• Home
  • Disclaimer
  • Iklan
  • Redaksi
  • Donasi
  • Copyright
Selasa, 31 Maret 2026
Social icon element need JNews Essential plugin to be activated.
Islampos
  • Home
  • Beginner
  • Tahukah
  • Sirah
  • Renungan
  • Muslimbiz
    • Muslimtrip
  • Berita
  • Cari
No Result
View All Result
  • Home
  • Beginner
  • Tahukah
  • Sirah
  • Renungan
  • Muslimbiz
    • Muslimtrip
  • Berita
  • Cari
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Islampos

Kisah Syahid Abu Uqail di Perang Yamamah

by Yudi
6 tahun ago
in Sirah
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Keberanian Ummu Sulaim

Ilsutrasi: Unsplash

ABU Uqail dengan nama lengkapnya Abu Uqail Abdurrahman bin Abdullah, adalah salah seorang sahabat dari kalangan Anshar. Ia ikut serta dalam perang badar bahkan ia mengikuti peperangan hingga masa kekhalifahan Abu Bakar as-Shiddiq. Di akhir hayatnya, ia syahid dalam perang Yamamah.

Perang Yamamah berkobar. Perang ini terjadi guna menumpas nabi palsu yang bernama Musailamah al-Kadzdzab. Banyak kaum muslim yang mengikuti kesesatan Musailamah al-Kadzdzab. Hal ini jelas tidak bisa dibiarkan sehingga umat Muslim perlu menumpas Musailamah al-Kadzdzab beserta pengikutnya.

BACA JUGA: Kisah Sahabat Thufail bin Amr

Musailamah al-Kadzdzab muncul setelah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, wafat. Ia muncul ketika masa kekhalifahan Abu Bakar as-Shiddiq.

ArtikelTerkait

7 Fakta Sosok Nabi Musa AS: Nabi Penyelamat Bani Israil

Bagaimana Cara Kerja Pembayaran QRIS dan Bagaimana Sejarahnya?

Abu Bakar: Cinta Sejati pada Rasulullah ﷺ yang Mengalahkan Segalanya

Fatimah Tidak Izinkan Abu Bakar Masuk ke Dalam Rumah, tanpa Izin Suami

Bendera kaum Muhajirin dipegang oleh Salim maula Abu Hudzaifah. Bendera kaum Anshar dipegang oleh Tsabit bin Qais bin Syammas. Pasukan kaum Muslimin merangsek maju hingga naik. Pertempuran sengit melawan si nabi palsu, Musailamah al-Kadzdzab pun terjadi.

Pasukan Muslimin dari kabilah Arab selain Muhajirin dan Anshar dipukul mundur oleh pasukan musuh. Melihat hal ini, kaum Muslimin yang lain bergerak membantu.

Seorang prajurit Anshar bernama Abu ‘Uqail tiba-tiba tersentak saat mendapati sebilah anak panah mengenai antara bahu dan lengan kirinya. Darah mengucur. la menggigit bibir untuk menahan rasa sakit, sembari berusaha mencabut anak panah yang melukainya. Abu ‘Uqail adalah prajurit Muslim yang pertama kali terluka dalam peperangan itu.

“Wahai Abu ‘Uqail, lukamu harus diobati. Pergilah ke kemah kita,” kata prajurit yang lain.

Abu Uqail menurut. Meski panah yang melukainya berhasil dicabut, namun luka-lukanya terus mengeluarkan darah. Tak lama kemudian, pasukan kaum Muslimin terdesak oleh pasukan Musailamah. Terdengar teriakan keras di medan laga untuk mengobarkan kembali semangat jihad, “Wahai kaum Anshar, seranglah musuh sebagaimana kau serang mereka dalam perang Hunain. Majulah ke medan perang! Semoga Allah merahmatimu!”

Mendengar seruan tersebut Abu ‘Uqail segera bangkit. Padahal keadaannya saat itu ia sedang beristirahat di tenda karena lukanya.

“Mau ke manakah engkau, Abu Uqail?” tanya lbnu Umar yang menemaninya dalam kemah.

“Apakah kau tak mendengar mereka memanggilku?” jawab Abu ‘Uqail.

“Mereka memanggil kaum Anshar, bukan memanggil orang yang terluka!”

“Tapi aku adalah kaum Anshar, wahai Ibnu Umar. Aku akan bergabung bersama mereka,” sahut Abu ‘Uqail mantap.

Dalam keadaan terluka, Abu ‘Uqail mengenakan ikat pinggangnya dan menghunus pedangnya. la menerjang masuk ke medan Yamamah. Tangan kiri Abu `Uqail yang terluka rupanya putus dan terjatuh. Sementara tubuhnya terkena banyak luka karena ia tak leluasa membela diri. Abu ‘Uqail pun meregang nyawa bersamaan dengan terbunuhnya Musailamah. Mendapati sahabatnya terkulai, Ibnu Umar berlari mendekatinya. Wajahnya memancarkan kesedihan.

BACA JUGA: Orang Munafik di Antara Para Sahabat

“Abu `Uqail, bertahanlah. Kami akan mengobatimu…!” bisik lbnu Umar.

“Labbaik…,” lirih Abu `Uqail. “Siapakah yang menang?” tanya Abu ‘Uqail.

“Pasukan Allah yang menang,” jawab lbnu Umar. Kemudian Abu ‘Uqail menunjuk ke langit seraya memuji nama Allah. Laki-laki tangguh itu pun syahid dengan iman meluap dalam dada. []

Referensi: 77 Cahaya Cinta di Madinah/ Penulis: Ummu Rumaisha/ penerbit: al-Qudwah Publishing/ Februari, 2015

Tags: abu uqailsirahSirah Nabawiyah
Previous Post

Tanggapan Negatif Penaklukan Konstantinopel; Bukti Takutnya Musuh Islam

Next Post

Penyebaran Makin Cepat, Virus Corona Baru sudah Tewaskan 4 Warga Cina

Yudi

Yudi

Please login to join discussion
Social icon element need JNews Essential plugin to be activated.

© 2022 islampos - Membuka, Menginspirasi, Free to Share.

No Result
View All Result
  • Home
  • Beginner
  • Tahukah
  • Sirah
  • Renungan
  • Muslimbiz
    • Muslimtrip
  • Berita
  • Cari

© 2022 islampos - Membuka, Menginspirasi, Free to Share.