ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Survei: Saat Ini Dunia berada di Titik paling Tidak Bahagia

0

Advertisements

AMERIKA SERIKAT—Tingkat kebahagiaan dunia kini berada pada tingkat terendah dalam satu dekade terakhir. Saat ini jumlah orang yang mengatakan merasa stres dan khawatir terus meningkat, menurut survei yang dipublikasikan pada Rabu (12/9/2018).

Republik Afrika Tengah (CAR) yang dilanda konflik, menjadi tempat terburuk di dunia pada tahun 2017 lalu dan Irak di tempat kedua, menurut peringkat oleh jajak pendapat Gallup.

BACA JUGA: Tentang Arti Kebahagiaan

“Secara kolektif, dunia lebih tertekan, khawatir, sedih, dan sakit daripada yang pernah kami saksikan,” kata redaktur pelaksana Gallup, Mohamed Younis yang ia tulis dalam kata pengantar untuk studi tersebut.

Gallup telah mensurvei lebih dari 154.000 orang di 146 negara mengenai apakah mereka merasakan sakit, khawatir, stres, marah, atau sedih pada hari sebelumnya. Dikatakan bahwa suasana global sedang suram sejak survei pertama pada 2006.

Negara-negara Sub-Sahara Afrika menjadi negara terendah tingkat kebahagiaannya, dengan 24 dari 35 negara dalam 10 tahun terkahir pada tahun 2017. Akibat seringnya terjadi kerusuhan masyarakat yang melumpuhkan sistem perawatan kesehatan dan menyebabkan bencana kelaparan.

“Di CAR dan beberapa tempat lain, rata-rata orang berjuang hanya untuk mendapatkan kebutuhan dasar,” kata penulis utama studi tersebut, Julie Ray, kepada Thomson Reuters Foundation.

BACA JUGA: Berbaik Sangka kepada Allah Membuat Bahagia

CAR telah dirusak oleh kekerasan, dengan sebagian besar negara sekarang berada di luar kendali pemerintah, dan sekitar tiga dari empat penduduk mengatakan mereka mengalami rasa sakit dan khawatir.

Tak hanya Afrika, negara-negara kaya pun ternyata tidak kebal terhadap penurunan suasana hati.

Sekitar setengah warga AS yang diwawancarai mengatakan bahwa mereka merasa tertekan—kira-kira proporsi responden sama seperti di CAR.

Ekonom Jan-Emmanuel De Neve mengatakan itu keadaan ini amat “mengganggu” suasana global yang memburuk, padahal dilatarbelakangi oleh meningkatnya kekayaan dan kemajuan material.

“Peningkatan kekayaan pada kenyataannya tidak membuat orang-orang bahagia,” kata De Neve, seorang profesor di Universitas Oxford, yang telah menulis tentang hubungan antara pendapatan dan kebahagiaan.

Paraguay menduduki peringkat kedua sebagai negara-negara yang positif, di mana warga ditanya apakah mereka merasa cukup istirahat, telah diperlakukan dengan hormat, menikmati diri mereka sendiri, atau belajar sesuatu pada hari sebelumnya. Sedangkan Yaman yang dilanda perang dan Afghanistan berada di titik terendah. []

SUMBER: PRESSTV

Artikel Terkait :

loading...
loading...

Sponsored

Maaf Anda Sedang Offline