ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Belajar dari Do’a Mustajab Manusia-manusia Pilihan

Foto: Adam/ Islampos
0

Oleh: Rohmat Saputra
jeparahanif@gmail.com

DO’A adalah senjata orang-orang mukmin. Tidak ada senjata yang ampuh dalam melawan segala kedzaliman dan kekhawatiran melainkan dengan do’a.

Do’a dipanjatkan tidak hanya pada saat jalan keluar benar-benar buntu. Tapi juga dipanjatkan ketika sedang lapang dan senggang. Sebab hasil dari do’a, Allah akan simpan kebaikan pemohon, dan menghindari sesuatu yang buruk dari orang itu.

“Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen) melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: [1] Allah akan segera mengabulkan do’anya, [2] Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan [3] Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdo’a.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan do’a-do’a kalian.” (HR. Ahmad 3/18. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanadnya jayyid)

Dari uraian hadist diatas, jadi jangan merasa khawatir bila do’a tidak dikabulkan. Pasti akan ada hikmah yang terkandung kenapa Allah pending do’a hambanya selama berisi kebaikan. Tapi ada diantara manusia pilihan yang jika berdo’a, Allah kabulkan dengan segera. Siapa mereka? Mari kita simak ulasan dibawah ini.

Umar bin Khattab

Sahabat yang terkenal watak yang keras dan tegas adalah Umar bin Khattab. Namun saat menjadi khalifah dalam masa Khulafaurrosyidin, masyarakat yang berada dibawah pimpinannya merasa makmur. Dia tidak sekeras dulu saat Rosulullah dan Abu bakar Asy-Syiddik masih hidup.

Banyak sekali kelebihan-kelebihan yang dimiliki Umar bin Khattab. Diantaranya, Syetan akan takut bila berpapasan dengan Umar. Bila syetan mendapati Umar pada suatu jalan, maka syetan akan mencari jalan yang lain karena besarnya rasa takut kepada Umar.

Nabi pernah menyebutkan, bahwa bila seandainya ada Nabi setelahnya, maka Umarlah orangnya. Rosulullah bersabda: “Seandainya setelahku ada nabi, niscaya ia adalah ‘Umar bin Al-Khaththaab” [As-Sunan, no. 3686].
Sebab banyak keputusan Umar yang sejalan dengan hukum Allah. Sehingga Umar layak bila menjadi menjadi Nabi setelah Rosulullah. Tapi tidak ada nabi setelah diutusnya Nabi Muhammad. Karena beliau adalah penutup para nabi.

Dalam hidup Umar, pernah berdo’a dua kali tentang berandai-andai mati. Dan Allah kabulkan itu semuanya.

Do’a pertama, “Ya Allah berikanlah aku anugerah mati syahid di jalan-Mu, dan jadikanlah kematianku di negeri Rasul-Mu Shallallahu ‘alaihi wa sallam”. (HR. Bukhari 1890)

Allah kabulkan do’a Umar sebagai Syuhada meski tidak dalam medan perang. Padahal ada sahabat yang maragukan Do’a beliau. Karena kondisi saat itu jauh dari pertempuran dan masih dalam keadaan aman. Tapi Umar mati Syahid karena dibunuh oleh salah seorang Majusi yang bernama Abu Lu’lu’ah ketika shalat shubuh. Orang itu menikam badanUmar ditengah mengimami para sahabat dimasjid kota Nabi, yaitu Madinah.

Umar mati syahid dibunuh oleh seorang majusi yang punya dendam mendalam karena negerinya, yaitu Persia, peradabannya runtuh ditangan Khalifah Umar. Dan Umar meninggal pada tempat yang diharapkan dalam do’a, dimana sebelumnya Nabi tinggal dinegeri itu.

Doa Umar yang kedua yaitu beliau biasa melazimi do’a yang dipanjatkan oleh Rosulullah. Bunyi do’a,“ Ya Allah aku meminta kepadamu perbuatan kebaikan, dan meninggalkan perbuatan yang mungkar, mencintai orang-orang miskin. Ya Allah, jikalau engkau ingin untuk menimpakan bencana kepada umat manusia dengan fitnah yang besar, maka cabutlah nyawaku ya Allah Tanpa aku mendapatkan bencana atau fitnah itu.” (diriwayatkan oleh imam tirmidzi dan dishahihkan oleh Imam Al-Bani).

Allah kabulkan do’a Umar dengan tidak ada fitnah dimasa hidupnya. Tidaklah terbuka fitnah kecuali ketika Umar bin Khattab telah meninggal. Maka khalifah setelahnya diuji dengan fitnah sepeninggal Umar. Seperti munculnya fitnah kelompok Khowarij dan kelompok Syiah, serta fitnah besar yang dihembuskan oleh musuh Allah dalam perseteruan antara sahabat Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah.

