki ibu.

Dalam sejarah, banyak profil-profil Ibu teladan. Salah satu sifat paling menonjol yang dimiliki oleh wanita mulia itu ialah kesabaran. Bersama sifat sabar itulah, wanita merubah keadaan dan kondisi ke arah yang lebih baik. Dengan kata lain, kesabaran wanita merubah gelap menjadi terang.

Dalam al-Quran, terdapat beberapa bentuk kesabaran seorang ibu diantaranya.

Pertama, kesabaran dalam menanti kehadiran anak.

Siti Sarah, Istri Nabi Yahya, juga Istri Imran ialah beberapa profil wanita yang bersabar dalam menanti buah hati. Mereka baru mendapatkan buah hati ketika berusia senja. Meski demikian, tidaklah mengurangi kemuliaan status ’ibunda’ mereka. Sebab, dalam proses menanti itu mereka bersabar, berdoa dan juga mempersiapkan diri. Sebagaimana yang dilakukan istri Imran yang punya visi bahwa anaknya nanti akan menjadi anak yang sholih dan berkhidmat di Baitul Maqdis (QS Ali Imran : 35-36). Sang anak yang diimpikan itu, Maryam, lahir dan menjadi wanita paling mulia di dunia.

Kedua, bersabar dalam mendidik anak.

Secara fitrah, wanita memang ditugaskan menjadi pendidik. Ia adalah madrasatul ’ula bagi anak-anaknya. Dalam mendidik anak, diperlukan kesabaran ekstra baik dalam menghadapi keadaan si mungil maupun kondisi sekitar. Terdapat teladan indah dari Asiyah istri Firaun yang membesarkan Musa dengan penuh kasih sayang meskipun berada di lingkungan kafir. Meskipun Musa bukanlah anak kandungnya sendiri.

Pendidikan dari seorang Ibu sangat berpengaruh besar bagi si anak. Ayah yang baik, jika ibunya tak baik, kemungkinan besar anak menjadi tidak baik. Sebagaimana yang dialami Nabi Nuh. Namun, andaikatapun sang ayah tidak baik, tetapi jika sang ibunda mendidik dengan baik, maka sang anak bisa jadi baik. Seperti Musa, meski besar di lingkungan Firaun, ia tetap sholih berkat didikan wanita yang baik, bi idznillah. Apalagi jika kedua orangtuanya baik.

Hal ini juga dicontohkan Ummu Sulaim. Sebelum menikah dengan Abu Thalhah, ia sudah menikah dan punya anak, Anas bin Malik. Ketika dilamar Abu Thalhah, ia memilih untuk menunda pernikahan disebabkan ingin fokus membimbing anaknya hingga ia baligh. Ia berkata, “Aku tidak akan menikah hingga Anas baligh dan duduk di majelis-majelis ilmu.” Setelah Anas baligh, Ummu Sulaim menyerahkannya pada Nabi. Ummu Sulaim memohon agar Nabi berkenan mendidik, mendoakan dan membina sang anak. Akhirnya Anas di masa depan menjadi orang yang cerdas dan sholih. Sukses dunia akhirat.

Ketiga, bersabar atas segala ketentuan Allah.

Terkadang taqdir Allah tak sesuai dengan harapan, disitulah dibutuhkan kesabaran. Kesabaran ini dilandasi sikap yakin dan prasangka baik pada Allah. Sebagaimana dialami ibunda kandung Musa yang harus rela bersabar berpisah sejenak dengan anak mengikuti petunjuk dari Allah. ”Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah di ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan jangan pula bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul.” (QS Qashash :7)

Loading...

Begitupula kesabaran Siti Hajar saat ditinggal bersama sang anak oleh sang suami atas perintah Allah di sebuah lembah yang belum dihuni manusia. Dengan penuh rasa tawakkal, ia berikhtiar maksimal menjalani kehidupan bersama sang anak. Kesabaran Hajar membawa berkah. Lembah itu menjadi ramai dan terus dikunjungi manusia sampai sekarang (Mekkah). Bahkan dari keturunannya lahir seorang Nabi terakhir yang mulia, Sayyidina Muhammad.

Penutup

Salah satu sifat wanita mulia ialah kesabaran. Kesabaran dalam menanti sang anak, saat mendidik anak maupun kesabaran segala ketentuan Allah. Kesabaran itu akan timbul dan menguat jika didasari keyakinan dan prasangka baik pada Allah. Itu terbukti dalam sejarah. Selamat Hari Ibu. Wallahualam. []

Artikel Terkait :

loading...
loading...

Sponsored

Comments
Loading...

Maaf Anda Sedang Offline

Send this to a friend