ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Bawa Ia Ke Penjara

Foto: shalat-wajib.blogspot.co.id
0 293

 

PERANG Qodisiah masih berkecamuk. Di salah satu kamar di lantai dua istana Qadis, Saad bin Abi Waqash terbaring sakit. Di sampingnya tampak Salma, istrinya, menungguinya. Dari satu jendela di kamar itu, Saad masih bisa mengamati pertempuran antara kaum Muslimin dan orang-orang kafir. Di  hatinya ia cuma bisa merahuh, berdoa mengharap Allah akan memenangkan pertempuran itu bagi kaum Muslimin.

Ketika itu, tiba-tiba masuk tiga orang tentara sambil membawa seseorang. Saad mengernyitkan dahi bercampur kaget. Istrinya bergegas ke luar ruangan. Saad memandang orang yang baru dibawa oleh tentaranya itu. “Kau, Abu Mahjan!”serunya, walau lemah namun ketegasannya masih sangat terasa. “Kau lagi! Apa yang kaulakukan?”

Itu bukan ketika pertama kalinya Abu Mahjan menghadap Amirul Mukminin. Ruangan itu cukup akrab menyapanya. Ia sekarang malah berusaha melepaskan diri dari cekalan tiga orang tentara itu. Ia sama sekali tak mengindahkan pertanyaan Saad. “Hai,hai… lepaskan aku!” teriaknya dengan geram.

“Kami tidak akan melepaskanmu sebelum mendengar keputusan Amir tentangmu!” satu dari tentara itu menimpali.

Abu Mahjan dengan jengkel berpaling kepada Saad, “Wahai Abu Ishak!” katanya setengah menghardik. “Mengapa tidak kau selamatkan aku dari tindakan pengawal-pengawalmu ini?”

Saad hanya memandang Abu Mahjan tenang. Ia sudah hapal benar dengan situasi yang tengah terjadi di ruangan itu. Biasanya selalu saja ada yang membawa Abu Mahjan ke hadapannya. “Mereka adalah petugas yang bertugas mengamankan daerah kita ini. Kenapa dengan mereka?”

Abu Mahjan mencibir, “Apa? Petugas keamanan? Apa itu? Tidak pernah aku temukan seorang Amir yang menggunakan tentara di antara pasukannya yang tengah berjuang fii sabilillah. ini bukan ajaran Rasulullah!”

Tandas sekali pernyataan Abu Mahjan kali ini.

Saad bin Abi Waqash sampai merah wajahnya menahan marah, “Kurang ajar! Hai  pengacau Bani Syaqif! Apa yang kauketahui tentang ajaran Rasulullah? Jangan seenaknya kau berbicara! Aku tak akan memasukan tentaraku sendiri dalam pasukan Muslimin jika tak ada manusia-manusia seperti kau ini…”

“Ho ho ho…” Abu Mahjan tertawa, sinis kedengarannya. “Amirul Mukminin, kau belum menanyakan apa kesalahan yang kulakukan…”

Saad menahan amarahnya. Sambil menoleh ke arah tentaranya, ia berkata, “Apa kesalahan yang dilakukannya kali ini?”

Salah seorang tentaranya mengangguk hormat, “Ketika kaum penyair kita—antara lain Salmah, Hubaibah, Uqdah bin Tsabit, serta Aus bin Mughirah—meneriakan syair yang membangkitkan pasukan, orang ini justru meneriakan syair yang memuja arak….”

“Arak?”

Abu Mahjan yang kali ini menyahut, dengan tenangnya. “Benar, aku memang bersyair yang memuja arak. Bukannya seperti sangkaanmu menyerang atau menjelekanmu…”

Saad tertegun. Ia masih tetap tenang. Ia berpaling ke arah tiga tentaranya, “Kalian masih ingat apa yang disampaikannya? Meskipun hanya sebagian saja?”

Ketiga tentara itu berkerut kening. Mereka berusaha mengingat-ngingat, “Ya kami masih ingat sebagian apa yang dikatakannya. Begini syair yang diucapkannya, ‘Kalau aku mati, tanamlah pohon anggur di makamku, supaya tulang-tulangku bercampur dengan tanahnya. Jangan dimakamkan di ladang karena aku takut. Jika aku mati, aku tidak akan dapat merasakannya…’”

Dengan heran seraya menggeleng-gelengkan kepalanya, Saad berujar, “Hai Abu Mahjan! Celaka benar kau ini. Kau tak malu melakukan itu semua? Mengucapkan kata-kata yang seharusnya tak kauucapkan. Apalagi dalam situasi seperti ini. Kaum Muslimin sedang mengerahkan semua kemampuannya untuk memenangkan pertempuran ini.”

Dengan tenangnya, Abu Mahjan menimpali seolah-olah tidak memperhatikan kemarahan dan keheranan Saad, “Aku memang melakukannya, ya Amir! Maksudku dengan aku melakukan itu harapan supaya kaum Muslimin tidak jemu mendengar syair dan kata-kata yang hanya membangkitkan semangat jihad saja, tanpa ada hal yang lain…”

“O… jadi kau memang ingin memalingkan orang-orang dari semangat jihad itu?”

