Rupiah Anjlok, Ini Solusinya Menurut Islam

0

Oleh: Fathimah Adz

NILAI tukar rupiah bulan maret ini mengalami depresiasi yang cukup tajam terhadap dollar hingga mencapai Rp 13.000 per dollar AS. Beberapa negara di kawasan Asia seperti Malaysia, Thailand dan Korea Selatan juga mengalami hal serupa.

Namun pelemahan rupiah lebih besar dibandingkan negara-negara tersebut. Anjloknya nilai rupiah tentu sangat berbahaya bagi perekonomian Indonesia, termasuk kestabilan sosial negeri ini. Sebab, beberapa pengamat menilai jika sampai menyentuh 10.000 per dollar AS, maka dikhawatirkan krisis akan terulang. Akibat anjloknya nilai tukar rupiah dan kelemahan dalam mempertahankan stabilitas mata uang ini, pengamat pasar uang Farizal Anwar sempat menyatakan bahwa rupiah masuk ke dalam daftar uang sampah di dunia ini. (tempo.com)

BACA JUGA: Gubernur BI: Rupiah Anjlok akibat Ekonomi Riba

Adapun dampak negatif pelemahan rupiah bagi perekonomian Indonesia diantaranya adalah

1. Biaya impor menjadi semakin mahal

2. Beban utang vallas pemerintah dan swasta semakin tinggi.

Setiap depresi Rp 100 per dollar AS biaya bunga utang negara naik Rp 207 miliar atau Rp 2 triliun jika rupiah melemah Rp 1.000. Sedangkan korporasi, dimana (04 pengutang vallas tidak menggunakan Hedging (lingung nilai) sudah harus bersiap gulung tikar jika nilai tukar rupiah terus melemah.

3. Harga barang-barang impor dan barang yangmengandung bahan baku impor meningkat (imported infation).

4. Beban APBN juga semakin besar karena sebagian utang harus dibayar dengan dolar dan sebagian belanja barang dan modal juga berasal dari impor.

Pelemahan Rp 100 saja dari asumsi yang dipatok pada APBN akan menambah belanja langsung hingga Rp 2,5 triliun.

Jadi,,jika rupiah melemah Rp 1.000 saja, maka negara mengalami defisit anggaran sebesar Rp. 9 triliun – Rp. 12 triliun. (berbagai sumber)

Karena desakan berbagai pihak, akhirnya pemerintah mewacanakan solusi kebijakan atasi pelemahan rupiah tersebut, yaitu:

1) Pengurangan pajak penghasilan (Pph) atau tax allowancebagi perusahaan yang menahan dividennya dan melakukan reinvestasi.

2) Bea masuk anti dumping untuk impor.

3) Pembebasan visa bagi wisatawan asing.

4) Kewajiban pencampuran Bahan Bakar Nabati (BBN) sebanyak 15 persen untuk Solar.

5) Kewajiban menggunakan letter of credit (L/C) untuk produk-produk sumber daya alam.

6). Pembentukan perusahaan reasuransi domestik.

Menurut pengamat ekonomi politik Ichsanuddin Noorsy,, 6 paket ekonomi Jokowi itu tak ada gunanya. Sebab liberalisasi pasar yang ditanam SBY (presiden sebelumnya) sudah kokoh, maka sulit keluar dari masalah ini jika tidak mengganti UU No.24/1999 (tentang lalu lintas devisia dan nilai tukar rupiah) dan UU No.25/2007 (tentang pembebasan repatriasi). (pikiran-rakyat.com)

Direktur Institute Development of Economics dan Finance (indef) Enny Sri Hartati menilai, 6 langkah kebijakan pemerintah diatas tidak bisa menyelesaikan masalah dalam jangka pendek. Dampaknya kata dia, rupiah bisa terus melemah menyentuh angka Rp 14.000 per dollar AS. (bisnis keuangan.kompas.com).

