Terkait Krisis Rohingya, AS Disebut Akan Bekukan Asset Jenderal-jenderal Myanmar

0

WASHINGTON— Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat menyatakan sedang mempertimbangkan untuk menjatuhkan sanksi terhadap Myanmar berdasarkan undang-undang Global Magnitsky.

“Kami mengungkapkan keprihatinan kami yang paling serius dengan kekerasan baru-baru ini di negara bagian Rakhine di Myanmar terhadap etnis Rohingya dan komunitas lainnya,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat.

Seperti yang dilansir Reuters pada 24 Oktober 2017, Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat juga mengatakan harus ada individu ataupun entitas yang bertanggung jawab atas kekejaman, termasuk aktor dan warga negara maupun non-negara.

Warga minoritas Muslim Rohingya telah meninggalkan negara bagian Rakhine, Myanmar, dalam jumlah besar sejak akhir Agustus. Ini terjadi setelah militer Myanmar dan milisi garis keras Budha menyerang rumah dan desa mereka di Rakhine. dengan melakukan pembunuhan massal dan pembumihangusan tempat tinggal.

Berdasarkan wawancara dengan lusinan diplomat dan pejabat pemerintahan di Washington, Yangon-Myanmar, dan Eropa, terungkap rencana AS mengenakan sanksi yang secara khusus menyasar para jenderal senior Myanmar.

Sanksi itu termasuk pembekuan asset dan melarang warga negara AS berbisnis dengan para petinggi militer Myanmar yang menjadi target sanksi itu. Sanksi ini diterapkan di bawah kewenangan UU Magnitsky.

43 anggota DPR AS telah mendesak pemerintahan Trump mengenakan sanksi larangan berkunjung ke AS kepada para pemimpin militer Myanmar dan harus bersiap menerapkan sanksi lebih keras kepada mereka yang bertanggung jawab atas penindasan Rohingya.

UU Magnitsky awalnya diloloskan pada 2012 dan semula ditujukan untuk pengenaan sanksi larangan menerbitkan visa dan pembekuan asset para pejabat Rusia berkaitan dengan kematian aktivis Rusia berusia 37 tahun Sergei Magnitsky di dalam penjara Rusia.

Sejak itu undang-undang tersebut dinamai UU Magnitsky yang kali ini akan dikenakan kepada para jenderal Myanmar. []

loading...
loading...
Langganan newsletter Kami
Langganan newsletter Kami
Daftar dan dapatkan informasi update dari Kami langsung ke Inbox e-mail Anda
Kamu dapat berhenti berlangganan kapanpun

Maaf Anda Sedang Offline