Hidayah

Foto: hamtana.com/
0 162

Oleh: Newisha Alifa
[email protected]

KALAULAH ada sesuatu yang berharga, dan banyak orang berharap bisa membelinya—namun kenyataannya tak diperjualbelikan, maka boleh jadi dua besarnya adalah sabar dan hidayah, bersaing sehat dengan syukur dan istiqomah. Ini sifatnya relatif sih, sesuai kebutuhan pribadi masing-masing.

Hidayah, di mata sebagian orang berarti anugrah. Sebab kalau sudah mendapatkannya, ia laksana permata yang begitu berharga dan wajib dijaga. Jika lengah lalu terlepas, alamak! Susah lagi memilikinya.

Beberapa tahun silam, hidayah jadi identik dengan sesuatu yang berbau azab, hukuman, teguran. Yang mana, seseorang baru akan mendapatkan hidayah, setelah dia mengalami suatu musibah. Maka belakangan ini misalnya, jika ada perempuan muslim yang sudah baligh namun belum juga berhijab lalu berkata,

“Nanti dulu deh, Jeng. Aku belum dapet hidayah.”

Yang geregetan mendengar alasan tersebut akan nyeletuk,

“Yang kamu tunggu itu hidayah, atau musibah?”

Atau ketika ada pemuda muslim yang ketika adzan Isya lagi asyik kongkow-kongkow sambil ngepulin asap tembakau diajak sholat berjama’ah, dengan entengnya dia berseru,

“Nanti aja, Bro! Mumpung masih muda. Kalau udah kaya Kong Mamat baru dah kita ke mushola.”

Lagi, kalau yang ngajak lagi kena sindrom nggak sabaran, mungkin akan menyahut,

“Yakin amat, Bro, umur lo bakal nyampe sesepuh kayak Kong Mamat?”

Ini kisah nyata.
Asli bukan hoaks. Kalau mau cek benar nggaknya, referensinya amat sangat terpercaya. Bukan link-link gaje apalagi primbon. Sumbernya dari sebuah kitab suci yang dijamin akan terjaga kesuciannya hingga hari kiamat. Buka saja QS. Al-An’am ayat 75-80. Ada kisah seorang hamba bernama Ibrahim, yang kini dikenal sebagai ‘bapaknya para nabi’, ketika pertama kali beliau mencari sebenar-benarnya Tuhan yang layak disembah.

Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, “Inilah tuhanku.” Maka ketika bintang itu terbenam dia berkata, “Aku tidak suka kepada yang terbenam.” (QS. Al-An’am: Ayat 76)

Lalu ketika dia melihat bulan terbit dia berkata, “Inilah tuhanku.” Tetapi ketika bulan itu terbenam dia berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.” (QS. Al-An’am: Ayat 77)

Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata, “Inilah tuhanku, ini lebih besar.” Tetapi ketika matahari terbenam, dia berkata, “Wahai kaumku! Sungguh, aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (QS. Al-An’am: Ayat 78)

Dari kisah di atas, tidakkah kita sampai pada satu kesimpulan, bahwa yang namanya hidayah atau petunjuk itu, peluangnya lebih besar untuk ditemukan oleh orang-orang yang memang mencarinya. Bukan yang mengabaikannya atau bahkan tak pernah memikirkannya sama sekali.

Ya benar, hidayah itu memang mutlak hak prerogatif Allah. Jangankan kita, tugas para nabi dan rasul saja memang cuma sampai di ‘menyampaikan kebenaran’, bukan memastikan semua manusia akan menerima dan menerapkan kebenaran tersebut. Tapi ini bukan lantas berarti kita diam saja. Pasrah. Tanpa daya dan usaha. Lah kan kita dikasih akal fungsinya buat berpikir toh?

Misalnya ketika Nabi Ibrahim Alayhissalam sampai pada titik pemikiran, “Kok berhala nggak bergerak, disembah? Mereka yang bikin, mereka sendiri yang nyembah-nyembah?” Dikasih sajian ini dan itu. Hingga beliau Alayhissalam pun menghancurkan patung-patung berukuran kecil, lalu menaruh—semacam—kampaknya di patung yang paling besar. (QS. Al-Anbiya : 58-66). Dan terjadilah dialog-dialog sangat masuk di akal setelah kejadian tersebut. Silakan dibuka sendiri Al-Qur’annya, biar tulisan ini nggak semakin panjang.

Saudara-saudariku yang dirahmati Allah, pintu-pintu hidayah itu sejatinya terbuka lebar di sekeliling kita. Tinggal kita menyadari keberadaannya atau tidak. Kita mau memasukinya atau justru menjauh darinya. Di sini Allah memberikan kebebasan manusia untuk memilih.

Namun lagi, karena hidayah itu adalah sesuatu yang amat sangat berharga, maka tak ‘sembarang’ orang bisa mendapatkannya. Hanya orang-orang yang Allah Kehendaki saja. Mungkin salah satu hikmahnya, supaya para pelaku dakwah menyadari, bahwa hidayah tadi hanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang bisa memberikannya. Betapa kita ini perannya cuma perantara saja. Titik.

Hidayah, iman, taqwa, itu nggak bisa diwarisin atau ditularkan gitu aja. Makanya ada kisah lagi-lagi bukan hoaks, tentang anak nabi Nuh Alayhissalam bernama Kan’an. Atau istri Nabi Luth Alayhissalam, yang tetap durhaka padahal sudah ditakdirkan menjadi keluarga inti para nabi tersebut.

Atau yang mungkin masih suka bikin ngilu di hati. Kisah paman Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wassalam; Abu Thalib, yang bahkan begitu terang-terangan membela keponakannya dalam menyiarkan Islam. Tapi apa? Di akhir hayat, lidahnya tetap tak sempat mengucapkan dua kalimat syahadat. Na’udzubillahimdzalik.

Hidayah adalah sesuatu yang sarat hikmah. Dan hikmah yang tepat, hanya bisa dipahami oleh orang-orang yang senantiasa berpikir tanpa melepaskan kekuatan perasaannya. Dan menggunakan perasaan tanpa menanggalkan logika berpikirnya. Keduanya dibutuhkan dengan porsi yang imbang, tak saling mendominasi.

Wallahu a’lam bisshowab. []

loading...
loading...