Bahkan, Sekretaris Jenderal Seknas, Fitra Yenny Sucipto mengatakan justru 6 paket kebijakan tersebut dinilai hanya berpihak kepada kepentingan korporasi kakap, baik dalam maupun luar negeri (investor asing).

Menurutnya, pemerintah seharusnya fokus untuk menggarap dana-dana ilegal yang keluar pada tahun-tahun sebelumnya. Karena sejak 2001-2010 total dan ilegal yang keluar setidaknya ada Rp110 triliuan setiap tahunnya. Dia menambahkan, dengan adanya enam paket kebijakan tersebut perusahaan besar baik dalam maupun luar negeri akan tumbuh subur dan memperlebar kesenjangan sosial. (economy.okezone.com)

Berdasarkan hal tersebut, 6 langkah kebijakan pemerintah mengatasi masalah ekonomi dan pelemahan rupiah tidak akan menjadi solusi, yang ada malah menambah masalah baru.

Mengapa Rupiah Terus Melemah?

Sebagaimana halnya mata uang kertas lainnya, nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh faktor permintaan dan penawaran.

BACA JUGA: Terkait Melemahnya Nilai Tukar Rupiah, Prabowo: Indonesia sedang Tekor karena Banyaknya Hutang

Menurut lajnah mashlahiyah DPP HTI (hizbut-tahrir.or.id), ada beberapa faktor yang menjadi penyebab utama pelemahan rupiah belakangan ini, yaitu:

Pertama

Semakin tingginya ketergantungan Indonesia pada impor barang dan jasa seperti BBM,bahan pangan,bahan baku industri dan alat-alat berat lainnya. Di sisi lain, kinerja ekspor Indonesia mengalami penurunan baik akibat melemahnya permintaan berbagai negara tujuan ekspor maupun penurunan harga-harga komoditas terutama perkebunan dan pertambangan yang menjadi andalan ekspor Indonesia. Akibatnya, surplus neraca perdagangan Indonesia semakin menipis.

Kedua

Ketergantungan pada jasa asing terutama transportasi barang dan penumpang. Indonesia misalnya, masih sangat bergantung pada kapal asing untuk mengangkut barang ekspor dan impor. Demikian pula dengan pembayaran royalti, lisensi, sewa barang dan jasa berbasis kecakapan intelektual -seperti konsultan bisnis dan riset- kepada penduduk asing jauh lebih tinggi dibandingkan pendapatan Indonesia.

Ketiga

Tingginya investasi asing dan besarnya utang luar negeri pemerintah dan swasta membuat aliran pendapatan investasi keluar asing dan pembayaran bunga dari Indonesia ke luar negeri jauh lebih besar dibandingkan dengan yang masuk.

Keempat

Aliran masuk investasi terutama investasi portovolio seperti saham, obligasi dan transaksi derivatif mengalami peningkatan yang sangat besar. Meskipun demikian, dana-dana tersebut juga amat mudah untuk keluar, baik karena faktor fundamental seperti penurunan pertumbuhan ekonomi dan inflasi tinggi atau faktor spekulasi ,motif yang sangat mendominasi investasi di sektor ini. Dalam tiga tahun terakhir, neraca pembayaran Indonesia yang merupakan akumulasi dari poin-poin di atas sudah negatif alias dolar yang mengalir ke luar jauh lebih besar dibandingkan yang masuk ke Indonesia.

Kelima

Menurut M. Ishak (2014), mata uang Rupiah termasuk dollar adalah mata uang kertas yang tidak dijamin oleh komoditas yang bernilai (fat money).

