• Home
  • Disclaimer
  • Iklan
  • Redaksi
  • Donasi
  • Copyright
Rabu, 16 September 2026
Islampos
  • Home
  • Beginner
  • Tahukah
  • Sirah
  • Renungan
  • Muslimbiz
    • Muslimtrip
  • Berita
  • Cari
No Result
View All Result
  • Home
  • Beginner
  • Tahukah
  • Sirah
  • Renungan
  • Muslimbiz
    • Muslimtrip
  • Berita
  • Cari
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Islampos
[adinserter block="1"] [adinserter block="17"]

Bantal Guling

by Adam
9 tahun ago
in Fiksi
Reading Time: 7 mins read
A A
0
Foto: alis-volat-propiis - DeviantArt

Foto: alis-volat-propiis - DeviantArt

[adinserter block="3"] [adinserter block="19"]

 

SEMINGGU setelah menikah, aku baru mengetahui bahwa istriku mempunyai suatu kebiasaan. Jika ia tidur, ia harus mendekap sebuah bantal guling—yang menurutnya sudah menemaninya lebih dari sepuluh tahun, semenjak ia kelas satu SLTP, “Bantal guling ini pemberian almarhum ayah, Mas. Dan aku sudah terbiasa ditemani dia.”

Aku tertegun. Ketika sebulan lalu kami masih dalam tahap taaruf, ia tidak mengatakan apa-apa soal bantal guling itu. Tadinya aku hendak sedikit tersinggung dan marah, tapi setelah kupikir-pikir sepertinya tidak terlalu signifikan. Apa iya sih ngambek cuma gara-gara sebuah bantal guling saja?

Jika boleh aku berkomentar, keadaan dan ujud fisik benda itu sudah teramat ‘menyedihkan’. Bentuknya sudah tidak karuan lagi. Mungkin karena sudah sekian tahun menemani dan dijadikan alas tidur istriku, ia sudah begitu ‘kurus’, ‘lepet’ dan warna aslinya—aku tidak tahu sungguh—apakah ia hitam, coklat, atau putih. Kadang-kadang aku tak bisa menyembunyikan ketawaku jika istriku sudah mulai beranjak ke pembaringan dan melihat sorot matanya yang seakan meminta izin agar bantal itu berada di tengah-tengah kami.

ArtikelTerkait

Tapi Ini Tanah Kami, Meski Duka dan Mati Tertanam di Sini

Hidup Itu Seperti UAP… Puisi Terakhir WS Rendra

Suamiku Mantan Majikanku

Gadis Cantik Sebagai Anugerah Tuhan

Semuanya masih berjalan baik-baik saja, sampai suatu kali kami berdua harus menginap di rumah orang tuaku. Selama ini, sejak kami menikah, kami memang masih tinggal di rumah mertuaku. Malam sekali, tiba-tiba aku tersadar bahwa sebenarnya istriku masih memicingkan mata. Tubuhnya sebentar-sebentar berbalik dan berganti-ganti posisi. Dan aku cukup terganggu dengan ‘kegiatannya’ itu.

“Kenapa,.. Ada apa, Dik?’

Istriku tidak menjawab. Ia duduk, kemudian merapikan rambutnya. Tampak peluh cukup besar membasahi dahi dan dagunya. Ia melirikku, ada yang nanar dalam tatapannya.

“Ya..?” Aku menunggu. Ia menarik nafas beberapa kali.

“Besok, kita pulang dulu ya, Mas….”

“Lho, pulang? Kan janji kamu kita di sini seminggu…..”

“Iya, lusanya kita kembali lagi ke sini… Cuma ngambil bantal gulingku itu. Aku tidak bisa tidur, Mas…”

Aku tertegun, ada yang tercekat dalam tenggorokanku. Aku menarik nafas, jarak antara kota tempat orang tuaku tinggal dan rumah mertuaku sangat jauh. Dengan kereta tercepat saja menghabiskan waktu hampir 12 jam. Jika bolak-balik tentu tidak efektif—terutama sejak hanya demi sebuah bantal guling!—selain juga ongkos perjalanan yang relatif mahal, pun jika hanya bagi salah seorang di antara kami. Pekerjaanku sebagai seorang penulis lepas di beberapa majalah masih belum memungkinkan untuk mengeluarkan sekian jumlah dana tambahan hanya untuk, sekali lagi, sebuah bantal guling.