Saad bin Muadz

Beliau adalah salah seorang sahabat Nabi yang masuk Islam dari perantara Mushab bin Umair dan As’ad bin Zurarah. Sahabat Rosul ini merupakan kepala suku Aus, yaitu salah satu suku besar yang ada di Madinah. Tentang keutamaan Saad bin Muadz, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah berkata, “Dikalangan Anshor di Madinah, ada seorang yang bernama Saad bin Muadz yang kedudukannya sama dengan Abu Bakar Asy-Syiddiq dikalangan muhajirin. Semua cacian terhadapnya tidak akan berpengaruh padanya, dan jihadnya kepada Allah, dan juga mati syahid di akhir hidupnya, selalu mendahulukan ridho Allah diatas ridho makhluk-makhluknya. Dan dialah seseorang selain nabi-nabi yang berhukum yang tepat diatas tujuh lapis langit. Dan begitu juga Jibril turun langsung memberitahukan kematiannya kepada Rosul. Dan Arsy Allah berguncang karenanya.”

Pada saat perang ahzab, Saad bin Muadz terkena serangan panah tepat di urat nadinya yang dilemparkan oleh salah seorang musyrikin, yang bernama Ibnu Abi Ariqoh. Dia salah satu pemanah ulung. Akibatnya darah dari urat nadi Saad mengalir deras. Lantas dia lemas dari banyaknya darah yang terus mengalir.

Kemudian dia mengadahkan tangan, lalu berdo’a “Ya Allah, kalau memang masih ada pertempuran dan persoalan yang belum selesai, antara nabi dan orang-orang Bani Quraidhah, maka tolong tangguhkanlah dari matiku, sampai aku membantu nabi menyelesaikan urusannya dengan pengkhianatan bani Quraidhoh.”

Maka setelah itu darah yang sebelumnya mengalir deras, tiba-tiba terhenti. Kemudian Saad bin Muadz ikut rombongan pasukan muslimin mengepung Bani Quraidhah karena melakukan pengkhianatan kepada kaum muslimin. Setelah Bani Quraidhah dikalahkan, maka Saad kembali berdo’a, “Ya Allah bila telah selesai urusan Nabimu dengan bani Quraidhoh, maka aku lebih senang untuk kembali kepadamu, dan berada disisimu dari pada didunia.”

Belum lama lisannya basah dari permintaannya itu, Allah langsung kabulkan do’a Saad dengan kontan. Darah yang sebelumnya berhenti dan mengering, kembali mengucur dengan derasnya. Hingga semakin lemas dan akhirnya meninggal dunia.

Saat Rosul melihat jenazah Saad bin Muadz, Rosulullah berkata, “Kepulangan Saad mengguncangkan Arsy Allah”.
Padahal Saad belum lama memeluk Islam. Baru 8 tahun. Lalu meninggal pada usia 38 tahun. Tapi Allah muliakan dengan mengabulkan permintaan akheratnya karena kesungguhan dalam membela agama Allah.

Ashim bin Tsabit

Ashim Bin Tsabit adalah salah seorang sahabat Nabi yang memiliki permintaan dalam do’a yang unik. Dia memohon kepada Allah ketika meninggalnya nanti dimedan pertempuran, agar tubuhnya tidak dijamah oleh pasukan musyrik. Do’anya berbunyi, “Ya Allah jangan biarkan orang musyrikin untuk menjamah tubuhku”.

Allah kabulkan do’a Ashim bin Tsabit. Sepanjang orang-orang musyrikin ingin mendekati tubuhnya, Allah terus lindungi jasadnya melalui tentara makhluk-Nya. Ashim termasuk sahabat yang diincar tubuhnya oleh wanita musyrikin. Karena dia telah membunuh salah seorang anggota keluarganya pada suatu peperangan. Kepalanya dihargai ratusan dinar bagi siapa saja yang mendapatkannya.

Untuk apa tubuhnya Ashim bagi wanita itu? Dia ingin meminum khomr dari kepala tengkorak Ashim bin Tsabit, karena begitu dendamnya kepada sahabat Rosul tersebut.

Saat orang-orang Quraisy mulai hendak mendekati jasad Ashim yang telah mereka temukan, tiba-tiba datang segerombolan tentara lebah. Setiap mereka mendekati, lebah itu menyerang dengan masif. Hingga mereka bermusyawarah bagaimana caranya agar mereka bisa mendapati jasadnya Ashim.

Kemudian mereka berinisiatif mengambil jasad Ashim ketika malam hari. Mereka berfikir, lebah itu akan kembali ke rumahnya saat malam tiba.

Dimalam hari, orang-orang musyrik kembali mendatangi jasad sahabat rosul itu. Namun saat mendekatinya, tiba-tiba hujan turun begitu deras. Hingga genangan air membawa jasad Ashim bin Tsabit sampai ketempat yang tidak ada satupun orang-orang musyrik yang tahu jasadnya. Allah mengabulkan do’anya meski ruh telah meninggalkan jasad demi menjaga kehormatannya.

Saad Bin Abi Waqqosh

Salah seorang sahabat Rosul ini selalu dikabulkan do’anya. Tidaklah dia memanjatkan sebuah doa, melainkan dengan segara Allah kabulkan permintaan tersebut. Sampai beliau terkenal dikalangan para sahabat adalah manusia yang makbul do’anya. Selain itu, sahabat yang terdaftar orang ketiga dalam memeluk Islam ini berusaha berlepas diri dari fitnah perseteruan antara Ali bin Abi Thalib dengan Muawiayah. Dia tidak mendukung satu orangpun dari dua sahabat tersebut. Beliau lebih memilih diam.