Dengan demikian, mata uang ini dengan mudah dapat diproduksi oleh otoritas moneter suatu negara. Inilah yang dilakukan oleh
The Fed,
bank sentral AS untuk menyelamatkan ekonomi negara terbesar di dunia tersebut dari keruntuhan akibat krisis tahun 2008 . Besarnya kendali AS atas pasokan dolar membuat inflasi menjadi tak terkendali dan telah menyebabkan mata uang negara-negara lain khususnya di negara-negara berkembang yang bergantung pada dollar,, menjadi tidak stabil. Padahal, nilai tukar yang tidak stabil sangat merugikan. Sekedar contoh PLN pada
tahun 2012 mengalami rugi selisih sebesar Rp 5,9 triliun akibat pelemahan Rupiah sehingga utang-utangnya dalam bentuk dollar mengalami kenaikan. (bringislam.web.id )

Related Posts

Demikianlah lima faktor utama yang menyebabkan rupiah semakin terpuruk dari waktu ke waktu.

Mata Uang Emas dan Perak: Sebuah Solusi

Ketika sistem moneter dunia menggunakan sistem emas, keadaan saat itu stabil dan jarang krisis. Namun, tatkala sistem moneter internasional diganti dengan sistem pertukaran emas parsial (Bretton Woods), lalu diteruskan dengan uang kertas biasa semenjak 1971, dunia internasional sangat rentan krisis moneter. Bahkan jika suatu negara mengalami krisis moneter, krisis itu cepat menjalar dan menyerang negara-negara lain. (contagion effect )

Sistem mata uang kertas biasa, rentan terhadap krisis. Sebab, nilai mata uang di suatu negara terkait dengan nilai mata uang negara lain, termasuk sangat dipengaruhi kondisi politik dan ekonomi negara lain. Akibatnya, jika mata uang negara lain terkena krisis, krisis itu akan menjalar sangat cepat ke negara lain. Kita bisa menyaksikan, ketika krisis moneter menyerang Thailand, pada 1997/1998 lalu, maka dengan segera krisis ini menjalar hampir diseluruh negara Asia menjadi krisis multi dimensional. Semua ini menunjukkan bahwa krisis moneter yang memukul dunia, lebih disebabkan oleh sistem moneternya yang sangat lemah.

Kerusakan tatanan moneter Indonesia dan dunia secara umum,tentu membutuhkan solusi fundamental, bukan solusi tambal sulam. Islam sebagai agama sekaligus ideologi! telah memiliki solusi komprehensif atas segala persoalan manusia termasuk dalam masalah standar mata uang. Berdasarkan penggalian para ulama, Islam menetapkan bahwa mata uang yang wajib digunakan oleh negara adalah mata uang emas dan perak. (lihat: An-Nabhani, An-Nizham al-Iqtishad ,al-islam, 2004, 270-273).

Mata uang emas dan perak memiliki keunggulan sebagai berikut:

Pertama

Pada saat mata mata uang kuat seperti dolar AS kehilangan kepercayaan pada saat krisis, orang tetap ramai-ramai memborong emas-perak. Pasalnya, emas dan perak adalah komoditi sebagaimana komoditi lainnya semisal: kambing, besi, atau tembaga. Untuk mengadakannya perlu ongkos eksplorasi dan produksi. Komoditi ini dapat diperjual belikan apabila ia tidak digunakan sebagai uang. Jadi, emas dan perak termasuk uang komoditi atau uang barang (commodity money).

Artinya, emas dan perak mempunyai nilai intrinsik (qimah dzatiyyah) pada dirinya sendiri. Beda dengan uang kertas yang tidak memiliki nilai intrinsik pada barangnya sendiri. (M. Shiddiq Al Jawi, majalah al -wa’ie, 2008)

Kedua

Sistem emas dan perak mampu menjamin kestabilan moneter. Tidak seperti sistem uang kertas yang cenderung membawa instabilitas dunia karena penambahan uang kertas yang beredar secara tiba-tiba. Artinya, mata uang emas-perak tidak dapat dimanipulasi dan dicetak seenaknya oleh pemerintah sebagaimana halnya uang kertas. Dengan demikian standar mata uang emas-perak akan menghapus masalah invasi yang selama ini ditimbulkan mata uang kertas. Yakni,kemerosotan nilai uang kertas karena banyaknya dan cepatnya uang beredar sehingga menyebabkan naiknya harga barang-barang. (Lajnah Maslahiyah DPP HTI, 2015)

