• Home
  • Disclaimer
  • Iklan
  • Redaksi
  • Donasi
  • Copyright
Sabtu, 31 Oktober 2026
Islampos
  • Home
  • Beginner
  • Tahukah
  • Sirah
  • Renungan
  • Muslimbiz
    • Muslimtrip
  • Berita
  • Cari
No Result
View All Result
  • Home
  • Beginner
  • Tahukah
  • Sirah
  • Renungan
  • Muslimbiz
    • Muslimtrip
  • Berita
  • Cari
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Islampos
[adinserter block="1"] [adinserter block="17"]

Firaun Tak Kalahkan Musa, Netanyahu Takkan Kalahkan Gaza

Kekuasaan Firaun runtuh bukan karena rakyat memberontak, tapi karena kebenaran yang ditekan terlalu lama akhirnya bangkit dari tempat yang tak disangka: dari istana, dari ahli sihir, dari laut.

by Saad Saefullah
1 tahun ago
in Kolom
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Firaun, Benjamin Netanyahu

Foto: Facebook @The Prime Minister of Israel

[adinserter block="3"] [adinserter block="19"]

KEKUATAN bisa terlihat kokoh dari luar—dikelilingi pasukan, dipuja para elite, dilindungi harta dan propaganda. Tapi sejarah menunjukkan bahwa kekuasaan yang menolak kebenaran, berakhir dalam kehinaan. Firaun adalah lambang keangkuhan absolut. Ia bukan hanya raja Mesir, tapi simbol sistem penindasan yang sempurna—di mana militer, ekonomi, birokrasi, dan media tunduk pada satu kehendak: menolak wahyu.

Namun, bahkan kekuatan sebesar itu pun tak sanggup membungkam kebenaran yang dibawa Nabi Musa. Maka hari ini, ketika Benjamin Netanyahu berkuasa dengan militer tercanggih, dukungan dunia Barat, dan parlemen penuh loyalis, pertanyaannya sederhana: jika Firaun yang kokoh saja tak mampu mengalahkan Nabi Musa, bagaimana mungkin Netanyahu yang hancur di dalam bisa menghancurkan Gaza?

Kekuasaan Firaun: Oligarki yang Menjadi Mesin Penindasan

Firaun tak berdiri sendiri. Ia dikelilingi lingkaran oligarki:

Haman, sang teknokrat kekuasaan, mengendalikan proyek besar dan pengaruh struktural.

ArtikelTerkait

Jangan Lagi Bilang “Nggak Suka Senin!”

Tentara yang Diperas oleh Negaranya Sendiri

Dari Era Pra Hijrah ke Gaza: Warisan Generasi Progresif dalam Menolak Ketidakadilan

Infrastruktur yang Dibangun dan Dihancurkan Sendiri oleh Yahudi: dari Madinah ke Palestina,

Qarun, elit ekonomi dan simbol kerakusan harta, menopang kekuasaan dengan kekayaan.

Ahli sihir, pengendali opini publik, mengubah kenyataan menjadi ilusi.

Pejabat istana, birokrat patuh yang lebih takut kehilangan jabatan daripada membela kebenaran.

Ketika Nabi Musa datang dengan risalah Tauhid dan pembebasan Bani Israil, seluruh sistem ini dikerahkan untuk menindasnya. Firaun menggiring rakyat dengan narasi manipulatif:

“Sesungguhnya dia (Musa) adalah penyihir ulung, yang ingin mengeluarkan kalian dari negeri ini dengan sihirnya. Maka apa yang kalian perintahkan?” (QS. Asy-Syu‘arā’: 35-36)

Satu narasi dibangun: Musa adalah ancaman bagi stabilitas, agama, dan bangsa.

Dakwah Musa di Tengah Istana Tirani

Musa berdakwah bukan di pinggir jalan, tapi di tengah istana. Ia menatap langsung ke mata penguasa dan berkata:

“Sampaikanlah kepada Firaun: Sesungguhnya aku adalah utusan Tuhan semesta alam.” (QS. Asy-Syu‘arā’: 16)

Tapi bukan argumen yang dijawab Firaun—melainkan ancaman. Ketika tongkat Musa berubah menjadi ular besar, Firaun memanggil seluruh ahli sihir untuk mempertahankan legitimasi kekuasaannya.

BACA JUGA:  Serang Gaza Kembali, Penjajah Zionis Israel Gigit Jari

Pertarungan itu terjadi di depan publik. Tapi ketika Musa mengalahkan mereka, para ahli sihir justru sujud:

“Kami beriman kepada Tuhan Musa dan Harun.” (QS. Thaha: 70)

Firaun pun murka. Kekalahan logika dan spiritual ini dibalas dengan kekerasan. Ia menyiksa mereka yang percaya. Tapi iman sudah menembus ilusi.

Suara Nurani dari Dalam Istana

Salah satu dari kalangan istana, yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai “lelaki mukmin dari keluarga Firaun,” memberanikan diri memberi kritik:

“Apakah kamu akan membunuh seseorang hanya karena dia berkata ‘Tuhanku adalah Allah’? Jika ia berdusta, dosanya atasnya. Tapi jika ia benar, bukankah kita yang binasa?” (QS. Ghafir: 28)

Namun Firaun tuli terhadap kritik. Ia tetap mengejar Musa, hingga akhirnya ia sendiri—bukan utusannya—memimpin pengejaran ke Laut Merah. Dan di sanalah dia tenggelam.

