• Home
  • Disclaimer
  • Iklan
  • Redaksi
  • Donasi
  • Copyright
Selasa, 20 Oktober 2026
Islampos
  • Home
  • Beginner
  • Tahukah
  • Sirah
  • Renungan
  • Muslimbiz
    • Muslimtrip
  • Berita
  • Cari
No Result
View All Result
  • Home
  • Beginner
  • Tahukah
  • Sirah
  • Renungan
  • Muslimbiz
    • Muslimtrip
  • Berita
  • Cari
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Islampos
[adinserter block="1"] [adinserter block="17"]

Pelajaran Imam Syafi’i, Rezeki Bukan Sekadar Angka

by Saad Saefullah
5 tahun ago
in Ibrah
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Imam Bukhari Imam Syafi' Nikmatnya Hidup Sederhana, Imam Muslim, Saya Tidak Tahu, Imam Ibnu Rajab, Hasan Al-Bashri, Syekh, Thufeil Bin Amr Ad-Dausi, Fatwa Harian Modern, Sejarah Penulisan Hadis, Imam Ahmad, Imam asy-Syafi'i, Nasihat Imam Al-Ghazali, Imam Ahmad, Imam Ahmad, Imam Syafi'i, Abu Zayd Hunayn, Ibnu Athaillah, Ibnu Khaldun, Perbedaan Habib dan Syekh, Hasan Al Basri, Ulama, Syuraih bin Al-Harits bin Qais, Kata-kata Bijak Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Abbad bin Bisyr

Foto: Pinterest

[adinserter block="3"] [adinserter block="19"]

Oleh: Muhamad Mulkan Fauzi

KISAH belajar dari kisah seorang buruh yang mengadu kepada Imam Syafi’i tentang kemalangan keluarganya, ketika upah kerja yang ia terima tak sanggup membahagiakan istri dan anaknya di rumah. Suatu ketika, “Wahai imam, sesungguhnya aku tengah ditimpa kemalangan, tolonglah aku!”

Imam Syafi’i kemudian bertanya, “Ada apa gerangan dengan engkau?”

Kemudian berceritalah si buruh itu kepada Imam Syafi’i tentang kemalangan yang tengah dideritanya, “Ya Imam, aku bekerja, gajiku besar: 5 dirham per hari, tapi keluargaku tak bahagia; kami pas-pasan; istriku tidak menghormatiku, anakku bandel tidak alang kepalang. Apa yang mesti aku lakukan?”

ArtikelTerkait

Sapu Cinta dari Sultan Abdul Hamid II

Istighfar dan Para Ulama Salaf

Kunci Menjadi Kaya: Sedekah dan Keberkahan harta

Sunnah Keluar Rumah, oleh: Ustadz Dr. Khalid Basalamah, Lc., MA.

rezeki Imam Syafi'

BACA JUGA: Sejak Kecil, Imam Syafi’i Belajar Ilmu Agama dengan Semangat Membara

“Besok temui bosmu, minta kurangi upahmu menjadi 4 dirham saja,” nasihat Imam Syafi’i.

Dengan kepala yang kebingungan, lisan dan hatinya mempercayai perkataan Imam Syafi’i. ‘Ini Sang Imam. Ia orang benar. Aku percaya’ gumamnya dalam hati. “Baiklah.” ucapnya.

Selang beberapa hari berlalu, si buruh ini kembali menemui Imam Syafi’i, meminta petuahnya untuk masalah yang masih sama.

“Ya Imam, seperti nasihatmu, aku menghadap bosku. Sekarang upahku 4 dirham saja, tetapi keluargaku tetap tidak bahagia; keadaan kami masihlah sama; Istri dan anakku masihlah seperti sebelumnya. Apa yang harus aku lakukan lagi, wahai Imam?”

“Temui lagi bosmu, minta ia untuk kurangi lagi upahmu jadi 3 dirham saja.”

Mungkin saja terbesit dalam pikiran si buruh, ‘Makin aneh aja ini nasihat. Tapi ia orang benar. Aku percaya.’, tetapi kemudian ia berkata, “Baiklah, aku akan meminta bosku untuk mengurangi upahku jadi 3 dirham.”

Beberapa waktu kemudian, si buruh kembali menghadap kepada Imam Syafi’i dengan wajah yang berbeda, “Ya Imam, Ma Syaa Allah, Tabarakarrahmaan, upahku sekarang cuma 3 dirham, tapi rasanya semua cukup, bahkan berlimpah. Upahku cuma 3 dirham, tapi sekarang tiap aku pulang sambutan istriku begitu aduhai… manis sekali, lembut, mesra; begitu luar biasa. Upahku cuma 3 dirham, Ya Imam, tapi anakku sekarang itu patuh-patuh, sholeh-sholeh, rajin-rajin ibadahnya; keluarga kami dilimpahi keberkahan; keluarga kami seperti dimudakan beberapa tahun, berbeda sekali ketika upahku 5 dirham. Apa sebenarnya yang terjadi?”

rezeki Imam Syafi'

Imam Syafi’i kemudian membacakan sebuah syair yang indah sekali,

“Dia mengumpulkan yang haram
untuk masuk kepada yang halal
dia kira supaya menjadi banyak
padahal merusak…”

“Lantas sebenarnya apa pekerjaanmu?” lanjut Imam Syafi’i bertanya.

BACA JUGA: Guru Imam Bukhari dan Muslim adalah Murid Imam Syafi’i

“Aku bekerja menjaga gudang saja. Pekerjaan yang santai-santai. Gak terlalu capek,” jawab si buruh itu.

