Kenapa Kita Tidak Takut kalau Ini Hari Terakhir Kita Bisa Sedekah

Foto: blogging4everyone.info
0

 

Oleh: Ernydar Irfan

“KENAPA boros bener, biasanya berapa teh celup buat 1 teko, ini satu teh celup buat 1 gelas?” Tanya ibu yang duduk di depanku membuka percakapan.

“Mungkin 1 teh celup buat hitungan porsi minumannya bu,” kataku.

Beliau tersenyum. “Iya. Bisa jadi,” katanya.

“Zaman sekarang, semua dikomersilkan. Sampai melepaskan kesempatan sedekah. Padahal memberi air minum buat pembeli tanpa disadari itu juga sedekah,” katanya ringan.

“Mungkin air putih nya sekarang orang beli isi ulang bu, kan pakai modal juga. Atau bisa jadi kalau dikasih minum teh gratis pendapatannya dari pemesanan minuman berkurang,” jawabku.

“Kalau airnya tak beli dari isi ulang, kan masaknya pakai gas juga nak. Sebenarnya ini soal membaca peluang. Banyak pedagang cuma sibuk menghitung pendapatan, untung, omzet, jarang yang menghitung melipat gandakan keberkahan.

Ibu juga punya rumah makan. Tapi ibu siapkan minuman gratis air mineral di gucci dan teh dengan teko. Tapi mereka ambil sendiri di meja khusus, jadi mereka bisa memilih apa yang mereka kehendaki. Atau kalau mereka lebih memilih jenis minuman yang tak gratis, air-air itu tidak mubadzir. Anak pernah dengar cerita seorang pelacur yang masuk surga karena memberi minum anjing yang kehausan?” tanyanya serius.

“Iya bu,” jawabku.

“Nah, menurut ibu, jika kita bukan pelacur dan memberi minum tamu atau pelanggan yang haus ibu pikir kesempatan kita meraih surga pun besar. Itu kesempatan, jangan sampai dilepaskan,” ceritanya.

“Kalau kita percaya besaran rejeki kita sudah ditetapkan Allah, kenapa kita takut untung kita berkurang? Kenapa kita takut untung kita sedikit? Kenapa kita tidak takut kalau hari itu hari terakhir kita bisa sedekah? Dengan memberi air minum, kadang kita pun lupa kalau kita bersedekah, bukankah itu baik?
Ibu sudah berjualan lebih dari 30 tahun di lampung, tapi tidak pernah sekalipun ibu merugi karena memberi air minum. 5 Anak ibu sekolah minimal Sarjana, 2 orang sampai S2, Bapak sudah tidak ada sejak anak-anak kecil. Anak-anak sekarang sudah jadi semua, rumah makan saya percayakan pada pekerja saya,” tambahnya lagi.

Tak henti dari itu, ibu melanjutkan ungkapan hatinya, “Anak musti ingat, seberapapun sedekah yang kita keluarkan tak akan pernah mengurangi hak kita atas berapa jumlah rejeki kita. Tak sedikitpun mengurangi harta benda kita. Jadi jangan takut sedekah, katanya disuapan terakhir nasi sotonya.”

Saya terkesima dengan nasihatnya. Benar, kadang kita begitu pandai melihat peluang meraih rejeki, tapi kurang pandai melihat peluang sedekah. Mari lebih cerdas melihat peluang sedekah, InsyaAllah menaikkan berkah. []

DISCLAIMER: Tulisan ini secara ekslusif diberikan hak terbit kepada www.islampos.com. Semua jenis kopi tanpa izin akan diproses melalui hukum yang berlaku di Indonesia. Kami mencantumkan pengumuman ini di rubrik Kolom Ernydar Irfan dikarenakan sudah banyak kejadian plagiarisme kolom ini di berbagai media sosial.

loading...
loading...

You might also like More from author

Comments

Loading...