Aku beranjak keluar kamar. Kuketok pintu kamar adikku, Santi. Pintu terbuka dan Santi menggosok-gosok matanya, “Ada apa, A?”

“Pinjem bantal guling kamu, San…. Teteh kamu tidak bisa tidur..”

Adikku mengerutkan kening, heran mungkin. Tapi ia tidak banyak bertanya, hanya melaksanakan apa yang kuperintah. Ketika kembali ke kamar, istriku masih terdiam. Aku menyerahkan bantal guling yang kubawa. “Ini. Untuk sementara—kuharap—bisa mengganti bantal gulingmu itu dulu…”

Kami kembali tertidur. Tapi aku masih bisa merasakan bahwa istriku sangat resah, dan sepertinya ia tidak sebentarpun memejamkan matanya. Hal ini kemudian menjadi semakin kentara ketika kulihat paginya mata istriku sedikit bengkak dan merah.

Page 1 of 3
123Next
Tags: bantal gulingcerpensuami istri
ADVERTISEMENT
Previous Post

Permohonan Medis Berkelanjutan Jadi Tuntutan Korban Bom ke Menkes

Next Post

Lelaki Itu Melamarku

Adam

Adam

Dengan Ilmu, engkau berani bertindak dan dapat menahan diri untuk diam

Related Posts

Palestina, Semangka, tanah, Pelajaran dari Gaza, Palestina, Palestina

Tapi Ini Tanah Kami, Meski Duka dan Mati Tertanam di Sini

6 November 2023
Hadits tentang Sabar, Konsultasi Kesehatan, Puisi Terakhir WS Rendra

Hidup Itu Seperti UAP… Puisi Terakhir WS Rendra

10 Oktober 2023
KDRT, Balasan bagi Orang yang Suka Memaki dan Menyakiti Orang Lain, Suamiku

Suamiku Mantan Majikanku

17 Agustus 2023
cantik, Rukun Islam, Amal Penghapus Dosa

Gadis Cantik Sebagai Anugerah Tuhan

9 Maret 2023
Please login to join discussion

Tulisan Terbaru

Melakukan Perubahan, sifat jujur, orang yang meninggalkan shalat, istidraj, FITNAH, SYAHWAT, maksiat, bunuh diri, dosa, maksiat, taubat

5 Alasan Jangan Mengungkit Dosa Masa Lalu Seseorang yang Sudah Bertaubat

by Yudi
14 Juli 2025
0

agar tidak mengulangi dosa, mengganti shalat wajib, dosa jariyah, mandi, dosa, shalat

Jangan Tinggalkan Shalat Meski Badan Kotor saat Kerja, Tidak Semua Kotor Itu Najis

by Yudi
14 Juli 2025
0

Senin

Jangan Lagi Bilang “Nggak Suka Senin!”

by Dini Koswarini
14 Juli 2025
0

Cerai, Sebab Zina Dilarang dalam Islam, zina, Penyebab Lelaki Selingkuh, Talak

Talak: Halal yang Dibenci, Senjata Iblis untuk Memecah Belah

by Saad Saefullah
13 Juli 2025
0

Laporan Donasi Islampos Juli 2025: Alhamdulillah, Sudah Terkumpul Rp2.390.999!

by Saad Saefullah
13 Juli 2025
0

Terpopuler

No Content Available
Facebook Twitter Youtube Pinterest Telegram

© 2022 islampos - Membuka, Menginspirasi, Free to Share.

No Result
View All Result
  • Home
  • Beginner
  • Tahukah
  • Sirah
  • Renungan
  • Muslimbiz
    • Muslimtrip
  • Berita
  • Cari

© 2022 islampos - Membuka, Menginspirasi, Free to Share.