• Home
  • Disclaimer
  • Iklan
  • Redaksi
  • Donasi
  • Copyright
Selasa, 22 September 2026
Islampos
  • Home
  • Beginner
  • Tahukah
  • Sirah
  • Renungan
  • Muslimbiz
    • Muslimtrip
  • Berita
  • Cari
No Result
View All Result
  • Home
  • Beginner
  • Tahukah
  • Sirah
  • Renungan
  • Muslimbiz
    • Muslimtrip
  • Berita
  • Cari
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Islampos
[adinserter block="1"] [adinserter block="17"]

Bahaya Penyakit Hati yang Satu Ini! (1)

by Adam
8 tahun ago
in Tsaqofah
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Gedung pencakar langit di DKI Jakarta. Foto: Dian Maulana/Islampos

Gedung pencakar langit di DKI Jakarta. Foto: Dian Maulana/Islampos

[adinserter block="3"] [adinserter block="19"]

 

SALAH satu yang berbahaya diantara penyakit hati yang kita miliki adalah sifat egois, sifat tidak mau kalah, sifat ingin menang sendiri, sifat ingin selalu merasa benar, atau sifat ingin selalu merasa bahwa memang dirinya tidak berpeluang untuk berbuat salah. Sifat seperti ini biasanya banyak menghinggapi orang-orang yang diamanahi kedudukan, seperti para pimpinan dalam skala apapun.

Sifat-sifat tadi ujung-ujungnya akan bermuara pada sikap otoriter, bahkan lebih jauh lagi menjadi seorang diktator (suatu sebutan yang diantaranya dinisbahkan pada pemimpin pemerintahan NAZI Jerman, Adolf Hitler atau pada pemerintahan fasis Italia zaman Benito Musolini, dan juga para pemimpin diktator dunia lainnya).

Pastilah pula kita tidak akan pernah nyaman mendengar kata-kata seperti itu dan kita juga tidak akan pernah suka melihat orang yang otoriter, yang segalanya sepertinya harus dalam genggamannya. Dan hasilnya kita tahu sendiri bahwa orang-orang yang memiliki cap otoriter, orang yang selalu ingin segalanya dalam kekuasaannya, semuanya tunduk dan patuh kepadanya, ujungnya adalah kejatuhan dan kehinaan.

ArtikelTerkait

Apakah Terkena Diabetes di Usia Muda Bisa Sembuh?

Ciri-ciri Darah yang Sudah Rusak yang Bisa Dikenali oleh Diri Sendiri

Apa Hukum Memalsukan Absen di Tempat Kerja?

Bagaimana Cara Hentikan Bersin yang Terus-menerus?

BACA JUGA: Apa Solusi Saat Tubuh Diserang Penyakit?

Dari segi namanya saja sudah menimbulkan kesan tidak enak untuk didengar kuping. Simaklah kata, “otoriter”, “egois”, atau “menang sendiri” sepertinya kita menangkap kesan yang kurang sreg dengan kata-kata ini. Apalagi jika melihat langsung orang yang memiliki sifat seperti itu, akan lebih tidak suka lagi. Tapi sayang, sepertinya kita jarang menyisihkan waktu untuk bertanya secara jujur pada diri sendiri, apakah sifat-sifat itu ada pada diri kita atau tidak? Apakah kita ini orang otoriter atau bukan? Maaf-maaf saja kepada para orang tua, guru, manajer, pimpinan, direktur, komandan, bos, pokoknya orang-orang yang diamanahi kekuasaan oleh Allah, biasanya memiliki kecenderungan sifat seperti ini.

Orang-orang yang otoriter biasanya memiliki versi tersendiri dalam menilai suatu kejadian, versi yang sesuka dia tentunya. Hal ini karena dia selalu memandang lebih dirinya sehingga selalu melihat sesuatu itu kurangnya dan jeleknya saja.

Akibatnya sebaik apapun yang dilakukan orang lain selalu saja dari mulutnya meluncur omelan, gerutuan, dan koreksian. Tepatlah baginya pepatah, nila setitik rusak susu sebelanga’. Artinya, karena kesalahan sedikit, jeleklah seluruh kelakuannya. Bagi orang otoriter, biasanya tidak ada pilihan lain selain 100% harus sesuai keinginannya.

Hasil kajian sebuah penelitian menyebutkan bahwa para korban NAPZA (Narkotika, Pshikotropika, dan Zat Aditif lainya) diantaranya adalah mereka yang tumbuh besar dari kalangan orang tua otoriter, keras, mau menang sendiri, tidak mau berkomunikasi, dan tidak ada dialog antar anggota keluarga sehingga si anak menjadi seorang yang bersikap apatis, acuh, bahkan akhirnya si anak melarikan rasa ketertekanannya ini ke NAPZA, naudzhubillah.

