ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Puasa Syawal, Apa Manfaatnya?

Foto: Google image
0

TANYA: Setelah melaksanakan puasa di bulan Ramadhan, kita juga dianjurkan puasa enam hari di bulan syawal. Memang, apa manfaatnya?

JAWAB: Puasa di bulan syawal mungkin akan terasa begitu sulit bagi kebanyakan orang. Sebab, waktunya masih berada pada suasana liburan dan berkumpul bersama keluarga. Sehingga, menjadi kendala tertentu bagi mereka yang senang menghabiskan waktu bermain bersama keluarga. Padahal, perintah ini memiliki manfaat yang luar biasa.

Ibnu Rojab rahimahullah menyebutkan beberapa manfaat puasa enam hari di bulan Syawal, di antaranya:

1. Berpuasa enam hari di bulan Syawal setelah Ramadhan akan menyempurnakan ganjaran berpuasa setahun penuh.

2. Puasa Syawal dan puasa Sya’ban seperti halnya shalat rawatib qobliyah dan ba’diyah. Amalan sunnah seperti ini akan menyempurnakan kekurangan dan cacat yang ada dalam amalan wajib. Setiap orang pasti memiliki kekurangan dalam amalan wajib. Amalan sunnah inilah yang nanti akan menyempurnakannya.

3. Membiasakan berpuasa setelah puasa Ramadhan adalah tanda diterimanya amalan puasa Ramadhan. Karena Allah Ta’ala jika menerima amalan hamba, maka Dia akan memberi taufik pada amalan sholih selanjutnya. Sebagaimana sebagian salaf mengatakan, “Balasan dari amalan kebaikan adalah amalan kebaikan selanjutnya. Barangsiapa melaksanakan kebaikan lalu dia melanjutkan dengan kebaikan selanjutnya, maka itu adalah tanda diterimanya amalan yang pertama. Begitu pula orang yang melaksanakan kebaikan lalu dilanjutkan dengan melakukan kejelekan, maka ini adalah tanda tertolaknya atau tidak diterimanya amalan kebaikan yang telah dilakukan.”

4. Karena Allah telah memberi taufik dan menolong kita untuk melaksanakan puasa Ramadhan serta berjanji mengampuni dosa kita yang telah lalu, maka hendaklah kita mensyukuri hal ini dengan melaksanakan puasa setelah Ramadhan. Sebagaimana para salaf dahulu, setelah malam harinya melaksanakan shalat malam, di siang harinya mereka berpuasa sebagai rasa syukur pada Allah atas taufik yang diberikan. (Disarikan dari Latho’if Al Ma’arif, 244, Asy Syamilah).

Jadi, tak ada salahnya kita luangkan waktu enam hari untuk kembali menahan hawa nafsu. Melaksanakan puasa di bulan Syawal untuk memperoleh rahmat dan kasih sayang-Nya. Juga sebagai pemantapan diri untuk memperbaiki kepribadian menjadi lebih baik lagi. []

loading...
loading...