islampos
Media islam generasi baru

Bagaimana Keluarga Kalian Dahulu, sehingga Sekarang Bisa Masuk Surga?

Foto: w-dog.net
0

Oleh: Purwo Herbidartanto
purwo.herbidartanto@gmail.com

“KEPADA Akhi dan Ukhi sekalian, saya minta tolong bahkan ana memohon kepada semuanya. Jika ana salah atau khilaf mohon untuk diingatkan baik berupa lisan maupun tulisan agar ana tersadar. Jazzakumullahi Ahsanul Jazza.”

Kurang lebih begitulah petikan dari ucapan yang sering saya (penulis) lontarkan ketika masih aktif di organisasi dakwah kampus, untuk memohon kepada rekan aktivis untuk mau mengingatkan segala kesalahan yang penulis lakukan. Hal ini dilakukan semata-mata agar kita semua terhindar dari salah atau khilaf, dimana hanya orang lain yang dapat melihatnya. Allah berfirman dalam surat Al Ashr : (1) Demi masa, (2) Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam keadaan merugi, (3) Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.

Surat Al ‘Ashr merupakan sebuah surat dalam Al Qur’an yang banyak dihafal oleh kaum muslimin karena pendek dan mudah dihafal. Namun sayangnya, sangat sedikit di antara kaum muslimin yang dapat memahaminya. Padahal, meskipun surat ini pendek, akan tetapi memiliki kandungan makna yang sangat dalam. Sampai-sampai Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata,

“Seandainya setiap manusia merenungkan surat ini, niscaya hal itu akan mencukupi untuk mereka.” [Tafsir Ibnu Katsir 8/499].

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, ”Maksud perkataan Imam Syafi’i adalah surat ini telah cukup bagi manusia untuk mendorong mereka agar memegang teguh agama Allah dengan beriman, beramal sholih, berdakwah kepada Allah, dan bersabar atas semua itu.

Beliau tidak bermaksud bahwa manusia cukup merenungkan surat ini tanpa mengamalkan seluruh syari’at. Karena seorang yang berakal apabila mendengar atau membaca surat ini, maka ia pasti akan berusaha untuk membebaskan dirinya dari kerugian dengan cara menghiasi diri dengan empat kriteria yang tersebut dalam surat ini, yaitu beriman, beramal shalih, saling menasehati agar menegakkan kebenaran (berdakwah) dan saling menasehati agar bersabar,” [Syarh Tsalatsatul Ushul].

“Kita semua adalah da’i sebelum menjadi apapun”. Tugas da’i adalah untuk mengajak dan mengingatkan dalam kebenaran serta mencegah kemunkaran. Mengajak seseorang untuk bersabar dalam menghadapi ujian maupun bersabar ketika godaan datang bukanlah yang mudah, karena syaitan senantiasa menyesatkan manusia. Allah menjanjikan dalam firman-Nya. “Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa,” (QS. Al Hajj : 40).

Allah mengutus Rasul-Nya adalah untuk membaca kabar dan juga peringatan bagi umat. Ini adalah bentuk pesan Cinta Allah bagi seluruh hamba-Nya, karena Allah Yang Maha Penyayang tidak akan pernah meninggalkan kita semua (Hamba). Maka dari itu, Allah mengutus Rasulnya sebagai pembawa risalah untuk mengingatkan manusia akan datangnya hari akhir dan agar manusia dapat membedakan jalan yang benar dan lurus untuk meraih ridho-Nya. Coba bayangkan bagaimana arah hidup manusia jika Allah tidak mengutus Rasul-Nya di tengah-tengah manusia? Pastilah arah hidup yang tidak menentu serta kebutaan karena tidak mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Itu semua adalah pesan Cinta Allah dan Rasulullah kepada Umat Manusia.

Tugas Rasulullah telah berakhir, kini peran kita sebagai umat Rasulullah adalah menyebarkan ajaran beliau sebagai da’i, menyebarkan kasih sayang sebagai saudara sesama muslim. Umar Bin Khattab pernah berkata, “Orang yang paling aku suka adalah orang yang menunjukkan kesalahanku”.

Umar bin Khattab meminta pesan Cinta untuk dirinya kepada para sahabat untuk mengingatkan dirinya ketika salah, karena seseorang yang bersedia mengingatkan kesalahannya secara tidak langsung mereka peduli kepada yang di ingatkan dan berharap orang yang di ingatkan sadar agar kambali kejalan yang lebih baik. Pesan Cinta ini sangatlah dalam, karena orang yang saling mengingatkan sangat berharap untuk saling memperbaiki dan membenarkan. Goalnya adalah, jika orang yang saling mengingatkan dapat bertemu dan berkumpul lagi bersama di Surganya Allah.

Para penghuni surga akan saling berhadapan dan saling bertanya, “Bagaimana keluarga kalian dahulu sewaktu di dunia, kenapa bisa masuk surga?”

Mereka menjawab dengan serentak, “Kami bisa masuk Surga karena dahulu di Dunia, di keluarga kami saling mengingatkan satu sama lain tentang pedihnya siksa Neraka”. (QS. At – Tur : 26). Saling mengingatkan adalah Pesan Cinta yang sebenarnya, karena ada harapan yang sangat dalam untuk saling berkumpul di Surga Allah.

Di akhir zaman sekarang, saling mengingatkan adalah hal yang sangat langka dan jarang di temui dalam pergaulan sehari-hari, mereka hampir tidak peduli dengan perilaku temannya yang melenceneng. Sekalipun ada yang mengingatkan, maka yang di ingatkan akan merasa kesal dan marah karena merasa prinsipnya didobrak oleh orang lain. Hal ini yang membuat seseorang tidak mau lagi untuk mengingatkan atau sekadar menegur temannya yang salah karena khawatir akan melukai hatinya, walaupun niatnya adalah tidak ingin teman, keluarga atau orang terdekatnya berbuat hal yang tidak di benarkan.

Sehingga, pesan Cinta yang seharusnya membuat hidup terasa indah tetapi seakan-akan terbungkus rasa sakit hati karena diingatkan. Kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan seseorang yang diingatkan agar dapat menerima pesan Cinta sesuai harapan yang mengingatkan. Hal ini di karenakan orang memiliki cara yang berbeda dalam mengingatkan dan diingatkan, ada yang secara blak-blakan, ada yang melalui sindiran, ada yang lebih memberi contoh dan aja juga yang dengan lembut serta sabar dalam mengingatkan orang-orang yang dicintai.

Bagaimanapun caranya, marilah kita agar terbuka dalam menerima pesan Cinta yang diberikan oleh orang-orang di sekitar kita dengan pikiran terbuka, karena bagaimanapun orang lain yang dapat melihat noda diwajah kita, kecuali kita mau bercermin dan senantiasa bermuhasabah untuk memperbaiki diri. Sehingga pesan Cinta yang Rasulullah bawa dapat tersampaikan dengan baik dan tidak terbungkus dengan rasa sakit hati, hal ini untuk saling mengingatkan dalam kebenaran dan dalam kesabaran. []

loading...
loading...