Di masa Umar bin Khattab dia menjadi pemimpin pasukan besar untuk menyerang Persia yang dipimpin oleh Rustum. Dalam suatu kejadian dia dan bersama ribuan pasukannya mampu berjalan diatas air. Padahal sungai tigris saat itu masih sangat deras. Ini merupakan karomah yang Allah berikan kepada hamba yang memperjuangkan agama-Nya. Sehingga pasukan yang melihat itu membuat pasukan persia takut dan akhirnya bertekuk lutut. Karena mereka seolah menghadapi pasukan yang entah dari mana datangnya.

Suatu ketika putra dari sahabat Saad, yang bernama Mus’ab bin Saad bin Abi Waqqosh jalan-jalan bersama bapaknya. Kemudian mendapati salah seorang yang menghujat dan mencela Ali bin Abi Thalib. Lantas Saad bertanya kepada orang tersebut, “Kenapa kamu mencela dan mendzalimi Sahabat Ali bin Abi Thalib? Apa yang salah darinya?”

Namun orang itu tetap saja mencela Ali bin Abi Thalib sambil duduk diatas kudanya.

Kemudian Saad mengadahkan tangannya dan berdo’a, “Kalau memang orang ini memfitnah dan apa yang dia sampaikan salah, berikanlah hukuman kepadanya atas kedzaliman besar karena menghujat salah satu orang yang kau cintai, Yaitu Ali bin Abi Thalib.”

Belum kering lisannya Saad dalam memohon, kuda yang ditunggangi oleh laki-laki penghujat itu memberontak dengan keras. Akibatnya lelaki itu terpental jauh ketanah dan kepalanya membentur batu. Tidak lama kemudian meninggal.

Pernah di lain waktu Saad sendiri difitnah oleh salah seorang. Maka beliau berdoa, “Ya Allah jika memang dia memfitnah atas kebohongan yang dia rangkai, maka timpalah kepada dia 3 hal. Satu, panjangkan umurnya. Kedua, miskinkan dia terus menerus. Ketiga, beri fitnah sampai mati.

Maka Allah kabulkan doa Saad. Orang itu diberikan umur yang panjang, hidupnya terus-terusan dalam kemiskinan. Dan hidupnya penuh dengan fitnah. Yaitu suka menyoleki perempuan dipasar. Itu tidak bisa dihentikan sama sekali olehnya. Dia berkata, “Ini adalah hasil do’a yang dulu dipanjatkan oleh Saad bin Abi Waqqosh”.

Imam Ahmad bin Hanbal

Imam Ahmad hidup dipemerintahan Bani Abbasiyah. Dimasa umur 10 tahun dia telah hafal Al-Qur’an secara sempurna, meski tanpa ada sosok ayah disisinya. Karena ayahnya wafat saat usianya belia. Imam Ahmad terlahir dalam keluarga yang kurang mampu. Namun atas kesungguhan sang ibu dalam menanamkan motivasi menuntut ilmu sejak kecil, mengantarkan Ahmad bin Hanbal menjadi salah satu Imam Mahdzab yang terkenal dan menjadi rujukan hingga abad ini.

Suatu ketika Imam Ahmad diuji keimanannya dengan fitnah Khalqul Qur’an (Al-Qur’an adalah makhluk). Atas musibah itu, beliau dan ulama lainnya di panggil oleh khalifah, lalu kemudian dieksekusi oleh para algojo dengan cambukan berkali-kali.

Ada yang mengatakan bahwa jika cambukan itu diberikan kepada hewan, maka hewan itu akan mati.

Di tengah cambukan bertubi-tubi yang mendarat pada punggung Imam Ahmad, maka tali celananya mengendur. Jika dibiarkan akan tersingkap auratnya bila tidak dikencangkan. Sedangkan saat itu kondisi tangannya diborgol, sehingga ia tidak bisa mengencangkan tali celana tersebut. Atas kejadian itu, Imam Ahmad berdo’a supaya auratnya tidak terbuka, disebabkan cambukan yang bertubi-tubi diarahkan kepadanya.

Tidak lama dia selesai berdo’a, maka tali celana tersebut mengencang kembali sebagaimana sebelumnya. Allah mengabulkan do’a Imam Ahmad agar auratnya tidak terlihat, yang menyebabkan kehormatannya tersingkap.

Demikianlah sekelumit kisah do’a para salaf yang dikabulkan oleh Allah. Tentu masih banyak sekali para pendahulu kita yang dengan mudah dikabulkan do’anya. Terkabulnya do’a bukan karena Allah asal memilih hambanya yang dikehendaki do’anya. Tapi karena hati yang bersih dan tubuh yang terbebas dari zat haram. Serta membela agama Allah dari para pencela dan penghinanya. Maka do’a yang dikabulkan merupakan salah satu diantara indikasi bahwa Allah cinta kepada mereka. Bila sang kekasih telah cinta, apapun yang diminta akan dikabulkan. []

loading...
loading...