• Home
  • Disclaimer
  • Iklan
  • Redaksi
  • Donasi
  • Copyright
Jumat, 25 September 2026
Islampos
  • Home
  • Beginner
  • Tahukah
  • Sirah
  • Renungan
  • Muslimbiz
    • Muslimtrip
  • Berita
  • Cari
No Result
View All Result
  • Home
  • Beginner
  • Tahukah
  • Sirah
  • Renungan
  • Muslimbiz
    • Muslimtrip
  • Berita
  • Cari
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Islampos
[adinserter block="1"] [adinserter block="17"]

Dari Mana Lahirnya Cinta? Benarkah dari Mata Turun ke Hati?

by Laras Setiani
6 tahun ago
in Opini
Reading Time: 3 mins read
A A
0
teka teki fiqih, Hukum Memperbesar Alat Vital dalam Islam

Foto: Pexels

[adinserter block="3"] [adinserter block="19"]

Oleh : Widya Fauzi
Ibu Rumah Tangga dan Founder storytelling club
wwidiaz08@gmail.com

TAK AKAN habis kata bila berbicara tentang cinta. Banyak hal yang terbesit di pikiran saat memikirkan kata cinta. Dari persoalan sepasang dua sejoli menjalani sebuah hubungan indah bersama. Cinta tak berujung orangtua pada anaknya. Hingga memikirkan begitu besar cinta Allah SWT pada setiap makhluk-Nya.

Berbicara cinta, tidakkah kita terpikir darimana cinta itu terlahir? Banyak orang yang mengatakan “cinta datang dari mata turun ke hati”. Tapi bagaimana dengan makna ungkapan “Jika wajah yang membuatmu jatuh cinta, bagaimana kau mencintai Allah yang tak berupa?” Dan jika benar cinta datang dari mata turun ke hati, lalu bagaimana dengan maraknya kasus perceraian di kalangan para artis. Kurang tampan dan cantikkah mereka? Kurang menawankah mereka di mata pasangannya sehingga cinta yang awalnya ada di hati mudah terpatahkan karena satu dan lain hal hingga harus berakhir di meja sidang perceraian?

Bukankah cinta itu tulus, setulus kasih ibu pada anaknya. Walau rasa jengkel kerap hinggap di hatinya. Bukankah cinta itu abadi, seabadi cinta Allah pada makhlukNya. Bukankah karena kasihNya kita bisa menikmati apa yang ada di bumi dan di langit dari sejak terlahir ke dunia hingga akhir hayat kita?

ArtikelTerkait

5 Prinsip Emas Bisnis Rasulullah yang Relevan Sepanjang Zaman

Apa yang Terjadi Jika Makan Telur Tiap Hari?

The End of Medsos

Apa Itu Nimbus, Varian Baru Covid 19 yang Lagi Merebak?

BACA JUGA:  Cinta Bahagia vs Cinta Derita

Jika demikian, maka darimana sebenarnya cinta itu terlahir?

Dalam sebuah kajian bersama Ustadz Adriano Rusfi, beliau mengatakan cinta tidaklah lahir dari mata turun ke hati. Cinta sesungguhnya turun dari langit ke bumi karena sumber cinta yang hakiki adalah Allah. Allah adalah pemilik cinta tertinggi yang tidak ada habisnya. Cinta Allah adalah cinta yang murni sementara cinta pada selainNya penuh dengan syarat, pamrih dan berbatas waktu. Menurut Ustadz Aad, demikian beliau biasa disapa ;

Cinta lahir dari rasa syukur, baik sangka dan optimisme.

Syukur yang bukan hanya sekedar ucapan, yang dengan syukur itu ia kan mampu melahirkan optimisme dan prasangka baik. Bagaimana tidak?

Ketika kita bersyukur maka kita akan memiliki banyak cinta dan kasih sayang. Syukur bermakna mengakui nikmat Allah serta mendayagunakannya untuk kemashlahatan yang sebesar-besarnya untuk umat. Jadi syukur adalah perbuatan untuk mendayagunakan nikmat yang Allah berikan agar nilai kebaikannya menjadi bertambah.

Dengan bersyukur kita pun akan lebih jeli melihat sisi baik dari segala hal sehingga kita bisa mengutamakan prasangka baik. Rasa syukur ini pula yang akan membuat kita memiliki jiwa yang lebih lapang mampu melihat perspektif lain yang penuh hikmah bahkan dari kesedihan musibah dan kemalangan. Kita perlu melihat sisi baik dari setiap hal yang terjadi. Sehingga rasa syukur kemudian akan melahirkan cinta, karena cinta tidak akan lahir dari yang kufur nikmat.

Orang yang tidak bersyukur akan memiliki dada yang terasa sempit tidak nyaman dan mudah mencari sisi buruk dari dalam dirinya. Orang-orang yang kurang atau tanpa syukur akan kesulitan melahirkan rasa cinta dalam dirinya.

