Mengendarai Ikhlas

0

Oleh: Andi Ardianto, Peminat Masalah Pendidikan

APA yang paling membahagiakan bagi seorang pegawai? Diantara yang paling besar adalah reputasi baiknya di hadapan sang pimpinan. Tentu saja reputasi baik ini didapat dengan kerja yang baik pula. Alangkah senang ketika pekerjaannya yang rapi bisa dilihat, dinilai, dan dihargai pemimpinnya. Ada kepuasan tersendiri ketika itu terjadi. Sebaliknya, alangkah muram ketika hasil kerjanya dilecehkan, tidak dihargai, bahkan dilemparkan ke muka dengan penuh kehinaan.

Seperti itulah gambaran kita di hadapan Allah. Kita yang tugas utamanya ibadah tentu dituntut melakukannya dengan sebaik-baiknya. Masing-masing berlomba menampilkan yang terbaik di sisi Allah. Dan tidak ada yang lebih membahagiakan bagi seorang hamba kecuali amalannya dihargai, ditempatkan di tempat yang mulia di hadapan Allah.

BACA JUGA: Allah Menyukai Orang yang Sabar dan Ikhlas

Perkara ikhlas bukanlah perkara yang mudah. Godaan amal di lihat manusia banyak, di dengar orang umum, diperbincangkan dan dipuji benar-benar menguji. Menjaga ikhlas memang harus dilakukan sebelum, saat, dan setelah mengamalkan. Ada kalanya ketika mengamalkan begitu ikhlas tapi ketika di pertengahan jalan godaan untuk pamer itu ada. Tidak berhenti di situ, setan bisa juga menggodanya untuk menyebut-nyebut amal kebaikan yang sudah dilakukan sembari menghembuskan beragam pembenaran.

Sebagai contoh orang banyaklah, agar ada yang terinspirasilah. Hembusan hawa setan juga tidak luput mengingatkan kita pada hadits tentang pemberian contoh yang baik bagi orang lain. Ya, berkendara dalam ikhlas memang berat.

Ada kalanya perasaan berat ada di depan, sebelum melakukan. Diakui atau tidak ada perintah Allah yang memang membutuhkan perjuangan berat. Angan-angan untuk tidak melakukan pun besar. Perang contohnya. Para mujahid yang telah gugur sebelumnya juga sadar akan apa yang dihadapi. Tentu saja ada perasaan berat. Darah yang mengalir, luka yang lama sembuhnya, perniagaan dan keluarga yang ditinggalkan, siapakah yang tidak berat menjalaninya. Belum lagi peluang pertemuan dengan keluarga dekat, bahkan tidak jarang ayah atau anaknya.

BACA JUGA: Ikhlas itu Ibarat Mencari Jarum

Kita perlu berlindung kepada Allah dari merasa telah berbuat amal yang terbaik. Berlindung kepada Allah agar setan tidak mempermainkan dengan merasa telah berbuat ikhlas. Waallahu’alam. []

Kirim RENUNGAN Anda lewat imel ke: islampos@gmail.com, paling banyak dua (2) halaman MS Word

loading...
loading...
Langganan newsletter Kami
Langganan newsletter Kami
Daftar dan dapatkan informasi update dari Kami langsung ke Inbox e-mail Anda
Kamu dapat berhenti berlangganan kapanpun

Maaf Anda Sedang Offline