Sabar dan PHP yang Manjur

0

Oleh: Baga Triyatmojo

 

SELALU ada yang pertama untuk setiap hal. Ia menjadi salah satu guru yang terbaik, karena memperkenalkan, mengawali, lalu mengajarkan. Berikutnya adalah pembelajaran.

Jadi ceritanya, pertengahan Oktober kemarin, pertama kalinya saya ngikut naik gunung. Dulu sih pernah naik gunung, cuma naek kendaraan ke atasnya, he. Kemarin adalah pertama kalinya mendaki dari bawah, hingga ke puncaknya.

Semula gak kebayang, saya yang emang basically lemah secara fisik, dan cuma baru baru ini aja rajin olahraga, diberi kesempatan juga untuk naik gunung, ya, biar jadi pembelajaran.

2821 mdpl, kurang lebih segitu sih tinggi gunungnya, Cikuray, di Garut. Semula saya langsung membayangkan, kalau rata rata tinggi satu anak tangga itu 20 cm, berarti kalau gunung tersebut dibuat susunan anak tangganya, akan ada kurang lebih 14000 anak tangga. Bayangin jumlah anaknya aja udah puyeng, ngitung satu-satu anak tangga yang kayak ga ada abisnya.

Setelah selesai berdo’a dan segala macem persiapan pendakian, naiklah kita ber-enam sekitar pukul 08.30-an. Awal naik udah dihadapkan ke tanjakan kebun teh yang bikin lemes duluan.

Total jumlah pos di gunung Cikuray, kalo lewat jalur Pemancar, ada 7 pos. Pos 1 ke 2 dan pos 2 ke 3 itu yang paling jauh jaraknya dibandingin pos lainnya. Dan saya, di antara temen lainnya, yang minumnya paling banyak. Cepet haus sih, he. Dan berhubung gunung Cikuray ini ga ada air dari bawah sampai ke puncaknya, alhasil air yang dibawa dari bawah harus diirit irit sampe besok pagi.

Related Posts
1 of 5

Sekian jam berlalu, sekian pos dilewati, tinggal sisa melanjutkan pos 6 ke pos 7, sekaligus nyari tempat buat camp, jalan tinggal pake sisa sisa napas, saya aja sih, yang lain mah pada seger keliatannya.

Setiap ada pendaki yang turun, saya tanya, “Bang, Bang, Pos 7 masih jauh ngga?” dijawab dengan indah banget, “Oh ngga, itu tinggal dikit lagi, nanti belokan ke kanan, jalanannya landai kok, yaaaa 2 menitan lagi lah“. Mendengar 2 menit lagi, langsung deh semangat lagi. Tapi harusnya saya inget kalo nanya pendaki lain itu, biasanya dikasih jawaban yang menghibur, biar semangat. Dan bener aja, yang katanya 2 menit lagi itu, setelah 30 menit jalan kagak sampe sampe, PHP!

Sesaat itu saya tersadar, terkadang kehadiran harapan itu, bukan untuk meyakinkan, bahwa apa yang kita harapkan pasti ada, tapi untuk membangkitkan kekuatan dan kesabaran dalam diri kita untuk tetap melangkah, walau yang hendak kita capai belum tentu ada.

Alhamdulillah itu manjur, dengan harapan harapan yang palsu itu, saya yang udah tinggal sisa tenaga bisa tetap melanjutkan perjalanan. Di detik detik akhir itu, (duileee udah kaya mau apa deh), saat tenaga udah sisa sisanya, saat air di tas sendiri udah ngga ada, saat saya kepisah dari temen, karena disuruh duluan nyari spot buat ngecamp, saat saya berjalan 10 meter dan berhenti semenit, sempat terpikir, “kok saya masih kuat jalan ya?”

Alhamdulillah, bisa jadi ini semua adalah kemudahan dari Allah, saat ngga ada siapa siapa di sekitar kita, saat kita tidak juga membawa apa – apa, saat jalan di hadapan kita begitu belum pasti adanya. Pertolongan dan kemudahan dari Allah bisa hadir di mana saja.

Di perjalanan menuju pos terakhir itu, rasa rasanya kaki menjadi sedikit enteng, ada tenaga tenaga yang udah berserakan tinggal serpihan itu berkumpul lagi.Dan alhamdulillah, setelah kurang lebih 7 jam perjalanan, sampe juga di pos akhir sebelum puncak.

Sampai di sini sih, ya gitu, masang tenda, beres beres, masak masak, istirahat sampe besok pagi. Dan melanjutkan foto foto di puncaknya besok pagi. Turun deh, setelah kita merasakan sulitnya jalanan mendaki, kita akan merasakan kemudahan dari jalanan menurun. Asalkan sabar menjadi sahabat setia yang membersamai kita. []

loading...
loading...
Langganan newsletter Kami
Langganan newsletter Kami
Daftar dan dapatkan informasi update dari Kami langsung ke Inbox e-mail Anda
Kamu dapat berhenti berlangganan kapanpun

Maaf Anda Sedang Offline