ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

“Jeweran” dari Mas Priyono

Foto: Koleksi Pribadi
0

Oleh: Karyati Ulya Hadibasuki

TANGGAL 16 siang, sepulang kerja, saya naik bis, duduk manis di bangku deret belakang biar gak sumuk. Entah kenapa tetiba saya pengen pindah depan. Akhirnya saya duduk di samping mas-mas ini.

Begitu dia menoleh, baru saya tahu bahwa dia tuna netra. Kedua matanya abu-abu. Tak ada pikiran apapun saat itu, ketemu tuna netra hal biasa buat saya. Setidaknya ada 2 tuna netra yang biasa saya temui dalam perjalanan kerja, 1 pengamen dan 1 tukang pijat.

Namanya Priyono. Tiba-tiba Mas ini nanya ke saya dimana saya akan turun. Saya jawab alamat saya. Sebagai sopan-santun saya tanya balik dia mau kemana. “Ke Semarang,” jawabnya.

Tapi saya lalu jadi kepo. “Semarangnya mana, Mas?”

“Terminal Terboyo, Bu”

“Memangnya mau kemana, Mas?”

“Ngaliyan.”

“Wah kejauhan kalo turun Terboyo, mending turun Banyumanik Mas, terus naik bis jurusan Mangkang turun Jrakah. Ngaliyannya mana?”

“Kampus UIN, Bu…”

Sampai di sini semakin besar kepo saya, ngapain ya tuna netra ke kampus UIN? “Kampus berapa? Kalo kampus satu, Mas bisa langsung turun di depannya,gak perlu naik bis lagi…”

“Sebentar saya telefon teman saya dulu Bu, saya juga belum tahu kampus berapa…”

Lalu dengan ketrampilan menelefon yang tidak saya sangka, dia menelefon temannya.

“Kampus satu ternyata, Bu…”

“Oh, ya sudah, Masnya turun Banyumanik aja naik bis Gedawang Mangkang,nanti bilang kondekturnya turun kampus satu…”

“Ada alternatif lain, Bu?”

“Ada Mas, tapi lebih ribet. Turun Banyumanik, naik bis lagi jurusan Johar, turun Tugu Muda terus jalan dikit naik bis jurusan Ngaliyan. Gimana?”

“Wah ribet ya Bu, mending yang pertama tadi…”

“Iya Mas, Tugu Muda terlalu ramai kendaraan. Btw, ke kampus satu ada perlu apa Mas?”

“Mau ambil nomer tes, Bu…”

“Oh mau daftar kuliah?”

“Mau daftar jadi dosen, Bu…”

Glodakkkkk, saya kaget. “Berarti Masnya sudah S2?”

“Alhamdulillah sudah Bu, belum lama lulus dari UIN Jogja…”

Daaannn saya tidak bisa menahan kepo. Akhirnya dia bercerita, dia buta sejak lahir. Terlambat masuk sekolah karena ortunya orang desa yang tak paham bahwa tunanetra juga bisa sekolah. Dia sekolah di SD biasa, 6 tahun selesai, tapi karena dia jatuh menjelang ujian, akhirnya nggak lulus SD karena tidak ikut ujian. Sempat Masuk SLB setahun, juga masuk pesantren setahun sebelum akhirnya Masuk SMP. Kenal komputer sejak SMA, dia menghafal keyboard. Kuliah S1-nya dia selesaikan dalam waktu 4 tahun!

“Terus kuliahnya gimana, Mas?”

“Ya kuliah biasa Bu, saya mencatat pakai braille, tapi untuk tugas dan ujian saya gunakan komputer bicara…”

“Lulus S1 langsung S2?”

“Iya bu, tapi lulus S1 saya sambil kerja, kasian orangtua kalo harus membiayai. Alhamdulillah ada teman nawarin kerja. Kerjanya online, bikin iklan untuk film. Kalo S2 kan kuliahnya dikit Bu, tapi tiap hari saya ke kampus nyelesaiin tugas-tugas biar sore sampe malamnya bisa ngerjain kerjaan online.”

Saya melongo saja dengerin penjelasannya, gak ‘nyandak’ pikiran saya membayangkan dia MEMBUAT IKLAN.

“Terus untuk tesisnya gimana Mas, kan butuh banyak referensi tuh?”

“Untuk buku, saya dibantu teman Bu membacanya, saya kutip yang perlu. alhamdulillah selesai, teman bantu ngerapiin layout aja…”

Jleb jleb jleb, saya seperti mendengar Allah bicara: see? Kamu punya mata sehat loh! Masih banyak alesan buat males bikin proposal?

Benar-benar siang yang bikin merinding. Malu banget saya. Dia yang 10 tahun lebih muda daripada saya dan buta, tapi pencapaiannya jauh banget di atas saya. Dan caranya menceritakan kisahnya, sungguh gak ada kesan sombong ataupun minta dikasihani, biasa saja, seperti ngobrol dengan teman lama.

Menjelang turun, kami sempat bertukar nama. Dia juga sempat bercerita sudah menikah setahun lalu, dengan gadis yang ‘menjelang’ buta karena katarak yang terlambat dioperasi. Kalau nggak ada tanggung jawab jemput anak, sebenarnya hari itu pengen saya mengantarkannya sampai Njrakah, biar bisa lebih banyak inspirasi yang saya terima dari kisahnya.

Orang buta berprestasi, saya sudah pernah lihat di tipi. Tapi bertemu langsung dan ngobrol dengam orang buta yang ‘melihat’, tak pernah saya sangka. Allah selalu punya cara yang unik untuk ‘menjewer’ saya. []

loading...
loading...