BACA JUGA: Pujian Sangat Berpotensi Mengundang Penyakit Hati

Ada pula anak yang selalu bentrok dengan ibunya, karena si ibu begitu menuntut agar dia nurut 100% tanpa reserve. Kondisi ini dibarengi pula dengan penilaian kepada anak yang selalu negatif, akibat yang diungkapkan si ibu selalu sisi-sisi yang salah dari diri si anak. Munculah ungkapan, “Sedikit-sedikit salah-sedikit-sedikit salah!”, bahkan saking kesalnya si anak ini berkata, “Kalau saya ini salah terus, lalu kapan benarnya saya sebagai manusia ini? Kenapa semua yang saya lakukan selalu disalahkan?”

Padahal kalau si anak belum mengerti seharusnya orang tua yang lebih dulu mengerti, kalau si anak belum bisa paham seharusnya orang tua yang duluan paham. Tapi karena orang tuanya tidak mengerti dan kurang ilmu, akhirnya tanpa disadari si ibu telah menggiring dan menjerumuskan anaknya ke dunia NAPZA.

Ternyata beginilah, gaya mendidik yang otoriter, yang kaku, dan kurang komunikatif akan menghasilkan anak-anak dalam kondisi tertekan, tidak aman, hingga ujungnya ia lari dari kenyataan yang dihadapinya.

Begitupun di kantor-kantor atau perusahaan-perusahaan yang memiliki pimpinan bertipe otoriter, pastilah dia akan membuat karyawannya tertekan. Hal ini dapat diamati saat pimpinannya datang ke ruang kerja karyawannya, semua karyawan menjadi tegang, gugup, dan panik. Ini terjadi karena kalau pimpinan datang, maka yang dilihat hanya kesalahan-kesalahan karyawannya saja.

BACA JUGA: Obati Penyakit Hati dari Penguasaan Setan, Begini Caranya

Mengapa begini? Mengapa begitu? Ini salah! Itu Salah! Jarang memuji, jarang menghargai, jarang menyapa dengan baik, bahkan wajahnya menyeramkan dan angker karena sangat jarang senyum. Pada akhirnya karyawan disiplinnya menjadi disiplin takut atau disiplin semu, padahal sebenarnya karyawan merasa tertekan, sakit hati, dan bahkan benci ke si pimpinan yang otoriter ini.

Diantara ciri perusahaan dengan kondisi seperti ini adalah ditandai dengan perputaran keluar-masuk karyawan yang sangat tinggi. Semua karyawan dari yang level tertinggi sampai yang level terendah maunya keluar saja. Kalaupun ada yang bertahan, bukan karena senang bekerja di sana, kebanyakan yang bertahan memang karena butuh saja. Butuh uangnya, bukan butuh suasananya. []

BERSAMBUNG

Tags: penyakit
ADVERTISEMENT
Previous Post

Di Pengadilan, Fadel Maafkan Pelaku Penyerangan Terhadapnya

Next Post

Di Cirebon, Buang Sampah Sembarangan bisa Kena Pidana

Adam

Adam

Dengan Ilmu, engkau berani bertindak dan dapat menahan diri untuk diam

Related Posts

diabetes

Apakah Terkena Diabetes di Usia Muda Bisa Sembuh?

10 Juli 2025
Puasa, Sakit Kepala, Darah

Ciri-ciri Darah yang Sudah Rusak yang Bisa Dikenali oleh Diri Sendiri

10 Juli 2025
Kerja

Apa Hukum Memalsukan Absen di Tempat Kerja?

9 Juli 2025
Ciri Tubuh yang Tidak Sehat, Bersin

Bagaimana Cara Hentikan Bersin yang Terus-menerus?

9 Juli 2025
Please login to join discussion

Tulisan Terbaru

Melakukan Perubahan, sifat jujur, orang yang meninggalkan shalat, istidraj, FITNAH, SYAHWAT, maksiat, bunuh diri, dosa, maksiat, taubat

5 Alasan Jangan Mengungkit Dosa Masa Lalu Seseorang yang Sudah Bertaubat

by Yudi
14 Juli 2025
0

agar tidak mengulangi dosa, mengganti shalat wajib, dosa jariyah, mandi, dosa, shalat

Jangan Tinggalkan Shalat Meski Badan Kotor saat Kerja, Tidak Semua Kotor Itu Najis

by Yudi
14 Juli 2025
0

Senin

Jangan Lagi Bilang “Nggak Suka Senin!”

by Dini Koswarini
14 Juli 2025
0

Cerai, Sebab Zina Dilarang dalam Islam, zina, Penyebab Lelaki Selingkuh, Talak

Talak: Halal yang Dibenci, Senjata Iblis untuk Memecah Belah

by Saad Saefullah
13 Juli 2025
0

Laporan Donasi Islampos Juli 2025: Alhamdulillah, Sudah Terkumpul Rp2.390.999!

by Saad Saefullah
13 Juli 2025
0

Terpopuler

No Content Available
Facebook Twitter Youtube Pinterest Telegram

© 2022 islampos - Membuka, Menginspirasi, Free to Share.

No Result
View All Result
  • Home
  • Beginner
  • Tahukah
  • Sirah
  • Renungan
  • Muslimbiz
    • Muslimtrip
  • Berita
  • Cari

© 2022 islampos - Membuka, Menginspirasi, Free to Share.