Ketiga

Sistem emas dan perak mampu menciptakan keseimbangan neraca pembayaran antar negara secara otomatis untuk mengoreksi ketekoran dalam pembayaran tanpa intervensi bank sentral. Mekanisme ini disebut dengan automatic adjustment (penyesuaian otomatis) yang akan bekerja menyelesaikan ketekoran dalam perdagangan (trade imbalance) antar negara. Mekanismenya: jika suatu negara (misal negara A) impornya dari negara B lebih besar daripada ekspornya, maka akan makin banyak emas dan perak yang mengalir dari negara A itu ke negara B. Ini karena emas dan perak digunakan sebagai alat pembayaran. Kondisi ini akan mengakibatkan harga-harga di dalam negara A turun, lalu menyebabkan harga-harga komoditi dalam negara A lebih murah daripada komoditi impor dari negara B, dan pada gilirannya akan mengurangi impor dari negara B. Sebaliknya, dalam sistem uang kertas, jika terjadi ketekoran semacam ini, negara A akan mencetak lebih banyak uang, sebab tak ada batasan untuk mencetaknya. Tindakan ini justru akan meningkatkan invasi dan menurunkan daya beli pada uang di negara A. (M. Shiddiq Al. Jawi, 2008).

Dalam sistem emas dan perak, negara tidak mungkin mencetak uang lagi, selama uang yang beredar dapat ditukar dengan emas dan perak pada tingkat harga tertentu. Sebab, negara khawatir tidak akanmampu melayani penukaran tersebut. (Zallum, Al-Amwal fii Daulah Al-Khilafah, 2004:226)

Keempat

Sistem emas dan perak mempunyai keunggulan sangat prima, yaitu berapapun kuantitasnya dalam satu negara, banyak atau sedikit, akan mencukupi kebutuhan pasar dalam pertukaran mata uang. Jika jumlah uang tetap, sementara barang dan jasa bertambah, uang yang ada akan mampu membeli barang dan jasa secara maksimal. Jika jumlah uang tetap, sedangkan barang dan jasa berkurang, uang yang ada hanya mengalami penurunan daya beli. Walhasil,, berapa pun jumlah uang yang ada, cukup untuk membeli barang dan jasa di pasar, baik jumlah uang itu sedikit atau banyak. (Yusanto, 2001:144)

Hal yang sama tidak dapat dikatakan untuk sistem uang kertas. Jika negara mencetak semakin banyak uang kertas,daya beli uang itu akan turun dan terjadilah inflasi. Jelaslah, sistem emas dan perak akan menghapuskan inflasi. Sebaliknya, sistem uang kertas akan menyuburkan inflasi. (Zallum, 2004:227)

Kelima

Sistem emas dan perak mempunyai kurs yang stabil antar negara. Standar emas-perak akan mengurangi masalah perdagangan internasional akibat ketidakstabilan kurs mata uang. Pasalnya, nilai mata uang negara ditentukan oleh nilai emas dan perak itu sendiri, tidak bergantung pada kekuatan ekonomi dan politik suatu negara. Dengan demikian, pebisnis yang mengandalkan komoditas impor tidak khawatir barang yang diimpor akan menjadi lebih mahal karena mata uang negaranya melemah (depresiasi) atau nilainya diturunkan oleh pemerintah (devaluasi). Pelaku usaha yang melakukan ekspor juga tidak cemas komoditas mereka menjadi lebih mahal di negara lain akibat kurs mata uang mengalami penguatan. Walhasil,, mata uang emas akan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih pesat dan stabil. (Lajnah Mashlahiyyah DPP HTI, 2015)

