islampos
Media islam generasi baru

Melalui Pedagang Sandal, Aku Belajar Tentang Kehidupan

foto: brilio.net
0

MALAM itu, aku pulang les privat anak sekolah. Karena anak lesanku akan try out, maka pulangnya agak larut, sekitar jam setengah 10-an aku baru keluar.

Saat aku sedang menunggu angkot, tak sengaja mataku melihat sesosok lelaki paruh baya yang membawa satu bundel dagangan sembari memegang beberapa buah sandal. Rupanya lelaki itu pedangan sandal.

Namun, ada satu hal yang membuat hatiku terenyuh saat melihatnya. Ia berjalan kaki menyelusuri gelapnya malam di jalanan raya, sembari mencari pelanggan yang ingin membeli dagangannya.

Kulihat sayu matanya. Ada kepenatan yang melanda. Ada kelelahan yang ia tahan seharian.

Hatiku berkata,” Lihatlah dirimu masih muda, seharusnya lebih semangat dalam memperjuangkan hidup ini. Coba tengok Bapak penjual sandal itu, usianya tak muda lagi namun ia tetap semangat untuk memperjuangkan hidup. Sebab, ia rela berlelah-lelah karena harus menafkahi istri dan anak-anaknya.”

“Tengoklah, ia rela berjalan kaki di kegelapan malam. Mungkin ia sudah melewati banyak rumah yang ia sambangi untuk menawarkan dagangannya. Mungkin sudah banyak kendaraan melintas di jalanan yang ia hitung untuk melepaskan lelahnya,” gumamku lagi.

“Duh gusti yang Maha Kuasa, apakah aku sudah berjuang optimal untuk memperjuangkan hidup ini? Padahal, usiaku masih muda dan fisikku masih kuat berbeda dengan pedagang sandal itu,” kataku lagi dalam hati.

Saat angkot melintas di depanku, dan aku menaikinya. Kulihat Bapak pedagang sandal itu. Terlihat, ia sedang duduk di tepi jalan, mungkin untuk istirahat sebentar sembari melepas lelahnya berjualan seharian.

Ya Allah, aku bersyukur aku masih diberikan rezeki yang cukup. Aku bersyukur karena Allah begitu halus menegurku malam itu.

Melalui seorang pedagang sandal, aku mendapatkan pelajaran berharga tentang kehidupan.

“Bahwa hidup itu tak mudah jika kita hanya berpangku tangan tanpa ada usaha dan kerja keras.”

“Bersyukurlah, lihatlah ke bawah mungkin masih ada orang yang sedang menaiki tangga kehidupan. Sebaliknya, jangan sering melihat ke atas, karena akan membuatmu merasa kerdil hingga lupa bersyukur pada Allah SWT.”[]

loading...
loading...