islampos
Media islam generasi baru

Karena Banyak Baca, Mantan Pemimpin Skin Head Itu Masuk Islam

Foto: blog.bussoladoinvestidor.com/Ilustrasi
0

TERLIBAT dalam gerakan skinhead neo-nazi, Marc Springer tumbuh sebagai seorang rasis yang anti-Islam, anti-Muslim. Gairahnya untuk membaca akhirnya mengantarkan dirinya pada bacaan-bacaan tentang Islam dan Muslim, dan akhirnya pada Islam. Ia kemudian memutuskan berbalik arah hidup dari seorang yang tadinya sama sekali tidak percaya Tuhan menjadi penyembah Allah SWT semata.

Berikut adalah penuturannya di islamicbulletin bagaimana perjalanan hidupnya menjadi seorang Muslim.

“Perjalanan saya menuju Islam, tampaknya, tidak seperti pada umumnya orang. Tidak seperti sebagian terbesar orang kulit putih yang pernah saya temui, yang pindah agama menuju Islam, datang dari latar belakang liberal dan berpikiran terbuka. Saya dididik dan dibesarkan jauh dari situasi semacam itu.

Kedua orang tua saya adalah personil militer AS dan saya dibesarkan dengan cara yang sangat keras. Ayah saya sangat rasis, dan oleh sebab itu, saya menjadi sangat rasis sampai usia 24 tahun. Saya masih ingat saat menjadi seorang anak kecil mendengar ayah sangat benci dan menyerang orang Arab dan Muslim serta agama mereka, cara hidup mereka, dan ras mereka. Dengan didikan semacam ini saya dibesarkan dan dengan cara seperti ini pula saya hidup dan bersikap.

Saya tumbuh sebagai anak yang penuh dengan masalah, sebagaimana telah saya sebutkan di atas, itu hanyalah permulaan. Ayah seorang alkoholik dan seorang pria pemarah, sering menganiaya kami secara fisik. Saya tumbuh dalam ketakutan secara terus menerus menghadapi kekerasan terhadap diri sendiri, ibu, dan saudara-saudara laki-laki maupun perempuan saya . Datang dari latar belakang seperti ini membuat saya secara alamiah mencari kelompok orang-orang yang mungkin bisa menggantikan kehidupan keluarga saya , yang tidak saya dapatkan di rumah. Persoalannya adalah, orang-orang yang saya temui dan yang saya jadikan sekutu malah membuat situasi semakin buruk dan lebih buruk lagi.

Selama beberapa tahun saya terlibat berat dengan gerakan yang sangat rasis, yakni skinhead movement. Seperti tak ada yang lain lagi dalam hidup saya , saya tidak sekedar menjadi pengikut, tapi bahkan saya sangat menikmati menjadi pimpinan mereka, dan keterlibatan saya dengan gerakan neo-nazi skinhead juga karena alasan yang sama. Saya sangat terkenal dan ditakuti di seluruh kota di mana saya tumbuh besar. Namun, kerinduan saya pada keluarga dan teman-teman, tidak pernah mematikan benih-benih dalam hati bahwa apa yang saya lakukan adalah salah, tidak adil.

Saya ingat seorang teman sekolah saya sekelas yang berasal Meksiko pernah bertanya pada saya saat umur saya 16 tahun “kenapa kamu menghabiskan waktu dengan menjadi pecundang seperti ini? Kamu itu bisa lebih baik dari ini”. Dia benar, tapi saya mengira itu adalah bagian dari diri saya , meskipun saya membenci ayah saya terhadap apa yang dia lakukan terhadap keluarga, saya ingin seperti dia. Dari situlah rasisme dan kebencian itu berasal.

Situasi di rumah menjadi bertambah buruk bagi saya sehingga saya terpaksa harus pindah ke luar kota asal saya. Saya berpikir mulai dari momen inilah kiranya, fase-fase hidup saya yang tidak karuan mulai tertutup, untuk kemudian menjadi seorang Muslim—hidup jauh dari ayah dan segenap kebencian yang ia rasakan, untuk membentuk masa depan saya sendiri.

Beberapa tahun kemudian saya mengalami kehidupan yang sangat keras dan terus berlanjut selama beberapa tahun di jalan itu, seperti ketika awal-awal dulu. Saya minum-minuman keras, menggunakan obat-obatan terlarang dan tersangkut dengan persoalan hukum yang sangat serius. Sementara itu, semua orang yang telah saya anggap sebagai pengganti keluarga saya , ternyata malah lebih buruk, penuh dengan kekerasan, tidak jujur dan tidak dapat dipercaya.

Saya pergi meninggalkan AS, negara tempat saya tumbuh besar, saat berusia 23 tahun dan untuk pertama kalinya dalam hidup, saya bisa mengalami kehidupan tanpa bayang-bayang sosok ayah tempat saya bergantung dan jauh dari pengaruh buruk dari teman-teman saya. Saya mulai melihat semuanya dengan lebih berhati-hati, kebohongan-kebohongan yang saya lakukan dalam hidup atas dasar kerapuhan. Perlahan-lahan saya melihat semua kebenaran yang terurai dalam hidup saya . Itulah titik di mana saya mulai mempertanyakan segala sesuatu dalam hidup saya , termasuk keyakinan agama yang selama ini saya anut. Saya berdiri pada titik dimana saya harus mengevaluasi ulang dan melihat segala sesuatu lebih cermat.

