• Home
  • Disclaimer
  • Iklan
  • Redaksi
  • Donasi
  • Copyright
Rabu, 16 September 2026
Islampos
  • Home
  • Beginner
  • Tahukah
  • Sirah
  • Renungan
  • Muslimbiz
    • Muslimtrip
  • Berita
  • Cari
No Result
View All Result
  • Home
  • Beginner
  • Tahukah
  • Sirah
  • Renungan
  • Muslimbiz
    • Muslimtrip
  • Berita
  • Cari
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Islampos
[adinserter block="1"] [adinserter block="17"]

Hukum Mencium Tangan

by Yudi
8 tahun ago
in Kolom
Reading Time: 3 mins read
A A
0
hukum mencium tangan

Ilustrasi foto: Gulalives

[adinserter block="3"] [adinserter block="19"]

DI Indonesia, menghormati dan memulian orang yang lebih tua atau memiliki kedudukan banyak dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya dengan mencium tangan saat bertemu. Seperti anak kepada orang tuanya, atau murid kepada gurunya, orang yang lebih muda kepada yang lebih tua. Adat ini sudah berlangsung lama selama puluhan tahun dari generasi ke generasi berikutnya.

Jika dilihat dari kaca mata syari’at, perkara ini juga tidak ada masalah (boleh), bahkan sebagian ulama’ menganjurkannya. Hal ini berdasarkan sebuah riwayat dari Abdullah bin Umar –radhiallahu ‘anhu- beliau berkisah, lalu di akhir hadits beliau berkata:

«فَدَنَوْنَا يَعْنِي مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَبَّلْنَا يَدَهُ»

“Maka kami mendekat kepada Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, lalu kami mencium tangan beliau”. [HR. Abu Dawud : 5223, Al-Bukhari dalam “Al-Adabul Mufrad” : 972 dan selain keduanya].

ArtikelTerkait

Jangan Lagi Bilang “Nggak Suka Senin!”

Tentara yang Diperas oleh Negaranya Sendiri

Firaun Tak Kalahkan Musa, Netanyahu Takkan Kalahkan Gaza

Dari Era Pra Hijrah ke Gaza: Warisan Generasi Progresif dalam Menolak Ketidakadilan

BACA JUGA: Hajar Aswad, Kenapa Dicium?

Hadits ini dinilai dhaif (lemah) oleh sebagian ahli hadits karena dalam sanadnya terdapat seorang rawi yang bernama Yazid bin Abi Ziyad dan beliau seorang rawi yang dhaif (lemah). Walau lemah, hadits ini boleh diamalkan, karena isinya dalam bab adab. Menurut jumhur ulama’, dalam bab adab dan yang semisalnya tidak dipersyaratkan keshahihan sebuah hadits. Oleh karena itu, Abu Dawud dan Al-Bukhari menyebutkan hadits di atas di kitab keduanya dengan memberi tarjamah (judul) “Bab Mencium Tangan” sebagai wujud istimbath (memetik) hukum darinya. Ini sebagai bukti, bahwa beliau menjadikan hadits ini sebagai hujjah (dalil) yang mendasari bolehnya mencium tangan.

Makna hadits di atas juga telah dikuatkan oleh sebuah riwayat dari Zari’ –radhiallahu ‘anhu- beliau berkata –dalam pengutusan Abdul Qais – :

لَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِينَةَ فَجَعَلْنَا نَتَبَادَرُ مِنْ رَوَاحِلِنَا، فَنُقَبِّلُ يَدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Tatkala kami tiba di Madinah, maka kami segera turun dari hewan tunggangan kami lalu kami mencium tangan Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-“.[HR. Abu Dawud : 5225 dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani –rahimahullah- ].

Telah diriwayatkan sebuah atsar oleh Imam Al-Bukhari dalam “Al-Adabul Mufrad” dari Abdurrahman bin Ruzain –rahimahullah- beliau berkata :

مَرَرْنَا بِالرَّبَذَةِ فَقِيلَ لَنَا: هَا هُنَا سَلَمَةُ بْنُ الْأَكْوَعِ، فَأَتَيْنَاهُ فَسَلَّمْنَا عَلَيْهِ، فَأَخْرَجَ يَدَيْهِ فَقَالَ: بَايَعْتُ بِهَاتَيْنِ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَخْرَجَ كَفًّا لَهُ ضَخْمَةً كَأَنَّهَا كَفُّ بَعِيرٍ، فَقُمْنَا إِلَيْهَا فَقَبَّلْنَاهَا

“Kami melewati Rabadzah, maka dikatakan kepada kami: Di sini Salamah bin Al-Akwa’. Lalu kami mendatangi dan mengucapkan salam kepadanya. Kemudian beliau mengeluarkan tangannya seraya berkata : “Aku telah membaiat nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-dengan dua tangan ini.” Lalu beliau mengeluarkan telapak tangannya yang besar seperti telapak onta, kamipun berdiri dan menciupnya.” [HR. Al-Bukhari dalam “Al-Adabul Mufrad” : 973 dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani –rahimahullah-].

Telah diriwayatkan oleh Abdullah bin Wahb Al-Mishri Al-Qurasyi –rahimahullah- (w. 197 H) dari Tamim bin Salamah –rahimahullah- beliau berkata :

قَدِمَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ مِنْ سَفَرٍ فَقَبَّلَ يَدَهُ أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ، ثُمَّ خَلَوَا يَتَنَاجَيَانِ حَتَّى بَكَيَا جَمِيعًا

“Umar bin Al-Khathab –radhiallahu ‘anhu- datang dari safar (perjalanan jauh), lalu Abu Ubaidah bin Al-Jarrah mencium tangannya. Kemudian keduanya menyendiri dan berbisik-bisik sampai menangis bersama.”[ Al-Jami’ fil Hadits : 259 ].

