ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

Moms Zaman Now

0

Advertisements

Oleh: Savitry ‘Icha’ Khairunnisa

PADA dasarnya moms zaman old dan moms zaman now itu banyak kesamaannya, terutama sama-sama latah dan sama-sama kepo level maksimal.

Bedanya, kalau zaman mak kita dulu cuma sebatas ikutan arisan panci dan piring Duralex, pakai blazer yang ada shoulder pads, nonton Berpacu Dalam Melodi, dan belajar nari poco-poco, maka mak zaman modern latah dan keponya berpusat pada drakor, acara gosip artis yang tak berkesudahan, dan tentunya gadget.

Selfie dan wefie sudah jadi norma dan kewajiban. Mulai selfie sendiri di mobil, pesawat, dapur, kamar, atau wefie bareng keluarga dan teman-teman. Tiada momen yang terlalu kecil untuk diabadikan dan dibagikan (saya termasuk di dalamnya, hehe).

Asal jangan wefie berdua TTM atau lelaki non-mahram aja, ya moms. Bisa menimbulkan benih-benih perpecahan dalam rumah tangga nantinya.

Yang muslimah juga jangan mengumbar aurat di depan umum. Udah jelas itu aturannya dalam Islam.

Moms zaman now, apakah dia jadi ibu rumah tangga yang berkarir di rumah atau yang bekerja di luar rumah, kebanyakan seneng banget nge-save dan share resep di wall fb atau Instagram. Nggak tau deh, kapan masaknya. Yang penting niat dulu.

Jangan lupa untuk follow akun-akun olshop yang barang dagangannya lucu-lucu dan bikin lapar mata. Bukan mak namanya kalau nggak hobi belanja.

Moms zaman now kebanyakan sekolahnya tinggi dan pintar-pintar. Apalagi kalau disuruh bicara dan komentar.

Hobinya update status dan berdebat tentang segala hal. Mulai polemik ibu rumah tangga saja vs wanita karir, melahirkan normal atawa caesar, ASI vs sufor, provaks lawan antivaks, endesbre endesbre. Pokoknya apa yang dia tau, langsung dishare dan disampaikan, meski masih sebatas “katanya”. Meski ujungnya hanya debat kusir tiada akhir. Kadang yang udah keburu di-share ternyata hoaks, hiks.

Yang penting menang. Beneran penting ini. Menang meski cuma di medsos rasanya puas sekali.

Moms zaman now juga semakin melek politik, atau ingin menunjukkan seolah-olah dirinya paham politik sampai harus diperjuangkan hingga titik darah penghabisan. Mereka (kita) ini antara sadar atau tidak sadar sudah terbelah (atau sengaja) mengelompok jadi kaum yang merasa paling benar sementara kaum seberang pasti salah.

Nyinyiran bani serbet, bani taplak, cebongers, kaum IQ 200 sekolam, berhadapan dengan sebutan kaum bumi datar, sumbu pendek, golongan onta, dan lain sebagainya yang menunjukkan orang Indonesia itu memang paling kreatif memberi stempel.

Jokowi, Prabowo, Anis, Sandiaga, hingga para alim ulama nggak lepas dari cercaan. Komentar yang sifatnya bukan kritik membangun tapi menyerang pribadi. Sebutan Gabener / Wagabener salah satu yang lagi kekinian. Seolah mereka yang menyematkan sebutan itu udah bener aja.

Belum lagi mikroskop superbesar yang digunakan untuk menguliti urusan pribadi dan keluarga tokoh masyarakat. Sampai-sampai urusan ketidakhadiran nenek Kahiyang Ayu bisa langsung viral (meski akhirnya dihapus karena ternyata sang nenek memang hadir di acara mantenan cucunya).

Begitulah kalau ucapan bekerja lebih cepat dari sel-sel kelabu di kepala. Komentar memang paling gampang.

Apalah lagi hati nurani, entah sembunyi di mana dia. Pokoknya kekurangan lawan sekecil apapun bisa jadi begitu besar. Kebencian jadi virus yang menular semakin ganas.

Moms, benci atau sukalah sekadarnya saja. Jangan berlebihan. Kita nggak akan tau bahwa suatu hari keadaan hati kita akan berbalik.

Moms zaman now tingkat kepo dan latahnya bukan cuma maksimal, tapi sudah meluber ke mana-mana. Bukan cuma artis dan figur publik yang jadi sasaran keingintahuan. Polisi antiteror dan bahkan paspampres ganteng nan klimis pun tak luput dari perhatian.

Umur kita boleh terus bertambah, ya moms. Tapi katanya jiwa harus tetap muda. Hanya untuk sebagian dari kita, jiwa muda itu sepertinya nggak lebih dari luapan darah muda yang tak sempat terpuaskan di masanya dulu. Masak iya sih, segala betis, ukuran hidung, biceps, six pack, sampai potongan rambut mereka harus dibahas? Buat apa?

Sekadar hal kecil yang memberi kesenangan sesaat, iya. Anggap saja itu sarana meluapkan quota 20.000 kata yang harus dikeluarkan wanita tiap harinya. Begitu mungkin alasan pembenarnya.

Ya, nggak apa, sih. Mencari kebahagiaan sesaat atau semu itu hak setiap orang. Tapi kalau keindahan lawan jenis bukan mahram harus disebarkan secara masif begitu untuk kemudian digosipkan berjamaah, apa yang kita dapat? Jatuhnya jadi ghibah, deh.

Bahagia boleh, tapi ingat umur, ingat anak dan suami, ingat kepatutan sebagai wanita dengan adat timur, terlebih untuk muslimah.

Moms zaman old atau zaman now, sama-sama harus ingat akan perhitungan di zaman future. Semua yang kita ucapkan, jempol yang kita buat untuk mengetik di smartphone, dan semua perbuatan ada kalkulator supercepat yang nanti akan menghitungnya.

Akhirul kalam, tulisan bernada curcol ini intinya cuma untuk saling mengingatkan dalam kebaikan, termasuk mengingatkan diri saya sendiri.

Ada daun jatuh ke kali.
Mohon ampun jika tak berkenan di hati.
Ada kuda lari di lapangan.
Meski berbeda, kita tetap bisa berteman.

***
Moms zaman now juga bisa berpantun.

loading...
loading...

Sponsored

Langganan newsletter Kami
Langganan newsletter Kami
Daftar dan dapatkan informasi update dari Kami langsung ke Inbox e-mail Anda
Kamu dapat berhenti berlangganan kapanpun

Maaf Anda Sedang Offline