Keenam

Sistem emas dan perak akan memelihara kekayaan emas dan perak yang dimiliki oleh setiap negara. Jadi, emas dan perak tidak akan lari dari satu negeri ke negeri lain. Negara mana pun tidak memerlukan pengawasan untuk menjaga emas dan peraknya. Mengapa?Sebab, emas dan perak itu tidak akan berpindah secara percuma atau ilegal. Emas dan perak tidak akan berpindah kecuali menjadi harga bagi barang atau jasa yang memang hal ini dibolehkan syariah. Dengan kata lain tidak akan ada keuntungan investasi asing yang dapat diterjemahkan sebagai kerugian mata uang dalam negeri. (M. Shiddiq Al Jawi,2008)

Itulah enam alasan bahwa sistem mata uang emas dan perak layak digunakan di dunia ini. Namun tinggal satu masalah lagi, bagaimana cara mengembalikan penggunaan sistem mata uang emas dan perak tersebut? Jawabnya, tentu perubahan tersebut bukan dilakukan oleh individu atau komunitas tertentu, namun harus melalui kebijakan negara.

Dalam konteks Islam, setidaknya ada enam (6) kebijakan yang bisa dilakukan (Zallum,, 2004,232-234) diantaranya,

Pertama

Menghentikan pencetakan mata uang kertas.

Kedua

Memberlakukan kembali mata uang emas dan perak dalam seluruh interaksi ekonomi.

Ketiga

Menghilangkan berbagai kendala pajak atau cukai yang berkaitan dengan emas, serta menghilangkan syarat yang membatasi impor dan ekspor emas.

Keempat

Menghilangkan beragam ketentuan yang menghalangi pemilikan emas, kontrol atas pergerakan emas, jual belinya, dan berinteraksi dengan menggunakan emas.

Kelima

Menghilangkan beragam regulasi yang menghalangi pemilikan mata uang utama dunia, menciptakan persaingan bebas di antara mata uang,sehingga diperoleh harga yang stabil dengan mata uang lainnya dan terhadap mata uang emas tanpa campur tangan dunia internasional untuk menaik turunkannya.

Terakhir yang tidak boleh dilupakan, seluruh perusahaan asing yangtelah merebut dan memprivatisasi kekayaan alam dan komoditi kepemilikan umum di seluruh negeri kaum muslim, terutama tambang emas dan perak, mesti dikelola oleh negara dan hasilnya digunakan untuk kesejahteraan umat, sehingga kaum muslim memiliki cadangan dan potensi emas dan perak yang berlimpah, untuk memenuhi ketersediaan emas dan perak. Hal ini sesuai hukum syara terkait kepemilikan umum.

BACA JUGA: Segera Tukar, 4 Pecahan Uang Rupiah Ini Akan Kedaluwarsa Akhir 2018 Nanti

Demikianlah solusi Islam atasi merosotnya nilai mata uang sebuah negara, solusi ini merupakan bagian dari sistem Ekonomi Islam, yakni berupa penerapan sistem mata uang emas dan perak dalam konsep negara.

Allah SWT berfirman:

وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَـيَسْتَخْلِفَـنَّهُمْ فِى الْاَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِيْنَهُمُ الَّذِى ارْتَضٰى لَهُمْ وَلَـيُبَدِّلَــنَّهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ اَمْنًا ۗ يَعْبُدُوْنَنِيْ لَا يُشْرِكُوْنَ بِيْ شَيْـئًــا ۗ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذٰلِكَ فَاُولٰٓئِكَ هُمُ

“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Tetapi barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nur 24: Ayat 55). Wallahu A’lam. []

OPINI ini adalah kiriman pembaca Islampos. Kirim OPINI Anda lewat imel ke: islampos@gmail.com, paling banyak dua (2) halaman MS Word. Sertakan biodata singkat dan foto diri. Isi dari OPINI di luar tanggung jawab redaksi Islampos.

loading...
loading...
Langganan newsletter Kami
Langganan newsletter Kami
Daftar dan dapatkan informasi update dari Kami langsung ke Inbox e-mail Anda
Kamu dapat berhenti berlangganan kapanpun

Maaf Anda Sedang Offline