ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Memerdekakan Al-Quds dengan Kemerdekan Sejati

0

Oleh: Elda Widya I. K.
Mahasiswi Fakultas Sains dan Tekhnologi Universitas Airlangga

 

KEPUTUSAN Presiden Amerika Serikat Donal Trump mengumumkan pengakuan Yerusalem sebagai ibukota Israel menimbulkan berbagai reaksi. Sejumlah kepala negara bereaksi atas sikap Presiden Amerika Serikat itu, tak ketinggalan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan sejumlah orgasiasi kemasyarakatan (ormas) Islam turut menolak pernyataan Presiden Amerika Serikat itu.

Melihat ini, maka yang perlu kita pahami adalah bahwa Tanah Palestina yang dirampas dan diduduki Israel sejak tahun 1948, adalah bukan tanah milik bangsa Arab, bukan pula milik bangsa Palestina, tetapi mutlak tanah milik kaum Muslim.

Seluruh kaum Muslim, bukan hanya bangsa Arab, bangsa Palestina, berkewajiban mengembalikan tanah tersebut kepada Umat Islam. Jika dihitung sejak pendudukan Israel sekaligus pendirian Negara Yahudi itu di Palestina pada tahun 1948 hingga hari ini, maka tragedi Palestina sudah berumur lebih dari 60 tahun. Selama itu pula sudah tak terhitung korban di pihak rakyat Palestina oleh kebiadaban Yahudi tersebut. Kekejaman demi kekejaman yang dilakukan oleh Yahudi terhadap rakyat Palestina seolah tak pernah akan berhenti, terus berulang dari waktu ke waktu.

Anehnya, setiap kali muncul kasus kebiadaban Yahudi-Israel terhadap rakyat Palestina, hal itu sekadar dianggap sebagai masalah kemanusian. Padahal tragedi Palestina tentu bukan semata-mata masalah kemanusiaan. Namun akar masalah Palestina sesungguhnya bersinggungan paling tidak dengan tiga aspek.

Pertama, aspek akidah/syariah

Dalam pandangan Islam, tanah Palestina (Syam) adalah tanah milik kaum Muslim. Di tanah ini berdiri al-Quds yang merupakan lambang kebesaran umat ini dan menempati posisi yang sangat mulia.

Ada beberapa keutamaan dan sejarah penting yang dimiliki al-Quds. Antara lain sebgai tanah wahyu dan kenabian, tanah kiblat pertama, Masjid al-Aqsha adalah tempat suci ketiga bagi umat Islam, satu dari tiga masjid yang direkomendasikan Nabi saw. untuk dikunjungi, dan tanah ibukota Khilafah.

Kedua, aspek sejarah

Tercatat bahwa Syam (Palestina adalah bagian di dalamnya) pernah dikuasai Romawi selama tujuh abad (64 SM-637 M). Namun, cita-cita agung untuk merebut Syam dari imperium Romawi digelorakan oleh Rasulullah SAW kepada para Sahabat. Perjuangan panjang dan melelahkan kaum Muslim itu baru menuai hasil pada masa kepemimpinan Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. (638 M).

Sayang, setelah dikuasai kaum Muslim sekian abad hingga masa Kekhilafahan Abbasiyah, tanggal 25 November 1095, Paulus Urbanus II menyerukan Perang Salib dan tahun 1099 pasukan Salib menaklukkan al-Quds. Mereka membantai sekitar 30.000 warga al-Quds dengan sadis tanpa pandang bulu (wanita, anak-anak dan orang tua).

Namun, alhamdulillah, pada tahun 1187, Salahuddin al-Ayyubi sebagai komandan pasukan Muslim berhasil membebaskan kembali al-Quds dari pasukan Salib yang telah diduduki selama sekitar 88 tahun (1099–1187).

Ketiga, aspek politik

Aspek politik dari isu Palestina ini tidak bisa dilepaskan dari Zionisme dan imperialisme Barat. Zionisme adalah gerakan orang-orang Yahudi untuk mendirikan negara khusus bagi komunitas mereka di Palestina. Sejak awal pendiriannya, keberadaan negara Israel tidak lepas dari kepentingan negara-negara imperialis Barat, terutama Inggris dan Amerika Serikat.

Kaum Muslim harus sadar bahwa isu Palestina adalah isu Islam. Dengan seluruh kenyataan di atas, maka cara satu-satunya bagi umat untuk memandang Palestina adalah melalui perspektif Islam. Kaum Muslim tentu rindu melihat wilayah Palestina dibebaskan dari pemerintahan tiran Israel. Agar hal ini bisa terlaksana, umat memang membutuhkan seorang khalifah, pemimpin seluruh kaum Muslim. Sebab, Rasulullah saw. telah bersabda, “Imam (Khalifah) adalah perisai, di belakangnya kaum Muslim berperang dan berlindung (HR Muslim).

Umat ini tidak akan pernah memiliki kemuliaan dan meraih kemenangan kecuali dengan Islam. Tanpa Islam tidak pernah ada kemenangan Inilah satu-satunya jalan. ‘Karena itu marilah kita mengakhiri ‘pengkhianatan’ kita, dengan terus berupaya memerdekakan Palestina hingga benar-benar merdeka, tentu dengan kemerdekaan yang sejati. []

Langganan newsletter Kami
Langganan newsletter Kami
Daftar dan dapatkan informasi update dari Kami langsung ke Inbox e-mail Anda
Kamu dapat berhenti berlangganan kapanpun
loading...
loading...