Saya punya teman seorang gadis yang belakangan saya nikahi. Ia juga aktif dalam gerakan rasis skinhead tempat saya melibatkan diri dan selalu ada kekhawatiran bahwa saya menyinggung dirinya manakala ide dan pemikiran baru saya ungkapkan. Saya seorang yang suka membaca, dan terus dalam dua tahun berikutnya ingin mendapatkan apapun di tangan saya bahan bacaan. Gairah yang saya miliki—membaca—telah mengarahkan saya untuk mengoleksi buku-buku dalam perpustakaan kecil yang sekarang ini telah mencapai ribuan volume, apapun mulai dari filsafat Imannuel Kant, Rene Descartes hingga Ramadan dan Edward Said.

Waktu itu, Intifada sedang berkecamuk di Palestina. Ayah saya , seorang yang rasis dan anti-Semit sekalipun, mendukung berdirinya negara Yahudi. Saya tahu ia benci Yahudi, dan sama bencinya dengan orang-orang non kulit putih, tetapi Ia lebih benci lagi pada orang Arab melebihi kebenciannya pada Yahudi, jadi itu sebabnya ia mendukung Israel. Sebagai akibat dari evaluasi ulang atas apapun yang saya pikirkan ketika usia saya masih belasan tahun, saya memutuskan untuk melihat secara lebih dekat perjuangan mempertahankan hidup di Timur Tengah.

Saya mulai membaca buku-buku umum tentang sejarah dan politik Timur Tengah serta negara-negara di wilayah itu. Lagi dan lagi saya mengalami masalah dalam memahami sejarah maupun politik di wilayah itu karena saya tidak pernah punya pengetahuan yang cukup tentang Islam. Sebagai seorang anak yang menghadiri gereja dari waktu ke waktu, namun tak pernah benar-benar berdiri di atas pijakan agama tertentu.

Ayah saya membenci Islam, jadi sebagai seorang anak berusia belasan tahun ketika itu saya ikut-ikutan membenci agama ini tanpa pernah tahu mengapa dan apa itu Islam sesungguhnya atau apa yang kaum Muslim yakini. Saya membenci Muslim padahal belum pernah berjumpa dengan seorang pun dari mereka seumur hidup.

Jadi saya mulai melihat lebih dalam tentang Islam, sejarah dan keyakinan-keyakinan serta ajaran-ajarannya.

Karena istri saya pindah ke ke Inggris, saya pun turut pindah. Untuk beberapa waktu, saya memanfaatkan kepindahan ke Inggris ini untuk melakukan perjalanan ke seluruh Eropa sambil mempelajari sejarah negara-negara Eropa. Namun, pikiran saya tetap tertuju pada Timur Tengah dan politik di sana. Saya mulai serius untuk mempelajari ajaran Islam, ideologi dan sejarah Islam, serta mulai membaca terjemahan Alquran.

Dari buku-buku yang dibaca, saya mengetahui bahwa banyak ritual Kristen yang sampai saat ini dilakukan umat Kristiani adalah hasil inovasi manusia, bukan berbasiskan pada ajaran Tuhan. Saya juga mencoba mempelajari agama Yudaisme, yang menurut saya justru lebih “aneh”.

Menurut Mereka, orang-orang Yahudi memperlakukan para nabi Allah dengan keji. Jika ajaran Yudaisme meragukan, mengapa pula saya memilih Yudaisme sebagai petunjuk hidup saya ?

Akhirnya saya pun bertemu dengan seorang Muslim asal Libanon yang cukup faqih. Saya pun banyak berdiskusi dengannya terkait dengan keinginan masuk Islam. Setelah Muslim Libanon itu benar-benar yakin bahwa saya memang sudah bertekad bulat maka ia pun mengajak saya mengucapkan dua kalimat syahadat di sebuah masjid di London.

Namun saya ng, kabar gembira tersebut menjadi kabar yang sangat buruk bagi istri saya . Ia sama sekali tidak berminat berdiskusi tentang Islam, menoleransi saya masuk Islam pun tidak, apalagi mengikuti jejak saya . Sehingga cerai pun tidak dapat dihindarkan lagi. Saya pun kembali ke Amerika dengan berat hati karena gagal membimbing istri.

Tapi alhamdulillah, saya sekarang mengerti mengapa Allah memberikan semua peristiwa ini pada saya . Di AS, Saya mendapatkan pekerjaan baru di Alaska. Tempat saya bekerja berjarak ratusan mil dari kota Anchorage dan Faribanks, yang cukup banyak komunitas Muslimnya di wilayah Alaska. Karenanya, saya mengandalkan buku, internet dan sumber-sumber lainnya untuk terus mempelajari Islam.

Saya mulai berkenalan dengan banyak Muslim setelah sering melakukan perjalanan bisnis ke Washington DC. Saya lalu dikenalkan dengan seorang Muslimah keturunan Arab Saudi. Saya berkomunikasi lewat email dan telepon, tanpa pernah bertemu muka. Saya baru melihat wajah wanita nya setelah datang melamar pada keluarganya di Washington DC. Kami lalu menikah, lengkaplah kebahagiaan saya sebagai seorang muslim.

Subhanallah, bagaimana Allah menuntun saya pada Islam sangat menakjubkan, dari seorang yang jauh dari agama dan dibesarkan dalam rumah yang penuh dengan ajaran kebencian, Allah menuntun saya ke jalan-Nya …

Allah selalu ada, memperhatikan saya . Dia membimbing saya , melewati masa-masa berbahaya dan masa-masa yang buruk untuk menjadi seorang lelaki sejati dan menjadi seorang Muslim. Orang bilang, keajaiban tidak terjadi setiap hari, tapi cerita hidup saya membuktikan bahwa perkataan itu salah.” []

Sumber: Islamicbulletin

loading...
loading...