Netanyahu: Kuat dari Luar, Retak dari Dalam

Netanyahu hari ini juga mengendalikan sistem kekuasaan:

IDF sebagai Haman: kekuatan militer supercanggih

Elite ekonomi dan miliarder Zionis sebagai Qarun

Media dan propaganda global sebagai ahli sihir modern

Koalisi sayap kanan dan ultra-Ortodoks sebagai pejabat istana

Tapi semua itu kini retak. Sejak 7 Oktober 2023, Netanyahu kehilangan kepercayaan para jenderalnya. Menteri Pertahanan Yoav Gallant mengkritik keras kebijakan perang yang tak jelas. Kepala Staf IDF, Herzi Halevi, menyuarakan kegelisahan: tentara bertempur tanpa arah politik.

Gantz dan Eisenkot mundur dari kabinet perang. IDF kehilangan semangat. Anggaran runtuh. Moral menurun. Peperangan tanpa visi berubah menjadi konflik internal.

Jika Firaun Saja Gagal, Bagaimana dengan Netanyahu?

Firaun gagal menghadapi Musa—bukan karena Musa punya kekuatan fisik yang lebih besar, tetapi karena Musa membawa kebenaran yang tak bisa dibungkam. Para ahli sihir, pejabat istana, bahkan sebagian rakyat Mesir, menyaksikan bahwa Musa tak bisa dikalahkan dengan narasi kebohongan.

BACA JUGA: Perjanjian Umar bin Khattab dengan Kaum Nasrani di Baitul Maqdis

Hari ini, Netanyahu pun dihadapkan pada kebenaran yang tak bisa dikalahkan: perlawanan Gaza bukan sekadar perang fisik, tapi perang moral. Ketika Netanyahu menyalahkan tentara, menolak kritik, dan terus memaksakan kehendaknya, ia sedang mengulangi tragedi Firaun: mengejar musuh sampai ke laut, padahal sudah diperingatkan oleh suara nurani dari dalam.

Penutup:

Kekuasaan Firaun runtuh bukan karena rakyat memberontak, tapi karena kebenaran yang ditekan terlalu lama akhirnya bangkit dari tempat yang tak disangka: dari istana, dari ahli sihir, dari laut.

Netanyahu pun mungkin akan tenggelam bukan karena roket dari Gaza, tapi karena ia menolak mendengar suara jenderalnya, menterinya, rakyatnya, bahkan sejarah.

“Maka pada hari itu, tak ada penolong bagi Firaun, dan ia termasuk orang-orang yang binasa.” (QS. Al-Qashash: 41) []

Tags: FiraungazaisraelNabi Musanetanyahupalestinayahudi
ADVERTISEMENT
Previous Post

Berapa Kali Idealnya Gosok Gigi dalam Sehari?

Next Post

7 Penyebab BAB Berdarah yang Perlu Diwaspadai

Saad Saefullah

Saad Saefullah

Lelaki. Tidak terkenal. Menyukai kisah-kisah Nabi dan Para Sahabat.

Related Posts

Senin

Jangan Lagi Bilang “Nggak Suka Senin!”

14 Juli 2025
Israel, Yahudi, Gaza, Tentara

Tentara yang Diperas oleh Negaranya Sendiri

10 Juli 2025
Gaza

Dari Era Pra Hijrah ke Gaza: Warisan Generasi Progresif dalam Menolak Ketidakadilan

8 Juli 2025
Abu Jahal, Yahudi

Infrastruktur yang Dibangun dan Dihancurkan Sendiri oleh Yahudi: dari Madinah ke Palestina,

6 Juli 2025
Please login to join discussion

Tulisan Terbaru

Melakukan Perubahan, sifat jujur, orang yang meninggalkan shalat, istidraj, FITNAH, SYAHWAT, maksiat, bunuh diri, dosa, maksiat, taubat

5 Alasan Jangan Mengungkit Dosa Masa Lalu Seseorang yang Sudah Bertaubat

by Yudi
14 Juli 2025
0

agar tidak mengulangi dosa, mengganti shalat wajib, dosa jariyah, mandi, dosa, shalat

Jangan Tinggalkan Shalat Meski Badan Kotor saat Kerja, Tidak Semua Kotor Itu Najis

by Yudi
14 Juli 2025
0

Senin

Jangan Lagi Bilang “Nggak Suka Senin!”

by Dini Koswarini
14 Juli 2025
0

Cerai, Sebab Zina Dilarang dalam Islam, zina, Penyebab Lelaki Selingkuh, Talak

Talak: Halal yang Dibenci, Senjata Iblis untuk Memecah Belah

by Saad Saefullah
13 Juli 2025
0

Laporan Donasi Islampos Juli 2025: Alhamdulillah, Sudah Terkumpul Rp2.390.999!

by Saad Saefullah
13 Juli 2025
0

Terpopuler

No Content Available
Facebook Twitter Youtube Pinterest Telegram

© 2022 islampos - Membuka, Menginspirasi, Free to Share.

No Result
View All Result
  • Home
  • Beginner
  • Tahukah
  • Sirah
  • Renungan
  • Muslimbiz
    • Muslimtrip
  • Berita
  • Cari

© 2022 islampos - Membuka, Menginspirasi, Free to Share.