Dari sebagian atsar di atas dapat kita simpulkan, bahwa menciup tangan dalam rangka untuk menghormati dan memuliakan orang lain yang memang berhak untuk mendapatkan hal itu merupakan tradisi yang telah dilakukan oleh para ulama’ salaf dari masa ke masa. Bukan sesuatu yang baru dilakukan sekarang. Adapun yang tidak boleh, menciup tangan orang lain karena masalah-masalah duniawi seperti kekayaan, materi, kedudukan dan yang semisalnya. Jadi bukan dilarang secara mutlak.

Imam An-Nawawi –rahimahullah-(w. 676 H) berkata :

يُسْتَحَبُّ تَقْبِيلُ يَدِ الرَّجُلِ الصَّالِحِ وَالزَّاهِدِ وَالْعَالِمِ وَنَحْوِهِمْ مِنْ أَهْلِ الْآخِرَةِ وَأَمَّا تَقْبِيلُ يَدِهِ لِغِنَاهُ وَدُنْيَاهُ وَشَوْكَتِهِ وَوَجَاهَتِهِ عِنْدَ أَهْلِ الدُّنْيَا بِالدُّنْيَا وَنَحْوِ ذَلِكَ فَمَكْرُوهٌ شَدِيدُ الْكَرَاهَةِ وَقَالَ الْمُتَوَلِّي لَا يَجُوزُ

“Dianjurkan untuk mencium tangan seorang yang shalih, zuhud, berilmu dan yang semisal mereka dari ahli akhirat. Adapun mencium tangannya karena kekayaannya, materinya, kekuasaannya, dan kedudukannya di sisi ahli dunia karena dunia mereka dan yang semisalnya, maka hukumnya sangat dimakruhkan. Al-Mutawalli berkata : tidak boleh.” [Majmu’ Syarhul Muhadzdzab : 4/636].

BACA JUGA: Meski Kasar, Tangan Seorang Tukang Batu Dicium Rasulullah

Imam Ibnul Mulaqqin –rahimahullah (w. 804 H) berkata :

ثمَّ اعْلَم أَن الرَّافِعِيّ اسْتدلَّ بِهَذَا الحَدِيث عَلَى أَنه لَا يكره التَّعْظِيم بالتقبيل لزهد أَو علم وَكبر سنّ

“Ketahuilah ! sesungguhnya imam Ar-Rafi’i –rahimahullah- berdalil dengan hadits ini, sesungguhnya tidak dimakruhkan menghormati/memuliakan orang lain dengan mencium (tangannya) karena kezuhudan(nya), atau ilmu(nya), atau usia(nya),” [Al-Badrul Munir: 9/47].

Kesimpulan :

1). Mencium tangan dalam rangka menghormati dan memuliakan orang lain karena keshalihannya, atau kezuhudannya, atau ilmunya, atau usianya yang lebih tua, atau yang semisal dengan hal ini hukumnya BOLEH.

2). Adapun mencium tangan orang lain karena masalah-masalah dunia seperti jabatan, materi, kekayaan, dan yang semisalnya hukumnya MAKRUH.

Demikian, semoga bermanfaat. Barakallahu fiikum jami’an. []

Facebook: Abdullah Al Jirani

Tags: Hukummencium tangan
ADVERTISEMENT
Previous Post

Habis Mandi, Bolehkan Berwudhu tanpa Berbusana Terlebih Dulu?

Next Post

Kapan Pertama Kali Azan Dikumandangkan?

Yudi

Yudi

Related Posts

Senin

Jangan Lagi Bilang “Nggak Suka Senin!”

14 Juli 2025
Israel, Yahudi, Gaza, Tentara

Tentara yang Diperas oleh Negaranya Sendiri

10 Juli 2025
Firaun, Benjamin Netanyahu

Firaun Tak Kalahkan Musa, Netanyahu Takkan Kalahkan Gaza

9 Juli 2025
Gaza

Dari Era Pra Hijrah ke Gaza: Warisan Generasi Progresif dalam Menolak Ketidakadilan

8 Juli 2025
Please login to join discussion

Tulisan Terbaru

Melakukan Perubahan, sifat jujur, orang yang meninggalkan shalat, istidraj, FITNAH, SYAHWAT, maksiat, bunuh diri, dosa, maksiat, taubat

5 Alasan Jangan Mengungkit Dosa Masa Lalu Seseorang yang Sudah Bertaubat

by Yudi
14 Juli 2025
0

agar tidak mengulangi dosa, mengganti shalat wajib, dosa jariyah, mandi, dosa, shalat

Jangan Tinggalkan Shalat Meski Badan Kotor saat Kerja, Tidak Semua Kotor Itu Najis

by Yudi
14 Juli 2025
0

Senin

Jangan Lagi Bilang “Nggak Suka Senin!”

by Dini Koswarini
14 Juli 2025
0

Cerai, Sebab Zina Dilarang dalam Islam, zina, Penyebab Lelaki Selingkuh, Talak

Talak: Halal yang Dibenci, Senjata Iblis untuk Memecah Belah

by Saad Saefullah
13 Juli 2025
0

Laporan Donasi Islampos Juli 2025: Alhamdulillah, Sudah Terkumpul Rp2.390.999!

by Saad Saefullah
13 Juli 2025
0

Terpopuler

No Content Available
Facebook Twitter Youtube Pinterest Telegram

© 2022 islampos - Membuka, Menginspirasi, Free to Share.

No Result
View All Result
  • Home
  • Beginner
  • Tahukah
  • Sirah
  • Renungan
  • Muslimbiz
    • Muslimtrip
  • Berita
  • Cari

© 2022 islampos - Membuka, Menginspirasi, Free to Share.