ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Aku yang Tak Pacaran

0

Oleh: Juliana Fadhilah
Mahasiswi UPI Kampus Purwakarta

 

Terkadang kita sibuk menasihati orang lain dibandingkan diri sendiri. Mendadak amnesia bahwa banyak aib yang ditambal sana-sini. Pun kadang terlalu mengkhawatirkan orang lain lebih dari rasa cemas terhadap pribadi, padahal semua itu tidak menentramkan hati. Sebagai pemberi nasihat alangkah baiknya intropeksi diri dahulu dan selaku penerima nasihat janganlah lihat dari siapa tuah itu tersampai.

Akhir-akhir ini banyak orang bercakap soal hukum pacaran sampai jemari tak sanggup menghitungnya lagi. Kadang terselubung ragu, apa kabar hati? Jelas hal ini tidak bisa dibohongi. Sibuk menyuarakan soal larangan pacaran, tapi diri sendiri menyemai benih cinta teramat dalam hingga memikirkannya begitu lihai. Coba renungkan, adakah orang percaya apa yang dikatakanmu apabila justru berkubang dalam maksiat itu sendiri?

Pacaran itu suatu hal buruk nan membuat seseorang lalai. Segala apa pun yang berawal dari keburukan akan berujung pada keburukan pula, malulah pada rohani. Jadi masih mau terus seperti itu, hei?

Kita hidup di zaman modern dengan segala godaan tersebar di setiap penjuru negeri. Terkadang mengingatnya membuat ngeri. Perempuan cantik dengan rok mini bebas berekspresi. Mata keranjang selalu siap menjilati setiap helai. Bahkan ada yang mendadak berubah menjadi bangkai, sebab perselingkuhan kian gemar digerakkan insani.

Yang perlu kita ketahui adalah bilamana di depan ada jurang, maka hentikan perjalanan dan berputar arah, sebaiknya itu dilakukan semua diri. Pun terhadap para penasihat perbaiki diri. Jangan ini malah tak sebanding dengan apa yang diucapkan, sibuk teleponan siang malam sembari sebut ayang, apakah sebegitu dalam mencintai?

Penyesalan memang selalu datang terlambat, yang tepat itu akad jika cinta telah mengakar di hati. Adakah memilih yang mana diri? Jangan biarkan terkatung-katung luapkan ekspresi dan birahi pada bukan mahram, itu membuat robek rohani.

Kita sama-sama insani. Yang merupakan anak-anak negeri. Penerus bangsa ini. Apa jadinya kalau terus berpikir tentang mencintai? Hubungan apa yang kau harapkan di usia belasan ini? Lebih baik berbenah dan menyibukkan diri. Belajar belajar dan belajar, bukan begitu aktivitas yang lebih baik disemai?

Mari wujudkan mimpi dan asa bersama lewati hari. Sebagai teman pengingat diri. Pun tidak saling menghakimi, tapi sama-sama berbenah diri. Tak ada lebih indah selain persahabatan kini. Ingatlah usiamu masihlah dini. Nanti bila waktu telah tiba, bolehlah kau datang ke rumahnya bersama rombongan keluarga surgawi. Membacanya sungguh enak di hati, ayo akui? []

Purwakarta, 25 Oktober 2017

Langganan newsletter Kami
Langganan newsletter Kami
Daftar dan dapatkan informasi update dari Kami langsung ke Inbox e-mail Anda
Kamu dapat berhenti berlangganan kapanpun
loading...
loading...