PENYAKIT autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh—yang seharusnya melindungi tubuh dari serangan luar seperti virus dan bakteri—justru menyerang sel-sel dan jaringan tubuh sendiri. Penyebab pastinya belum sepenuhnya dipahami, tapi para ahli menemukan bahwa penyakit autoimun bisa dipicu oleh kombinasi beberapa faktor berikut:
🧬 1. Faktor Genetik (Keturunan)
Orang dengan riwayat keluarga yang memiliki penyakit autoimun (seperti lupus, diabetes tipe 1, atau rheumatoid arthritis) memiliki risiko lebih tinggi.
Gen tertentu, seperti HLA (human leukocyte antigen), berperan dalam pengaturan sistem imun.
BACA JUGA: Apa Penyebab Serangan Jantung?
🦠 2. Infeksi Virus atau Bakteri
Infeksi tertentu bisa memicu sistem imun menjadi “kebingungan”, menyerang tubuh sendiri.
Misalnya: Epstein-Barr Virus (EBV) dikaitkan dengan lupus dan multiple sclerosis.
🧪 3. Perubahan Hormon
Autoimun lebih banyak menyerang wanita dibanding pria, terutama pada usia subur.
Hal ini menunjukkan kemungkinan hubungan dengan hormon estrogen.
🌱 4. Faktor Lingkungan
Paparan zat kimia tertentu, logam berat, asap rokok, atau polusi udara bisa memicu reaksi imun abnormal.
Sinar matahari berlebih juga bisa memicu lupus pada individu yang rentan.
🍞 5. Gangguan Mikrobiota Usus
Ketidakseimbangan bakteri baik di usus (dysbiosis) diyakini berperan dalam memicu respons autoimun.
Usus adalah pusat sistem imun, dan ketika penghalangnya rusak (leaky gut), zat asing bisa masuk dan memicu peradangan.
😰 6. Stres Fisik atau Emosional
Banyak penderita autoimun melaporkan gejala awal muncul setelah peristiwa stres berat, baik fisik (operasi, cedera) atau emosional (trauma, duka).
Stres kronis dapat melemahkan sistem imun dan memicu reaksi yang tidak normal.
BACA JUGA: Penyebab Asam Urat, Apa Saja?
🔁 7. Reaksi Silang (Molecular Mimicry)
Beberapa patogen memiliki protein yang mirip dengan sel tubuh manusia. Saat sistem imun menyerang patogen itu, ia juga bisa “salah sasaran” dan menyerang jaringan sendiri.
Kesimpulan:
Autoimun bukan disebabkan oleh satu faktor saja, tetapi merupakan hasil interaksi kompleks antara gen, lingkungan, hormon, dan sistem kekebalan. Karena itu, pengobatan seringkali berfokus pada mengelola gejala dan mencegah peradangan, bukan menyembuhkan total. []









