DI zaman serba digital seperti sekarang, banyak orang berlomba-lomba menampilkan kehidupan pribadinya di media sosial. Salah satu tren yang sering terlihat adalah para suami yang gemar membuat konten untuk memamerkan kecantikan istrinya. Mereka mengunggah foto atau video sang istri dengan berbagai caption pujian, misalnya “Istriku cantik banget hari ini,” “Si cantik kesayanganku,” atau “Bersyukur punya istri secantik ini.”
Jika dilihat sekilas, tindakan ini tampak wajar. Seorang suami memang dianjurkan untuk memuji dan menyanjung istrinya. Bahkan dalam rumah tangga, pujian seperti ini sangat diperlukan agar istri merasa dihargai dan semakin percaya diri. Dalam Islam pun, Rasulullah SAW mencontohkan untuk memanggil istri dengan panggilan sayang dan penuh kelembutan.
Namun, ada beberapa hal yang patut menjadi renungan bersama. Pertama, tentang niat. Niat adalah hal paling penting dalam setiap perbuatan. Apakah ketika memposting kecantikan istri di media sosial, suami benar-benar berniat memuji dan membahagiakan istri? Ataukah diam-diam ingin mendapat validasi dari orang lain, menimbulkan rasa iri, atau bahkan ingin dipuji karena memiliki istri yang cantik?
BACA JUGA: Pertengkaran dalam Rumah Tangga, Sebab Suami atau Istri Tidak Puas
Dalam hadits disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Barangsiapa yang memamerkan amalnya, maka Allah akan mempermalukannya pada hari kiamat.”
(HR. Muslim)
Memamerkan di sini bukan hanya amal ibadah, tetapi juga perbuatan baik lain yang diniatkan bukan untuk Allah, melainkan untuk pamer kepada manusia.
Kedua, tentang menjaga aurat istri. Di era media sosial, batasan aurat dan rasa malu sering kali menipis. Banyak suami yang tanpa sadar memposting foto atau video istri yang menampakkan auratnya, entah itu rambut, bagian tubuh tertentu, atau mengenakan pakaian ketat. Padahal dalam Islam, aurat wanita adalah kehormatan yang wajib dijaga. Rasulullah SAW bersabda:
“Wanita adalah aurat. Jika ia keluar (dari rumah), maka setan akan menghiasinya.”
(HR. Tirmidzi)
Postingan seperti ini juga berpotensi menimbulkan fitnah bagi orang lain yang melihatnya. Tidak semua orang memiliki pandangan bersih. Ada yang justru tergoda, ada yang iri, ada pula yang menaruh rasa suka kepada istri kita karena terlalu sering melihat tampilannya di media sosial. Ini dapat menimbulkan dosa bagi orang lain dan menimbulkan dosa pula bagi suami karena telah menjadi sebab fitnah tersebut.
Ketiga, dari sisi psikologis, terlalu sering memamerkan kecantikan istri di media sosial juga tidak sehat. Tidak semua orang suka melihat kebahagiaan kita. Ada yang diam-diam membenci dan menunggu kita jatuh. Ada pula yang meninggalkan komentar buruk atau meremehkan, yang pada akhirnya justru menyakiti hati istri dan menimbulkan masalah baru dalam rumah tangga.
Keempat, kebiasaan memamerkan kecantikan istri dapat menimbulkan masalah dalam diri suami sendiri. Ia bisa terjebak dalam standar kebanggaan semu, merasa harga dirinya tinggi karena memiliki istri cantik. Padahal kecantikan fisik hanyalah titipan sementara. Jika istri sakit, tua, atau wajahnya berubah, apakah rasa bangga itu akan tetap sama? Suami sejati akan bangga kepada istrinya karena akhlak dan kesetiaannya, bukan semata kecantikannya.
Kelima, dari sisi pendidikan anak. Jika anak-anak kita melihat ayahnya sering mengumbar kecantikan ibu di depan umum, mereka akan tumbuh dengan pemahaman bahwa penghargaan kepada wanita hanya sebatas penampilan. Padahal seorang ayah seharusnya menanamkan kepada anak bahwa wanita dihargai karena ilmunya, akhlaknya, dan ibadahnya, bukan semata-mata kecantikannya.
Tentu bukan berarti suami tidak boleh memuji atau mengambil foto istri. Justru sangat dianjurkan untuk sering memuji istri sebagai bentuk kasih sayang. Namun pujian itu akan lebih berharga jika disampaikan langsung kepadanya, menatap matanya, dan membuatnya tersenyum penuh cinta, bukan semata untuk konsumsi publik.
BACA JUGA: Alasan Seorang Istri Ngambil Uang di Dompet Suami Tanpa Izin
Jika ingin membagikan momen kebersamaan di media sosial, pastikan niatnya benar. Bukan untuk pamer, melainkan untuk menebar inspirasi tentang rumah tangga yang saling menghargai. Pilihlah foto atau video yang pantas, yang tidak menampilkan aurat istri atau bagian tubuh yang seharusnya hanya untuk pandangan suami. Ingatlah, kecantikan istri adalah kehormatan, bukan untuk dipertontonkan kepada sembarang mata.
Pada akhirnya, cinta dan kebanggaan kepada istri memang baik jika diungkapkan. Namun akan lebih indah jika diiringi dengan rasa syukur kepada Allah yang telah menghadiahkan pasangan hidup, serta disampaikan dengan cara yang menjaga kehormatan dan harga diri istri di hadapan manusia dan di hadapan Allah SWT. []