Ternyata… saat kita bersyukur, Allah akan melapangkan hati kita sehingga kita akan mampu menghadapi kehidupan dengan optimis. Maka jika boleh saya menyimpulkan; Syukur, baik sangka dan optimisme itu satu paket. Bermodalkan syukur orang akan berbaik sangka dan dengan bermodalkan baik sangka orang akan optimis.

Cinta lahir dari keindahan, kelembutan hati dan kebaikan.

Cinta datang dari keindahan. Maka.. kita perlu menghadirkan segala sesuatu yang berhubungan dengan keindahan kedalam diri kita, ke dalam keluarga kita dan ke dalam kehidupan kita. Dengan mentadaburi indahnya ciptaan Allah misalnya. Cinta juga datang dari kelemahlembutan dan kebaikan. Bukankah Allah tidak menyukai orang yang kasar? Rasulullah saw adalah sebaik-baik manusia dengan kelembutan hatinya. Menurut ust Adriano Rusfi, kita perlu melakukan banyak kebaikan. Karena kebaikan berbuah doa. Doa inilah yang kemudian akan melahirkan kelembutan, cinta dan kasih sayang.

BACA JUGA: Sepucuk Surat untuk Sahabat

Maka jika demikian semua hal ini (syukur, optimisme, keindahan, kelembutan dan kebaikan) adalah penyebab-penyebab hadirnya cinta dalam kehidupan kita. Jangan tertipu pada propaganda cinta para kapitalis. Cinta yang hakiki bukanlah cinta semu yang hanya berpusat pada eksplorasi fisik semata lalu bermuara pada nestapa nafsu belaka.

Namun, cinta yang hakiki akan melahirkan kenyamanan dan ketenangan hidup karena ia yakin Sang Maha Cinta telah menanti kembalinya jiwa-jiwa yang muthmainnah penuh cinta pada Rabb-Nya, sebagaimana firman Allah: “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabb-mu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Kemudian masuklah ke dalam (jamaah) hamba-hamba-Ku, Dan masuklah ke dalam surga-Ku!” (QS. Al-Fajr: 27-30). []

Tags: cinta
ADVERTISEMENT
Previous Post

Strategi Gus Menteri Dorong BLT Topang Lumbung Ketahanan Pangan

Next Post

Saat Dosa Yahudi Dilimpahkan pada Ayam

Laras Setiani

Laras Setiani

Related Posts

Leasing, Bisnis

5 Prinsip Emas Bisnis Rasulullah yang Relevan Sepanjang Zaman

11 Juli 2025
telur

Apa yang Terjadi Jika Makan Telur Tiap Hari?

16 Juni 2025
Threads

The End of Medsos

14 Juni 2025
Syarat Taubat Diterima, Waktu Mustajab untuk Berdoa, Hukum Menggunakan Masker ketika Shalat, Waktu Berdoa yang Mustajab, Hadits tentang sabar, Sedekah Shubuh, ibadah, keutamaan berdoa, Syarat Taubat, Waktu Mustajab untuk Berdoa di Hari Jumat, Hukum Menghadiahkan Al-Fatihah untuk Diri Sendiri, Doa Memohon Ampunan pada Allah SWT, Perkara Iman, Istighfar,Hukum Meminta Doa dari Orang Lain, Nimbus

Apa Itu Nimbus, Varian Baru Covid 19 yang Lagi Merebak?

13 Juni 2025
Please login to join discussion

Tulisan Terbaru

Melakukan Perubahan, sifat jujur, orang yang meninggalkan shalat, istidraj, FITNAH, SYAHWAT, maksiat, bunuh diri, dosa, maksiat, taubat

5 Alasan Jangan Mengungkit Dosa Masa Lalu Seseorang yang Sudah Bertaubat

by Yudi
14 Juli 2025
0

agar tidak mengulangi dosa, mengganti shalat wajib, dosa jariyah, mandi, dosa, shalat

Jangan Tinggalkan Shalat Meski Badan Kotor saat Kerja, Tidak Semua Kotor Itu Najis

by Yudi
14 Juli 2025
0

Senin

Jangan Lagi Bilang “Nggak Suka Senin!”

by Dini Koswarini
14 Juli 2025
0

Cerai, Sebab Zina Dilarang dalam Islam, zina, Penyebab Lelaki Selingkuh, Talak

Talak: Halal yang Dibenci, Senjata Iblis untuk Memecah Belah

by Saad Saefullah
13 Juli 2025
0

Laporan Donasi Islampos Juli 2025: Alhamdulillah, Sudah Terkumpul Rp2.390.999!

by Saad Saefullah
13 Juli 2025
0

Terpopuler

No Content Available
Facebook Twitter Youtube Pinterest Telegram

© 2022 islampos - Membuka, Menginspirasi, Free to Share.

No Result
View All Result
  • Home
  • Beginner
  • Tahukah
  • Sirah
  • Renungan
  • Muslimbiz
    • Muslimtrip
  • Berita
  • Cari

© 2022 islampos - Membuka, Menginspirasi, Free to Share.