• Home
  • Disclaimer
  • Iklan
  • Redaksi
  • Donasi
  • Copyright
Jumat, 25 September 2026
Islampos
  • Home
  • Beginner
  • Tahukah
  • Sirah
  • Renungan
  • Muslimbiz
    • Muslimtrip
  • Berita
  • Cari
No Result
View All Result
  • Home
  • Beginner
  • Tahukah
  • Sirah
  • Renungan
  • Muslimbiz
    • Muslimtrip
  • Berita
  • Cari
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Islampos
[adinserter block="1"] [adinserter block="17"]

Nabi Syu’aib Diutus pada Kaum Madyan yang Curang (1)

by Ainun
6 tahun ago
in Kisah Nabi
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Detik-detik Kematian Nabi Muhammad, Sifat Para Sahabat Nabi, Fakta Nabi Ishaq, Ali bin Abi Thalib, https://chanelmuslim.com/kisah/utusan-quraisy-terakhir-yang-menemui-abu-thalib, Nabi Yaqub, Abu Ayyub Al Ansari, Malik bin Dinar

Foto: Pixabay

[adinserter block="3"] [adinserter block="19"]

KAUM Madyan, kaumnya Nabi Syu’ib, adalah segolongan bangsa Arab yang tinggal di sebuah daerah bernama “Ma’an” di pinggir negeri Syam. Mereka terdiri dari orang-orang kafir tidak mengenal Tuhan Yang Maha Esa. Mereka menyembah kepada “Aikah” iaitu sebidang padang pasir yang ditumbuhi beberapa pohon dan tanam-tanaman. Cara hidup dan istiadat mereka sudah sangat jauh dari ajaran agama dan pengajaran nabi-nabi sebelum Nabi Syu’ib a.s.

Allah SWT mengutus Syu’ib pada penduduk Madyan: “Dan kepada (penduduk) Madyan (kami utus) saudara mereka, Syu ‘ib. Ia berkata: ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia.'” (QS. Hud: 84)

Ini adalah dakwah yang sama yang diserukan oleh setiap nabi. Dalam hal ini tidak ada perbezaan antara satu nabi dan nabi yang lain. Ia merupakan dasar akidah dan tanpa dasar ini mustahil suatu bangunan akan berdiri. Setelah peletakan bangunan tersebut, Nabi Syu’aib mulai menyuarakan dakwahnya:

BACA JUGA: Ketahuilah, Begini Nasab Nabi Syu’aib

ArtikelTerkait

Hikmah Penciptaan Nabi Adam (‘alaihis salam)

Kesabaran Nabi Ayyub

Kisah Qabil dan Habil

Kisah Mimpi Nabi Yusuf

“Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan. Sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat).” (QS. Hud: 84)

Setelah menjelaskan masalah tauhid secara langsung, Nabi Syu’ib berpindah pada masalah muamalah sehari-hari yang berkenaan dengan kejujuran dan keadilan. Adalah hal yang terkenal pada penduduk Madyan bahawa mereka mengurangi timbangan dan mereka tidak memberikan hak-hak manusia. Ini adalah suatu kehinaan yang menyentuh kesucian hati dan tangan sebagaimana menyentuh kesempurnaan harga diri dan kemuliaan.

Para penduduk Madyan beranggapan bahawa mengurangi timbangan adalah salah satu bentuk kelihaian dan kepandaian dalam jual-beli serta bentuk kelicikan dalam mengambil dan membeli. Kemudian nabi mereka datang dan mengingatkan bahawa hal tersebut merupakan hal yang hina dan termasuk pencurian.

Nabi Syu’ib memberitahukan kepada mereka bahawa beliau khawatir jika mereka meneruskan perbuatan keji itu nescaya akan turun kepada mereka azab di mana manusia tidak akan dapat menghindar dari seksaan itu. Perhatikanlah bagaimana campur tangan Islam melalui Nabi Syu’ib yang diutus kepada manusia di mana ia memperhatikan persoalan jual-beli dan mengawasinya:

“Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerosakan.” (QS. Hud: 85)

Nabi Syu’ib meneruskan misi dakwahnya. Beliau mengulang-ulangi nasihatnya kepada mereka dengan cara yang baik dan mengajak ke jalan yang baik, tidak ke jalan yang buruk; beliau menghimbau kepada mereka untuk menegakkan timbangan dengan keadilan dan kebenaran dan mengingatkan mereka agar jangan merampas hak-hak orang lain. Merampas hak-hak orang lain itu tidak terbatas pada jual-beli saja, namun juga berhubungan dengan perbuatan-perbuatan lainnya; beliau memerintahkan mereka untuk menegakkan timbangan keadilan dan kejujuran.

Demikianlah seruan dari agama tauhid dan akidah tauhid di mana ia selalu menyuarakan kejujuran dan keadilan.

