ISLAMPOS
Media Islam Generasi Baru

4 Fakta Batalnya Sedekah Laut Bantul

0

Advertisements

BANTUL–Pelaksanaan sedekah laut Pisungsung Jaladri di Pantai Baru, Kecamatan Sanden, Bantul, batal digelar. Hal itu lantaran ada intimidasi kelompok masyarakat tertentu dan adanya perusakan properti karena tradisi tersebut dinilai syirik.

Karena khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan, warga memutuskan untuk membatalkan sedekah laut itu, terutama untuk labuhan dan arak-arakan atau kirab budaya.

Berikut beberapa fakta mengenai batalnya Sedekah Laut Bantul.

1. Tradisi Pisungsung Jaladri dilaksanakan setiap tahun

Tradisi Pisungsung Jaladri telah lama ada dan digelar setiap tahunnya. Namun, untuk pelaksanaan tahun ini terancam batal setelah kelompok masyarakat tertentu merusak properti pelaksanaan tradisi tersebut.

“Kami tidak tahu kalau itu dianggap syirik karena hanya tradisi,” kata Tuwuh, nelayan setempat.

Pelaksanaan tradisi tersebut akhirnya disederhanakan dengan menampilkan kesenian Jathilan. Sedangkan 700 nasi takhir yang sudah disiapkan tetap dibagikan kepada pengunjung pantai.

BACA JUGA: Soal Pembubaran Sedekah Laut di Bantul, PBNU: Indonesia Bukan Negara Agama!

2. Gus Miftah tidak setuju dengan tindakan anarkis tersebut

KH. Miftah Maulana Habiburrahman atau Gus Miftah mengecam oknum yang melakukan perusakan properti sedekah laut Pisungsung Jaladri. Menurutnya, sekelompok orang yang melakukan perusakan itu tidak memahami kegiatan budaya daerah setempat.

“Banyak orang yang gagal paham atau salah paham atau pahamnya salah. Menurut saya selama labuhan itu tujuannya nguri-nguri budaya, saya enggak ada masalah. Tetapi kalau itu sifatnya ubudiyah, itu jelas salah,” katanya, Sabtu (13/10/2018) malam.

Gus Miftah tidak membenarkan perusakan itu karena, menurutnya, Islam tidak mengajarkan tindakan anarkis. Maka dari itu, Gus Miftah mengatakan perlu ada edukasi kepada masyarakat bahwa kegiatan tersebut adalah bagian dari pelestarian budaya.

3. Kadisbud Bantul mengatakan sedekah laut merupakan bagian dari objek wisata

Pemerintah setempat berupaya melakukan pelestarian budaya dengan menghidupkan kembali tradisi yang sudah mulai ditinggakan.

Dengan adanya dana stimulan dari pemerintah melalui dana keistimewaan, sedekah laut Pisungsung Jaladri menjadi salah satu event budaya untuk menarik wisatawan.

“Sedekah laut itu hanya sekadar event budaya. Bukan sebuah ritual khusus,” kata Kepala Dinas Kebudayaan Bantul, Sunarto, Minggu (14/10).

“Sedekah laut itu menjadi daya tarik tersendiri sebuah objek wisata,” tambahnya.

4. MUI: Tradisi sesajen bisa dimodifikasi

Ketua Komisi Hukum MUI Pusat M. Baharun mengatakan, tradisi sesajen dapat dimodifikasi dengan menyedekahkan isi sesajen kepada fakir miskin di pesisir laut yang membutuhkan isi sesajen.

“Tradisi kan bukan keyakinan atau rukun agama, bisa dimodifikasi sesuai anutan dan akidah keimanan dalam agama, supaya tidak bertentangan. Cara Wali Songo mengompromikan tradisi sehingga dapat kompatibel dengan agama sangat bagus,” ungkap Baharun.

Baca Juga: Hati-hati Musyrik, Ini 5 Contoh Meminta Pertolongan kepada Jin

Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhid juga tidak setuju dengan pengrusakan tersebut. Dia menjelaskan, argumentasi tidak disampaikan dengan cara merusak atau menghancurkan hal yang dianggap menyimpang oleh Islam.

Loading...

“Tugas kita itu hanya mengajak, mengingatkan urusan apakah mereka mengikuti ajakan kita atau tidak itu bukan tanggung jawab kita. Karena hanya Allah yang berhak memberikan petunjuk (hidayah) kepada seseorang,” ujarnya.

Zainut juga meminta agar Muslim tidak asal menghakimi, apalagi sampai merusak. Menurutnya hal ini dapat menimbulkan tuduhan mengganggu keyakinan orang lain.

“Karena kita tidak tahu, apakah masyarakat yang melaksanakan upacara adat itu semuanya beragama Islam,” tutupnya. []

SUMBER: KUMPARAN.COM

Artikel Terkait :

loading...
loading...

Sponsored

Maaf Anda Sedang Offline