Konde

0

Oleh: Siti Aisyah

(Aktivis Dakwah, Kordinator Komunitas Muslimah Menulis Depok)

“Aku tak tahu syariat Islam, yang ku tahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah. Lebih cantik dari cadar dirimu.”

Penggalan puisi di atas mendadak viral diperbincangkan di berbagai  media beberapa waktu lalu, khususnya media sosial. Sepenggal bait puisi yang dibawakan oleh  Ibu Sukmawati bukan sembarang puisi, namun puisi yang  mengandung  SARA, yang  menghina aturan Sang Pencipta. Sontak para warganet sosmed banyak yang  menghujat, khususnya kaum Muslim. Pasalnya,  dari bait-bait  puisi  yang disampaikannya  sangat  terlihat  kebencian dan ketidaksukaan akan syariat Sang Pencipta.

Begitu juga dengan konde, mendadak menjadi bahan pembicaraan.  Berbicara terkait konde, ternyata  sejak zaman Mesir kuno, sanggul atau konde telah dikenal dan digunakan oleh para bangsawan waktu itu. Para wanita Mesir kuno mempunyai  kebiasaan mencukur bersih rambutnya untuk keperluan keagamaan, panasnya udara dan pertimbangan kebersihan.  Setelah rambutnya tercukur habis, maka mereka memilih memakai rambut palsu berupa sanggul atau perisanggul. Bentuk sanggul dengan panjang rambut di bawah bahu. Dengan memakai konde, kebutuhan kesehatan, identitas status sosial dan tampilan sempurna terpenuhi sekaligus.

Di zaman tersebut, sanggul tidak hanya terbuat dari rambut manusia saja, tapi dibuat dari bulu hewan, serta serat daun palma. Pada umumnya, konde dipadukan dengan emas dan permata untuk menunjukkan status sosial para bangsawan. Selain itu, ukuran serta tinggi konde juga sangat berpengaruh terhadap status sosial seseorang, semakin besar ukuran sanggul maka semakin mahal harganya, semakin tinggi sanggul tersebut maka semakin tinggi pula status sosial seseorang.

Konde tak hanya digunakan oleh orang Mesir kuno saja. Tapi menurut catatan sejarah, Raja Prancis Louis XIII mengenakannya, begitu  juga putranya. Dan pada masa Raja Prancis Louis XIV konde semakin populer dan terkenal ke seluruh dunia.

Saat ini, konde bahkan telah mendunia, begitu juga di Indonesia. Indonesia salah satu negara yang  menjadikan  konde sebagai simbol budaya bangsa Indonesia terutama  bagi orang Jawa.  Sanggul dikenakan oleh nenek moyang kita sebagai sanggul tradisional. Hingga saat ini, para pengantin yang mengenakan baju adat masih mengenakan sanggul sesuai dengan budayanya. Padahal   jika kita lihat sejarahnya, tak pantaslah konde dijadikan sebagai simbol budaya  Indonesia,  terutama bagi kaum wanita yang ingin tampil anggun dan cantik.

Padahal, jika dilihat dari sejarahnya konde atau sanggul, sebenarnya konde bukanlah budaya asli Indonesia, melainkan budaya luar  yang mengukur standar kecantikan dan kedudukan seorang terletak pada kondenya. Semakin besar konde seseorang, maka semakin tinggi pula kedudukannya. Inilah sebuah budaya kebodohan yang dari aturan yang dibuat oleh manusia, tapi bangsa kita malah ikut mengambil dan melestarikannya.

Sebenarnya, ada satu aturan yang bisa digunakan. Aturan itu tidak berubah-ubah dan tidak diukur dari besar kecilnya konde, melainkan aturan yang baku untuk seluruh masa. Aturan itu datang  dari Sang Pencipta, yakni   aturan Islam. Islam memberikan aturan, jika seorang wanita ingin  mempercantik dirinya  dalam berbusana, atribut  yang  dikenakan harus sesuai dengan aturan Islam. Atribut itu bukan konde ataupun sanggul, yang dapat menghiasi rambutnya, melainkan atribut kebesaran yang selalu dikenakan para wanita Muslim ketika hendak ke luar rumah yang selalu menutupi kepalanya, tiada lain dan tiada bukan itulah kerudung (khimar).

Mengenakan kerudung  juga suatu kewajiban yang harus dipenuhi para wanita yang sudah baligh. Ketika Allah memerintahkan seorang wanita untuk mengenakan kerudung, maka sebagai seorang Muslimah, kita harus segera melaksanakannya. Sepertinya kita harus belajar kepada kaum wanita dari golongan Anshar, semoga Allah merahmati mereka. Ketika turun QS. An-Nur ayat 31 yang artinya” ..Dan hendaklah mereka mengenakan kain kerudung mereka diulurkan ke arah baju mereka”. Maka kaum wanita Anshar pun dengan segera merobek kain sarung (untuk dijadikan kerudung) dan menutup kepala mereka.

Sesungguhnya, Rasulullah SAW  pun sangat kagum dan beliau  memuji wanita Anshar tersebut. Abu Dawud telah mengeluarkan hadits dari Shafiyah binti Syaibah dari Aisyah ra yang artinya: Sesungguhnya Beliau SAW, menuturkan wanita Anshar, kemudian beliau memuji mereka dan berkata tentang mereka dengan baik. Beliau SAW, berkata,”Ketika diturunkan surah An-Nur:31(tentang  kewajiban memakai penutup kepala/kerudung, penj.), maka mereka mengambil kain sarungnya, kemudian merobeknya dan menjadikannya sebagai kain penutup kepala (kerudung).”

Jadi, ketika  seorang wanita Muslimah hendak ke luar rumah, maka hiasilah rambutnya dengan kerudung, jika tidak mengenakannya maka ia akan mendapatkan dosa. Begitu juga dengan konde, setiap wanita keluar rumah mengenakan konde, maka ia akan  berdosa dan tidak akan mencium baunya syurga. Naudzubillahi mindzalik.

Seperti yang dijelaskan dalam sebuah hadits yang artinya, “Dan perempuan-perempuan yang berpakaian tapi telanjang, cenderung kepada kemaksiatan dan membuat orang lain juga cenderung kepada kemaksiatan. Kepala-kepala mereka seperti punuk-punuk unta yang berlenggak-lenggok. Mereka tidak masuk surga dan tidak mencium bau wanginya. Padahal bau wangi surga itu tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian waktu [jarak jauh sekali]” (HR. Muslim).

Jika kita lihat, sanggul atau konde  memenuhi kriteria dari  punuk-punuh unta, seperti yang dijelaskan dalam hadits tersebut.

Maka, pantaskah kita sebagai wanita Indonesia dan sebagai  seorang Muslimah mengagung-agungkan bahkan melestarikan  konde sebagai budaya Indonesia? []

loading...
loading...
Langganan newsletter Kami
Langganan newsletter Kami
Daftar dan dapatkan informasi update dari Kami langsung ke Inbox e-mail Anda
Kamu dapat berhenti berlangganan kapanpun

Maaf Anda Sedang Offline