islampos
Media islam generasi baru

Kakak Pernah Lihat Orang Kaya, Uangnya Banyak, Berharta dari Hasil Korupsi?

Foto: genq
0

Oleh: Ernydar Irfan

SEMALAM si sulung, Kakak Fashan, gundah gulana.

“Mbu, Ayah, kakak minta maaf kalau sekarang kakak gak lagi di peringat terbaik di sekolah,” kata si sulung dengan wajah lesu penuh sesal. “Jujur aja, kakak ada di kelas unggulan, stress. Bebannya berat. Lihat orang-orang kok gitu amat buat mencapai nilai bagus, gak jujur, nyontek. Kakak jadi kesingkir, padahal mereka itu banyakan main-main aja.”

 

“Ngapain kamu terbeban sama yang begituan, kak?” tukas saya. “Buat Mbu sama Ayah itu gak penting…. Bahkan kalaupun nilaimu kebakaran semua selama kamu sudah berjuang dengan sungguh-sungguh, jujur, taat ibadah ya sudah…. gak ada tekanan sama sekali dari mbu sama ayah.

“Kamunya aja yang GR mikir Mbu sama Ayah mau kamu serba sempurna… enggak lah… Ya Mbu seneng kalau kamu berprestasi, buat Mbu itu bonus aja… Bukan sesuatu yang luar biasa banget. Bisa ya dihargai, gak bisa bukan berarti dicaci…” lanjutku santai sambil mengganggu kucingku yang sedang tidur.

“Iya, kak… Yang penting kamu evaluasi diri, apa yang salah, apa yang kurang perbaiki, jadi aja diri sendiri, ibadah jangan tinggal, kejujuran harus dijunjung tinggi. Nikmatin aja apa yang dijalanin, belajar nerima keadaan, belajar kontrol diri, jangan terbawa arus yang gak baik. Anggap aja proses belajar hidup…” timpal ayahnya juga santai.

Wajah muram si sulung berangsur mencair dan terlihat mulai santai.

Hari ini sambil mengajaknya jalan dan makan, kami kembali mengingatkan.

“Kakak, pernah lihat orang kaya, uangnya banyak, berharta dari hasil korupsi?” tanyaku.

“Pernah…” jawabnya.

“Menurut kamu, berkah orang yang hidup dari nafkah dzalim hidupnya bakal berkah?” tanyaku lagi.

“Enggak,” jawabnya.

“Begitu juga nilai kakak di sekolah…. Apakah kakak pikir dengan dia berbohong, curang, ilmu yang dimilikinya bakal berkah?”

“Enggak….” jawabnya.

“Di situlah kamu belajar, kenapa merasa lemah karena nilaimu lebih rendah daripada mereka. Mbu bukan orang yang bersih, dulu… Mbu juga melakukan hal yang sama… Tapi Mbu minta ampun sama Allah dan beristighfar. Itu kenapa Mbu bersikap kayak sekarang, Mbu gak mau anak Mbu melakukan kesalahan yang sama. Mbu gak mau ilmu yang kamu dapatkan bukan membawa manfaat malah mendapat mudharat… Belajar dari ayah deh… Kan kakak punya teladan yang baik,” jawabku sambil tersenyum.

Ayahnya tersenyum dan berkata, “Coba kakak belajar dengan apa yang terjadi di keluarga kita. Kak, itu sebabnya kita gak pernah hidup mewah dan berlebih-lebihan, kita cukupkan dari apa yang ada, karena kebahagiaan itu bukan dari angka dan apa yang kita punya, tapi berusaha aja melakukan yang terbaik, ibadah baik, apapun hasilnya ya terima dan jalani aja.”

Aku kembali menambahkan, “Kakak., ejak awal pernikahan ibu sudah minta sama ayah… jangan beri keluarga ini sesuatu yang abu-abu apalagi hitam. Ibu lebih memilih kita jalani hidup dengan sederhana dan prihatin kayak sekarang ketimbang hidup melimpah tapi gak dapet berkah. Begitu juga ibu harap pola pikir kakak sama adek.

“Berkah itu tujuan dari segala usaha, apapun hasilnya baik sangka sama Allah karena gak akan ada yang tertukar selama kita ada di jalan-Nya. Buktinya kita bahagia kan? Alhamdulillah….” jawabku sambil memandang kedua anak lelakiku.

Kulihat binar di mata si sulung. Hilang sudah tatapan penuh beban semalam.

Semoga Allah memberkahi hidup kalian, memudahkan segala langkah, menjaga kalian berdua on the track. Bukan harta yang bisa kami bekali pada kalian, tapi semoga pelajaran hidup bisa menjadi bekal kalian menjadi muslim yang tangguh di tengah arus duniawi yang begitu deras menghujam.

Melihat dia menggoda adiknya yang sedang kurang sehat dan mendengar mereka tergelak tertawa rasanya surga dunia kunikmati. Wahai dua calon mujahidku, nikmati hidup penuh cinta kalian karena kelak gelak tawa ini akan jadi bagian perekat cinta kalian berdua. []

DISCLAIMER: Tulisan ini secara ekslusif diberikan hak terbit kepada www.islampos.com. Semua jenis kopi tanpa izin akan diproses melalui hukum yang berlaku di Indonesia. Kami mencantumkan pengumuman ini di rubrik Kolom Ernydar Irfan dikarenakan sudah banyak kejadian plagiarisme kolom ini di berbagai media sosial. Terima kasih. 

loading...
loading...