ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Ketika Wanita Berbicara Jodoh

Foto: international link tours
0

SORE itu di tempat kerja, aku bersama rekan kerjaku, Fatma, dan Dini asyik bercakap ria sekadar mengisi waktu istirahat di sela-sela kesibukan kami yang masih menggunung. Ketika itu salah satu temanku, Fatma menganggetkan kami.

“Astagfirullah, Rahma masuk rumah sakit, sekarang dia lagi ada di ruang UGD,”ujarnya sambil menunjukan sms dari Rahmah kepada kami.

“Yang bener teh, Rahma sakit apa? Dan ada di rumah sakit mana?,” tanya Dini.

“Sebentar saya sms lagi untuk memastikan dia ada di rumah sakit mana,” kata Fatma.

Setelah menunggu sms balasan, akhirnya Rahma menjawab rasa penasaran kami semua.

“Saya berada di ruang UGD Rumah Sakit Bayu Kasih,” tulis Rahma kepada Fatma.

Kemudian Fatma langsung mengumumkan keadaan Rahma yang sedang berada di UGD Rumah Sakit Bayu Kasih. Akhirnya kami berencana untuk menjenguk dia di sana.

Tiba-tiba Dini bercelutuk,”Ehm..Teh Uni kita mau ke rumah sakit nih, nanti ketemu sama pak Dokter dong,” kata Dini mencoba menggodaku.

“Terus kenapa?,” tanyaku.

“Pura-pura lupa ya, bukannya teteh berharap jodohnya seorang dokter?” goda Dini.

Memang sebelumnya, aku sempat bercerita bahwa aku berkeinginan menjadi seorang istri Dokter. Ketika itu, Dini pernah bertanya,” Kenapa ingin mendapatkan suami dokter?”.

“Aku ingin mempunyai calon suami seorang dokter karena aku wanita yang cukup pemalu,”ujarku.

“Malu kenapa teh?,”tanya Dini lagi.

“Jika aku sakit, aku tidak mau berobat ke Dokter. Aku akan meminum obat herbal sampai sakitku sembuh. Kalaupun parah, baru aku mau pergi berobat ke Dokter, itupun aku akan mencari klinik atau rumah sakit yang dokternya perempuan,” ungkapku.

“Loh, kok begitu teh. Emang malu karena apanya,” tanya Dini penasaran.

“Ya, Aku terlalu malu untuk periksa ke Dokter laki-laki. Apalagi kebanyakan saat ini, dokter itu laki-laki,” jawabku tersipu malu dengan polosnya.

“Bukankah dalam islam diperbolehkan jika perempuan melakukan interaksi dengan laki-laki dalam bidang kesehatan, apalagi untuk berobat?” tanya Fatma ikut gabung percakapan kami.

“Ya, Islam membolehkan melakukan interaksi dengan lawan jenis dalam bidang kesehatan, karena hal itu darurat,”jawabku.

“Terus kenapa teteh tetap malu, kan diperbolehkan?,” kata Dini menimpali.

“Ya, sebenarnya ini tergantung dari masing-masing orangnya karena hal itu memang pilihan,” kataku.

“Maksudnya bagaimana Ni?” ujar Fatma lagi.

“Ya, setiap orang berhak memilih untuk berobat ke dokter laki-laki karena islam membolehkannya. Tapi aku memilih yang lain, aku lebih memilih berobat ke dokter perempuan karena aku terlalu malu terhadap laki-laki yang bukan mahrom aku, walaupun itu diperbolehkan tapi aku ingin menjaga diri,” jawabku dengan polosnya.

“Aku berharap jika suami seorang dokter, aku bisa berkonsultasi atau memeriksa kesehatanku kepada dia. Aku akan merasa tidak canggung dan malu jika yang memeriksanya suami aku sendiri,” tambahku.

“Ih pikiran teteh sulit dimengerti, ya sudahlah terserah kamu saja teh. Oya, saya penasaran mau tanya satu hal lagi kepada teh Uni,” kata Dini.

“Ya, silahkan. Tanya apa, Din?” ujarku.

“Teteh percaya takdir Allah tidak? Bagaimana jika suatu hari nanti, ternyata teteh ditakdirkan Allah tidak bersuamikan seorang dokter. Apakah teteh akan menerimanya?”

“Jika memang jodohku bukan seorang dokter, ya tidak jadi masalah. Tapi aku akan tetap berdoa dan meminta kepada Allah untuk mempertemukanku dengan dokter lainnya.”

“Maksudnya? Teteh tetap keukeuh ingin bersuami seorang dokter?” tanya Dini kaget.

“Bukan seperti itu, maksudnya aku menerima takdir Allah yang memberikan jodoh kepadaku bukan seorang dokter dari rumah sakit, tapi aku meminta lagi untuk mempertemukan aku dengan dokter yang lainnya, yaitu dokter umat.

“Dokter umat? Apa pula itu?” celoteh Dini.

“Ya, seorang Dokter yang bukan hanya bekerja memeriksa pasien di rumah sakit dengan berseragam putih dan membawa stetoskop, tapi seorang dokter yang mampu menyembuhkan penyakit dan memberi resep obat kehidupan dalam menghadapi masalah-masalah umat terlebih umat islam,” ungkapku.

“Seperti apa itu dokter umat?” tanya Fatma serius.

“Yang pasti dia adalah seorang yang tak pernah lelah mempedulikan masalah umat, bukan hanya tentang masalah yang menimpa dirinya, namun ia peduli pada masalah ekonomi, kesehatan, pendidikan, budaya ataupun politik terlebih persoalan aqidah umat islam. Ia yang akan senantiasa memberikan suntikan semangat penambah keimanan untuk menyembuhkan penyakit umat islam saat ini,” jawabku meyakinkan.

“Oh..begitu. Tapi intinya sama-sama seorang Dokter kan? Bilang saja teteh pengen mempunyai calon suami Dokter kan? Ya sudah, ayo kita tengok Rahma ke rumah sakit, siapa tahu teteh bertemu jodoh di sana,” goda Dini sambil menunjuk aku dengan senyuman manisnya.

“Jodohku? Maksudnya Din? Tanyaku tidak mengerti.

“Ya, jodohmu, Mas dokter di rumah sakit! Siapa tahu saja, jodoh teteh ada di sana,” bisik Dini di telingaku dengan senyuman menggoda.

“Bisa saja kamu Din, tapi tidak ada salahnya ya? Kan kita harus ikhtiar dulu, namun tentu saja jika Allah menghendaki,” jawabku sambil tersenyum malu.

“Bismillah, semoga dipertemukan, kapanpun itu,” tambahku sambil tersenyum menundukan kepala.

“Amiin,” ucap Dini dan Fatma bersama-sama. []

loading...
loading...