ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Apa Sebab Turunnya Ayat tentang Khusyu?

Foto: Youtube
0

PERNAHKAH Anda mengalami ketidak khusyuan dalam shalat? Jangan-jangan shalat yang kita lakukan malah menjadi sia-sia. Shalat sejatinya menghadirkan Allah SWT dalam setiap gerakan shalat. Namun kendala seorang manusia biasanya bukan malah menghadirkan Allah SWT akan tetapi mengingat masalah dan sesuatu yang berkaitan dengan dunia, sehingga kekhusyuan dalam shalat pun terganggu.

Lalu apa yang menjadi sebab seseorang tidak dapat khusyu dalam shalatnya? Kekhusyuan dalam mendirikan shalat sangatlah penting karena pengaruh dari khusyu akan memberikan ketenangan masalah karena sejatinya kita melakukan shalat dan membaca kalimah-kalimah shalat dianalogikan sebagai dialog kita dengan Allah.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an:

حَافِضُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلاَةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا للهِ قَانِتِينَ {238} فَإِنْ خِفْتُمْ فَرِجَالاً أَوْ رُكْبَانًا فَإِذَآ أَمِنتُمْ فَاذْكُرُوا اللهَ كَمَا عَلَّمَكُم مَّالَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ }

“Peliharalah segala shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wustha. Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’. Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan. Kemudian apabila kamu telah aman, maka sebutlah Allah (shalatlah), sebagaimana Allah telah mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui,” (QS. Al-Baqarah: 238-239).

Kemudian diperjelas kembali oleh suatu riwayat mengenai sebab-sebab turunnya ayat tentang kekhusyuan shalat diantaranya:
Al-Hakim meriwayatkan dari Abu Hurairah R.A bahwa Rasulullah apabila shalat, mengangkat kepalannya memandang ke langit. Maka turunlah ayat: ( yaitu) orang-orang yang khusyu dalam shalatnya.

Ibnu Marwaih meriwayatkan dengan lafazh: Rasulullah dahulu menoleh pada waktu shalat.

Sa’id bin Mashur dan Ibnu Sirin meriwayatkannya secara mursal dengan lafazh: beliau dahulu membolak-balikkan pandangannya, maka turunlah ayat ini.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Sirin secara mursal: Para sahabat dahulu memandang kearah langit pada waktu shalat, maka turunlah ayat ini.

Shalat yang khusyu adalah dimana ketika seseorang melaksanakan shalatnya, sesuai dengan tuntunan Rasulullah, terpenuhi syarat dan rukunnya. Berusaha untuk menghadirkan hatinya sehingga dia betul-betul merasa di hadapan Allah, seolah-olah ia berdialog dengan Allah, merasa bahwa Allah memperhatikan segala apa yang sedang dikerjakannya. Yang demikian itu menjadikan hati dan jiwanya tentram.

Adapun beberapa hal yang dapat menghalangi seseorang untuk khusyu: mengantuk dalam shalat, tidak mengerti apa yang dibaca dalam shalat, mengangkat mata atau penglihatan ke atas.

Agar shalat menjadi khusyu diantaranya:

a. Berusaha untuk berkonsentrasi selama pelaksanaan shalat berlangsung
b. Berusaha untuk tulus dan ikhlas
c. Berusaha untuk mengarahkan pandangan ke tempat sujud
d. Berusaha untuk mengerti apa yang dibaca di dalam shalat
e. Berusaha untuk menghayati seluruh bacaan di dalam shalat
f. Mengerjakan shalat sesuai dengan syarat dan rukunnya sebagaimna yang telah diajarkan Rasulullah kepada para sahabat di kala itu sampai kepada kita hari ini.

Dari sebuah kekhusyuan hakikatnya kita seperti berinteraksi dengan Allah. Apapun permasalahan kita diusahakan untuk tetap selalu ingat Allah dan selalu memperbaiki shalat kita agar kesempurnaan dalam shalat senantiasa dapat kita rasakan khasiat bahwa shalat itu adalah pencegah kemungkaran.[]

Sumber: Fikih wanita praktis/ Darwis Abu Ubaidah/ Pustaka Al-Kautsar

loading...
loading...