“Kau menuduhku demikian, kau mungkin belum tahu siapa aku sebenarnya…” Abu Mahjan menimpali dan berkata-kata dengan wajah tanpa ekspresi. “Aku selalu berada di garis depan pertempuran. Bandingkan dengan mereka penyair-penyair itu. Mereka hanya pandai berkata-kata saja, tapi mana perbuatan yang dilakukannya?”

Saad memandang wajah Abu Mahjan dengan saksama. Ia menggelengkan kepalanya berulang kali, “Kenapa kau sempoyongan begitu? Kau pasti mabuk. Matamu kemerahan. Kurang ajar! Kau berani datang kemari dalam keadaan mabuk begini? Cepat mendekat ke sini…”

“Sebaiknya jangan kaucium mulutku, wahai Saad. Sebab mungkin masih ada sisa bau minuman di mulutku ini. Minuman yang lama,” Abu Mahjan menimpali tanpa beranjak sedikit pun.

Melihat itu Abu Mahjan dipaksa pengawal untuk mendekat ke arah Saad. Saad kemudian mencium bau mulut Abu Mahjan dari jarak agak jauh. Seketika itu tersentak geram, “Benar, kau belum juga mau bertobat. Sudah berapa kali kau kuhukum cambuk karena minum? Kau belum juga sembuh-sembuh…”

Abu Mahjan hanya menggaruk-garuk kepalanya. Ia berkata dengan tenang tanpa ada rasa penyesalan sedikitpun, “Benar. Aku minum subuh tadi pagi. Aku selalu minum pagi karena udaranya jernih dan segar. Aku tak peduli meskipun kau akan menghukumku. Hari ini aku minum besok kauhukum. Lusa akan minum lagi dan pasti kautindak lagi. Aku tak peduli, aku akan tetap minum…”

Saad kembali menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tak habis pikir sekarang apa yang menyebabkan Abu Mahjan seperti itu. Sungguh berani sekali ia kepada Allah swt. Tidak tahukah Abu Mahjan bahwa Allah telah mengharamkan minuman itu?

Abu Mahjan tersentak. Kali ini ia benar-benar tersentak. Dengan agak terkejut dan tergesa-gesa ia segera menjawab, “Tidak, tidak, demi Allah! Aku lebih baik dimakan burung garuda atau disambar geledek daripada harus menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah swt. Tetapi aku yakin Allah Maha Pemurah. Untuk itu aku selalu memohon maghfirahnya. Maka, dari itu, kumohon padamu wahai Saad, jangan kausempitkan rahmat Allah itu..”

Saad hanya menarik napas. Kejengkelannya sudah mencapai batasnya. Bagaimana bisa orang ini mengharap ampunan Allah tapi terus-terusan berbuat maksiat? “Kau memang selalu merepotkan kaum Muslimin, Abu Mahjan! Pengawal, bawa dia ke penjara!”

Abu Mahjan merasa sangat terkejut mendengarnya, “Apa? Penjara?”

Saad tidak menjawab. Hanya matanya menyiratkan ketegasan.

Abu Mahjan mulai panik. Ia tak menyangka jika Saad akan menjatuhkan hukuman seperti itu, padahal keadaan tengah genting, bukankah akan jauh lebih baik jika ia dilepas dan ikut berjiahad bersama kaum Muslimin? Ia memohon, “Wahai Saad, mengapa kau berbuat sekehendak hatimu?”

Saad berkata dengan suara lunak. Melihat Abu Mahjan meratap seperti itu, ada yang luluh juga dalam hatinya, “Jika kau mau berjanji tidak akan mau minum arak lagi selama hidupmu, aku akan melepaskan dan membebaskanmu dari segala tuntutan, bagaimana?”

Abu Mahjan tertegun. Dalam ratapnya ia sempat berpikir panjang. “Demi Allah, wahai Saad,” katanya pelan. “Aku tidak ingin membohongi Allah dan manusia. Jika itu tuntutanmu, maaf aku tidak bisa memenuhinya. Tak mungkin aku berhenti minum arak itu…”

Kali ini Saad benar-benar hilang kesabarannya. Ia tertegun oleh ucapan Abu Mahjan. Betapa keras hati Abu Mahjan. Apakah yang mengahalanginya bertobat? “Jika demikian,” akhirnya Saad bersuara. “Bawa dia ke penjara!”

“Tidak!” Abu Mahjan berteriak, sementara para pengawal menyeretnya keluar ruangan “Kau mengharamkan kehebatan pedangku bagi kaum Muslimin , Saad?”

Saad tertegun lama. Suara Abu Mahjan masih nyaring terdengar di ruangan itu. Ia hanya sempat merahuh, wahai ternyata, jika dosa terus-terusan dilakukan—walaupun kecil—sangat mengeraskan hati dan menjauhkan rasa takut terhadap Allah. Ruangan itu hanya menyisakan sunyi kemudian. []

Comments
Loading...