islampos
Media islam generasi baru

Duh, Shalatku

Foto: Pinterest
0

 

Oleh: Eneng Susanti,
Penulis, tinggal di Purwakarta, susanmizuki@yahoo.com
RASANYA seperti bayi yang baru merangkak padahal seharusnya sudah bisa berjalan. Saya terlambat. Seharusnya di usia baligh, seorang muslim sudah bisa dengan rutin menjalankan ibadah shalat 5 waktu, tapi saya masih belum terbiasa. Dangkal dan lemah.

Itulah saya satu dasawarsa lalu. Dan sering kali saya mengkambinghitamkan keluarga dalam hal ini. Maklumlah, kami memang bukan orang berpendidikan yang akrab dengan ilmu agama dan mengamalkannya dalam keseharian. Puasa tidak, shalat pun jarang. Sungguh, kami ini orang terbelakang.

Saya sadar, saya salah dan lalai. Kewajiban terbengkalai, saya ingat persis saat guru bertanya, “siapa yang hari ini shalat?”  dan muka saya seperti kepiting rebus saja.

Saya tidak bisa mengacungkan tangan, padahal hampir di setiap pertanyaan tentang materi pelajaran saya selalu bisa menjawab dengan benar, tapi tidak untuk persoalan shalat. Pun ketika bermain bersama teman-teman, mereka kerap menjeda permainan untuk shalat.

Saya hanya terdiam menyaksikan mereka berwudhu dan melaksanakan shalat sesuai perintah orang tua mereka. Hati saya pilu, orang tua tidak pernah menyuruh begitu. Apalagi di usia yang sudah cukup, saya masih belum hafal bacaan shalat dan rukun wudhu yang benar. Padahal, materi pelajaran sekolah yang lain bisa saya hafalkan dengan mudah.

Keluarga saya bukanlah keluarga yang islami dan taat beribadah. Pengetahuan agama pun begitu tipis, dan ini menyebabkan saya kesulitan untuk membiasakan diri menjalankan ibadah lima waktu.

Jika sesekali saya shalat, rasanya malu sekali kesannya sok suci. Sedangkan, jika berada diluar rumah, rasa malu itu muncul karena hal yang sebaliknya. Saya tidak shalat, dan saat itu saya benar-benar merasa berdosa. Saya malu pada dunia, apalagi dengan akhirat.

Terkadang saya bertanya-tanya, mengapa kita harus shalat? Untuk apa puasa? Kenapa Allah menyuruh kita beribadah? Ada apa dengan Al-Qur’an? Dan seabreg pertanyaan ‘kekanak-kanakan’ lainnya yang berkutat di kepala.

Pertanyaan-pertanyaan itu mengusik hati dan menantang akal untuk berfikir mencari jawabannya. Berangkat dari perasaan yang campur aduk itulah, saya belajar mendalami ajaran Islam.

Awalnya semua aktivitas keislaman itu hanya terasa sebagai ritual tanpa makna dalam jiwa. Pelaksanaannya hanya bagian dari paksaan kewajiban yang saya sendiri tidak tahu mengapa harus demikian.

Saya sungguh menyesal. Namun, saya harus terus belajar, mencari jawaban, menggali ilmu melalui mata, telinga, hati dan pikiran, mendalami pemahaman.

”Allah ada. lihatlah ciptaanNya !” itu yang dikatakan seorang guru pembimbing di rohis SMP tempat saya belajar. Mata saya baru terbuka, seakan tertidur telah lama dan baru saja dibangunkan. Bukankah begitu jalan yang dilalui seorang Ibrahim a.s. hingga ia menemukan siapa tuhannya?

Saya tahu pasti shalat itu adalah kewajiban. Namun, kealpaan yang mengendap terlalu lama telah menimbulkan penyakit malas.

Saya terlalu banyak menghabiskan waktu dengan kesia-siaan. Acara TV lebih disukai daripada berdiri sejenak untuk shalat. 24 jam didepan TV saya sanggup, tapi 5 menit saja untuk shalat saya jemu.

Lalu, pada suatu hari saya mendengar khutbah jum’at dari pengeras suara. Ustad di kampung tengah berbicara mengenai masalah ketauhidan. Air mata saya menitik saat itu juga.

Pertanyaan tentang makna ketuhanan dan hakikat kehidupan terjawab sudah. Saya pun mulai berfikir untuk menata waktu dan berikhtiar untuk sholat. Allah haruslah lebih saya cintai daripada apapun juga di dunia ini.

Hari itu, terbentuk kebulatan tekad yang kokoh dalam sanubari. Ada kekuatan maha besar yang menuntun dan membimbing saya untuk melangkah menuju rumah Allah.

Itulah pertama kalinya saya menjejakan kembali kaki di mushola sekolah setelah sekian lama. Saya mendirikan shalat.

Kekuatan itulah yang mampu menggiring saya serta membuat saya berani melawan rasa malu dan mengabaikan tatapan heran teman-teman.

“Ada anak baru di mushola euy…!” begitu mungkin isi pikiran mereka. Namun, hati ini mantap berkata,“Kan ku genggam hidayah ini erat-erat selamanya.”

Karena kita tidak tahu sepanjang apa umur yang diberikan Allah untuk jatah menikmati dunia-Nya yang fanaa’ ini. Saya ingin meninggal dalam keadaan islam dan beriman dengan sepenuh jiwa.

Teguhkanlah dan tetapkan hati ini di jalan-Mu yaa Robb. Aamiin. []

 

loading...
loading...