“Pantas,” balas Imam Syafi’i, “pekerjaanmu itu nilainya 3 dirham saja. Maka ketika engkau menerima 5 dirham, 2 dirham sisanya itu bukan hakmu; 2 dirham itulah yang merusak keberkahanmu.”

https://www.youtube.com/watch?v=w9NHXdd25ao

Apa yang dapat kita ambil pelajaran, adalah bahwa rezeki bukanlah sekumpulan angka-angka; rezeki adalah pintu masuk keberkahan yang dicurahkan pada hati-hati yang terlatih untuk berbahagia dengan penerimaan sepenuh tulus akan sebuah ketetapan, bukan pada yang menginginkan lebih, sedang apa yang dilakukan tak sepadan. []

KATA BIJAK IMAM SYAFI’I

Kafaa bialilm fadilat ‘ana yudaeiyah min lays fiha, wayafrah ‘iidha nisab ‘iilayh

“Cukuplah ilmu menjadi sebuah keutamaan saat orang yang tak memiliki mengaku-ngaku memilikinya dan merasa senang jika dipanggil dengan gelar ilmuwan.”

Wakafaa bialjahl shina ‘an yatabaraa minh man hu fih, wayughdib ‘iidha nisab ‘iilayh

“Cukuplah kebodohan menjadi aib saat orang yang bodoh merasa terbebas darinya dan marah jika digelari dengannya.”

“Jika kamu tidak tahan terhadap penatnya belajar, maka kamu akan menanggung bahayanya kebodohan”

“Ilmu itu seperti air. Jika ia tidak bergerak, maka ia akan menjadi keruh lalu membusuk”

Imam Syafi'i
Foto: AsSajidin

“Aku mampu berhujah dengan 10 orang berilmu, tapi aku akan kalah pada satu orang yang jahil (bodoh) karena ia tidak tahu akan landasan ilmu.”

“Andaikan aku ditakdirkan mampu menyuapkan ilmu kepadamu, pasti kusuapi engkau dengan ilmu.”

“Besarnya rasa takut itu sesuai dengan kapasitas ilmunya.”

BACA JUGA:  3 Amal yang Paling Berat menurut Imam Syafi’i

“Betapa aku senang, jika semua ilmu yang aku ketahui dimengerti oleh semua orang. Maka dengannya aku mendapat pahala, meskipun mereka tidak memujiku.”

“Ilmu itu bukan yang dihafal, tetapi yang memberi manfaat.”

“Orang yang pandai akan bertanya tentang apa yang ia ketahui dan tidak ia ketahui. Dengan menanyakan apa yang ia ketahui, maka ia akan semakin mantap, dan dengan menanyakan apa yang belum ia ketahui, maka ia akan menjadi tahu. Sementara orang bodoh itu meluapkan kemarahannya karena sulitnya ia belajar, dan ia tidak menyukai pelajaran.”

Tags: imam syafi'irezeki
ADVERTISEMENT
Previous Post

7 Pulau Terpencil di Indonesia, Cocok untuk Destinasi Wisata di tengah Pandemi

Next Post

Perang Cristiano Ronaldo VS Coca Cola

Saad Saefullah

Saad Saefullah

Lelaki. Tidak terkenal. Menyukai kisah-kisah Nabi dan Para Sahabat.

Related Posts

Sultan Abdul Hamid II

Sapu Cinta dari Sultan Abdul Hamid II

7 Juli 2025
Imam Syafi'i, Ulama, Madzhab, Istighfar

Istighfar dan Para Ulama Salaf

5 Juli 2025
Rezeki, Jalan Rezeki, pencuri, Uang Haram, Sedekah

Kunci Menjadi Kaya: Sedekah dan Keberkahan harta

4 Juli 2025
Pahala, Sunnah Keluar Rumah

Sunnah Keluar Rumah, oleh: Ustadz Dr. Khalid Basalamah, Lc., MA.

21 Juni 2025
Please login to join discussion

Tulisan Terbaru

Melakukan Perubahan, sifat jujur, orang yang meninggalkan shalat, istidraj, FITNAH, SYAHWAT, maksiat, bunuh diri, dosa, maksiat, taubat

5 Alasan Jangan Mengungkit Dosa Masa Lalu Seseorang yang Sudah Bertaubat

by Yudi
14 Juli 2025
0

agar tidak mengulangi dosa, mengganti shalat wajib, dosa jariyah, mandi, dosa, shalat

Jangan Tinggalkan Shalat Meski Badan Kotor saat Kerja, Tidak Semua Kotor Itu Najis

by Yudi
14 Juli 2025
0

Senin

Jangan Lagi Bilang “Nggak Suka Senin!”

by Dini Koswarini
14 Juli 2025
0

Cerai, Sebab Zina Dilarang dalam Islam, zina, Penyebab Lelaki Selingkuh, Talak

Talak: Halal yang Dibenci, Senjata Iblis untuk Memecah Belah

by Saad Saefullah
13 Juli 2025
0

Laporan Donasi Islampos Juli 2025: Alhamdulillah, Sudah Terkumpul Rp2.390.999!

by Saad Saefullah
13 Juli 2025
0

Terpopuler

No Content Available
Facebook Twitter Youtube Pinterest Telegram

© 2022 islampos - Membuka, Menginspirasi, Free to Share.

No Result
View All Result
  • Home
  • Beginner
  • Tahukah
  • Sirah
  • Renungan
  • Muslimbiz
    • Muslimtrip
  • Berita
  • Cari

© 2022 islampos - Membuka, Menginspirasi, Free to Share.