ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Suami, Belajarlah dari ‘Sisi Positif’ Kaum Jahiliyah

Foto: danheller
0

APA yang Anda pikirkan ketika mendengar kata ‘kaum jahiliyah?’ Sudah pasti yang ada dalam benak kita adalah tentang kebodohan, pembunuhan anak perempuan, perbudakan, penyembah berhala, doyan mabuk dan judi, dan sebagainya. Namun kita melupakan sisi lain dari mereka.

Ibarat melihat sebuah kapur. Di satu sisi kita melihat kapur itu panjang. Namun di sisi lainnya kita akan melihat bahwa kapur itu berbentuk bulat. Begitupun dengan kaum Jahiliyah.

Dari penggambaran yang tidak utuh inilah pemahaman kita terbentuk. Kemudian nalar kita pun tertidur. Pernahkan kita mempertanyakan mengapa Allah SWT memilih tanah dan bangsa Arab yang tandus sebagai pionir menyebarkan misi rahmatan lil ‘alamin. Padahal Allah SWT berfirman:

“Allah lebih mengetahui dimana Dia menempatkan tugas kerasulan.” (QS. Al-An’am: 124).

Ketika menafsirkan ayat ini, Imam Ibnu Katsir ra mengatakan, “Allah mengetahui dimana dia menempatkan misi kerasulan. Siapa yang paling pantas menerima risalah ini dari makhluknya.” (Tafsir al-Quran al-Azhim)

Kita ketahui, Allah menjadikan tanah Arab dan bangsa Arab sebagai pembawa risalah. Ditokohi oleh orang terbaik di antara mereka, yakni Muhammad bin Abdullah. Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya Allah memilih Kinanah dari keturunan Ismail. Memilih Quraisy dari keturunan Kinanah. Memilih Hasyim dari keturunan Quraisy. Dan memilihku dari Bani Hasyim.” (HR. Muslim 7/58 dan selainnya).

Allah SWT memilih suku bangsa Arab (keturunan Ismail) dibanding suku bangsa lainnya di muka bumi ini bukan tanpa alasan. Lalu Allah SWT memilih lagi yang terbaik dari yang terbaik di antara mereka, yakni Muhammad bin Abdullah.

Lalu apa sisi kebaikan kaum Jahiliyiah yang terkenal dengan kebodohan ini?

Karakter dan akhlak mulia bangsa Arab telah diketahui banyak orang. Karakter tersebut ada yang merupakan pengaruh bangsa non Arab. Adapula yang merupakan kekhasan mereka sendiri. Di antara akhlak mulia Arab jahiliyah adalah menjaga pandangan dari aib tetangga dan menjaga kehormatan mereka.

Saat para suami bersafar dan meninggalkan istri-istri mereka, tetangga-tetangga merekalah yang menyediakan kebutuhan. Walaupun demikian, mereka juga menjadi orang yang paling tidak ingin melihat aib tetangganya itu.

Hatim ath-Thai berujar dalam syair yang ia gubah:

“Apiku dan api tetanggaku adalah satu.
Aku menyediakan teko untuknya.
Tidaklaah merugikanku tetangga di sebelahku.
Tak seharusnya ada penutup di pintunya.”

“Api kami adalah api yang satu,” artinya “Kami masak dari tungku yang sama.” Dengan kata lain mereka saling bergantian memasakkan makanan. Hal ini menunjukkan keakraban dan kedekatan hidup bertetangga masyarakat jahiliyah kala itu. Sampai minumnya pun dari teko yang sama. Jika ada keperluan, mereka mudah terhubung, karena tidak ada penutup pintu antara rumah mereka. Betapa masyarakat Arab jahiliyah memiliki nilai-nilai yang tinggi dalam menghormati tetangga.

Selain itu masyarakat Arab dikenal memiliki kecemburuan yang tinggi. Dalam arti, mereka punya rasa memiliki yang kuat. Istri adalah milik suaminya. Karena itu, mereka tidak suka orang-orang bertemu istrinya tanpa seizinnya. Kebiasaan ini sesuai dengan nilai-nilai luhur yang diajarkan Islam. Rasulullah SAW bersabda:

“Janganlah salah seorang di antara kalian berdua-duaan dengan seorang wanita (yang bukan mahramnya) karena setan adalah orang ketiganya.” (HR. Ahmad 1: 18. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih, para perowinya tsiqoh sesuai syarat Bukhari-Muslim).

Bertolak belakang dengan kondisi di era sosial media pada zaman ini. Para istri menampakkan diri di hadapan orang lain dan suami mengganggap hal itu biasa. Istri memajang foto-fotonya di sosial media tanpa rasa bersalah terhadap suaminya. Dan jika ada suami yang marah dengan kelakuan istrinya itu dianggap mengekang, kaku, kolot, dan over protektif.

Sisi baik kaum Jahiliyah adalah ketika mereka berkunjung ke rumah orang. Islam mengajarkan adab. Di antaranya berdiri di samping pintu bukan di depan pintu. Saat berdiri di depan pintu, bisa jadi kita melihat hal-hal di dalam rumah yang sebenarnya tidak ingin ditampakkan oleh pemilik rumah. Orang jahiliyah dulu menjaga diri dari aib tuan rumah ini. Jangan sampai mereka melihat yang tidak diinginkan tuan rumah.

Orang-orang jahiliyah juga menghormati wanita; istri-istri dan anak-anak gadis tetangga. Mereka tak mau menjumpainya di rumahnya tanpa izin dari walinya.

Namun di era modern saat ini, kita saksikan tidak hanya menemui di rumahnya, bahkan laki-laki jalan bareng dengan perempuan. Keadaan ini sebenarnya lebih parah dari menemui perempuan di rumah. Tentu ini menjadi indikator kualitas kecemburuan para wali gadis di masa sekarang. Dan kualitas iffah (menjaga kehormatan diri) wanita di abad sekarang. Rasulullah SAW bersabda:

“Berhati-hatilah kalian masuk menemui wanita.” Lalu seorang laki-laki Anshar berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat Anda mengenai ipar?” Beliau menjawab, “Hamwu (ipar) adalah maut.” (HR. Bukhari no. 5232 dan Muslim no. 2172). []

Sumber: kisahmuslim.com/6002-akhlak-masyarakat-jahiliyah-menghormati-tetangga.html

loading...
loading...