Dengan cara yang demikian, Nabi Syu’ib menjelaskan kaumnya bahawa masalah yang mereka hadapi saat ini sangat penting dan sangat serius, bahkan sangat berat.

Beliau memberitahu mereka akibat yang bakal mereka terima jika mereka membuat kerosakan. Selesailah bahagian pertama dari dialog Nabi Syu’ib bersama kaumnya. Nabi Syu’ib telah mengawali pembicaraan dan kaumnya mendengarkan. Kemudian beliau berhenti dari pembicaraannya dan sekarang kaum membuka pembicaraan:

“Mereka berkata: ‘Hai Syu’ib, apakah agamamu yang menyuruh agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang dan berbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal” (QS. Hud: 87)

BACA JUGA: Ketika Nabi Syu’aib Diancam dan Diusir dari Madyan

Para penduduk Madyan yang biasa merampok dan menyembah al-Aikah, yaitu pohon dari al-Aik yang dikelilingi oleh dahan- dahan yang berputar di sekelilingnya.

Mereka termasuk orang-orang yang menjalin hubungan sesama manusia dengan cara-cara yang sangat keji. Mereka suka mengurangi timbangan; mereka mengambil yang lebih darinya dan tidak menghiraukan kekurangannya. Perhatikanlah semua itu dalam dialog mereka bersama Syu’ib.

Mereka berkata, “Wahai Syu’ib apakah agamamu yang memerintahkanmu…? Seakan-akan agama ini mendorong Syu’ib dan membisikinya serta memerintahnya sehingga ia menaati tanpa pertimbangan dan pemikiran. Sungguh Syu’ib telah berubah dengan agamanya itu menjadi alat yang bergerak dan alat yang tidak sadar.”

Demikianlah celaan dan tuduhan keji yang dialamatkan oleh kaum Nabi Syu’ib kepadanya.

“Agama Syu’ib telah membuatnya gila dan membuatnya nekad untuk memerintahkan meninggalkan apa yang selama ini disembah oleh kakek-kakek. Kakek-kakek telah menyembah tumbuh-tumbuhan dan pohon- pohonan sementara agama Syu’ib memerintahkan untuk hanya menyembah Allah SWT. Kenekatan model apa dari Syu’ib ini?” []

BERSAMBUNG

Tags: kisah nabi syuaib
ADVERTISEMENT
Previous Post

Energi Cinta Keluarga

Next Post

Pandangan Islam tentang Perempuan yang Didahului Menikah oleh Adiknya

Ainun

Ainun

Related Posts

Nabi Musa, Umar bin Khattab, Ujian, Nabi Yusuf, Nabi Ibrahim, Fakta Nabi Isa, Nabi, Nabi Adam

Hikmah Penciptaan Nabi Adam (‘alaihis salam)

16 Mei 2025
Nabi Ayyub

Kesabaran Nabi Ayyub

16 Mei 2025
qabil dan habil

Kisah Qabil dan Habil

20 Februari 2025
Surat Al-Kafirun, Malam Lailatul Qadar, Nabi Ibrahim, Raja Namrud, Mimpi Nabi Yusuf

Kisah Mimpi Nabi Yusuf

19 Februari 2025
Please login to join discussion

Tulisan Terbaru

Melakukan Perubahan, sifat jujur, orang yang meninggalkan shalat, istidraj, FITNAH, SYAHWAT, maksiat, bunuh diri, dosa, maksiat, taubat

5 Alasan Jangan Mengungkit Dosa Masa Lalu Seseorang yang Sudah Bertaubat

by Yudi
14 Juli 2025
0

agar tidak mengulangi dosa, mengganti shalat wajib, dosa jariyah, mandi, dosa, shalat

Jangan Tinggalkan Shalat Meski Badan Kotor saat Kerja, Tidak Semua Kotor Itu Najis

by Yudi
14 Juli 2025
0

Senin

Jangan Lagi Bilang “Nggak Suka Senin!”

by Dini Koswarini
14 Juli 2025
0

Cerai, Sebab Zina Dilarang dalam Islam, zina, Penyebab Lelaki Selingkuh, Talak

Talak: Halal yang Dibenci, Senjata Iblis untuk Memecah Belah

by Saad Saefullah
13 Juli 2025
0

Laporan Donasi Islampos Juli 2025: Alhamdulillah, Sudah Terkumpul Rp2.390.999!

by Saad Saefullah
13 Juli 2025
0

Terpopuler

No Content Available
Facebook Twitter Youtube Pinterest Telegram

© 2022 islampos - Membuka, Menginspirasi, Free to Share.

No Result
View All Result
  • Home
  • Beginner
  • Tahukah
  • Sirah
  • Renungan
  • Muslimbiz
    • Muslimtrip
  • Berita
  • Cari

© 2022 islampos - Membuka, Menginspirasi, Free to Share.