Marah Demi Menghormati Ulama?

foto: Okezone
0

oleh: Cholil Nafis, Lc., Ph D, Dosen Pascasarjana UI, Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat

SAAT kyai Ma’ruf Amin diperlakukan kurang baik di pengadilan maka masyarakat di semua lapisan dan lintas madzhab marah.

Mengapa marah? ya karena beliau adalah ulama yang memimpin dan membimbing umat Islam Indonesia.

Ulama bagi umat Islam bagaikan bapak ideologi dan teologi yang selalu bersama di dunia dan di akhirat. Allah SWT momposisikan urutan ulama nomer tiga di dunia, yaitu setelah bersaksi kepada Allah sebagai pencipta yang wajib disembah, Nabi Muhammad saw yang membawa risalah kenabian dan kemudian para ulama yang istiqamah dengan mengamalkan dan mengajarkan ilmunya.

Ulama sebagai penguat alam raya bagaikan paku dari bagunan. Dunia akan roboh, penuh kemunkaran dan hilang nilai-nilai kemanusiaan jika tidak ada kehadiran ulama. Umat dibimbing dan diarahkan perjalanan hidupnya oleh ilmu dan hikmah para ulama.

Ilmu yang berkembang menjadi dasar peradaban dunia dan dasar untuk meraih martabat tak lepas dari peran para ulama yang mengajarkan ilmunya. Maka tak heran jika Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallah wajhah mengatakan pada ulama yang menjadi gurunya: “Barang siapa yang mengajariku satu huruf saja maka silahkan kalau mau memanfaatkanku untuk diperbudak atau dimerdekakan”.

Ungkapan Sayyidina Ali ra. ini menunjukkan betapa beliau menhormati orang yang ahli agama dan mengajarkan agamanya untuk membimbing umat menuju kehidupan yang bernilai dan benar yang diridhai oleh Allah SWT.

Tak heran secara serentak masyarakat bergejolak ketika Ketua Umum MUI diperlakukan kurang sopan di pengadilan, bahkan sebagian umat rela berkorban apapun demi menjaga muruah dan martabat ulama. Mudah-mudahan para pecinta ulama diberi rahmat oleh Allah SWT.