Mak, Pengen Makan Daging …

Foto hanya ilustrasi, Sumber Foto: Dr. Phil Maffetone
0

Oleh: Ernydar Irfan

MELIHAT kehidupan pemulung, gelandangan dan orang gila di jalanan, aku jadi berpikir apakah mereka mendapatkan hak daging qurban? Kalaupun mereka dapat bagaimana mereka memasaknya?

Akhirnya kutanyakan pada murobbiku. “Ustadz, bolehkah qurban dibagi dalam bentuk matang?”

Begitu mendapat jawaban boleh, aku bertekad tahun ini aku akan memasak daging qurban dan membagikan dalam bentuk matang.

Hingga hari itu….

“Apa ini, Bu?” tanyanya.

“Ini qurban, tapi dibagi udah mateng biar gak beli bumbu, gak repot masak dan empuk dagingnya karena dipresto,” jawabku.

“Alhamdulillah…. anak ibu akhirnya makan daging juga…. “ sumringah wajahnya menyambut sebungkus sop dan sebungkus rabeg makanan khas Banten.

“Emang gak kebagian daging qurban?” tanyaku

“Dapet bu… tapi saya jual, buat beli obat anak. Badannya panas, gak punya uang jadi dijual ke penadah. Pas sampe rumah anak-anak nanya, ‘Mak dagingnya mana? Pengen makan daging,’ katanya.

“Saya bilang dijual, eh yang kecil nangis kejer pengen makan daging. Alhamdulillah hari ini malah dapet yang udah mateng,” celotehnya mengalir begitu saja dengan mata berbinar.

“Iya Bu… Si Ibu ini mah anaknya banyak. Sakit-sakitan aja, udah susah uang abis buat obat aja. Kemarin ke rumah saya mau minta kuah daging buat anaknya, ya gak ada…daging saya juga dijual buat beli obat rematik ibu saya. Kasihan anaknya pada nangis,” timpal teman si ibu yang ternyata tetangganya.

Mulutku terkunci sesaat terpukau akan ucapannya, sumringah wajahnya dan binar matanya. Ketika sodoran sederhana disambut bagaikan rejeki yang begitu tak ternilai harganya. Aku bertanya pada hati, apa aku yang tak pandai bersyukur atas segala NikmatNya?

Malu rasanya sempat menangis di atas hamparan sajadah merengek, mengeluh merasa lelah atas segala coba, atas sakit lalu berpulangnya kakak tercinta, disusul anak tersayang dirawat delapan hari lalu suami yang menjalani operasi karena sakitnya. Rasaku mungkin tak seberapa yang dialami ibu ini, tapi rejeki sedikit membuatnya begitu bahagia, sedang aku?

Dimana rasa syukur itu atas nikmat yang banyak? []

DISCLAIMER: Tulisan ini secara ekslusif diberikan hak terbit kepada www.islampos.com. Semua jenis kopi tanpa izin akan diproses melalui hukum yang berlaku di Indonesia. Kami mencantumkan pengumuman ini di rubrik Kolom Ernydar Irfan dikarenakan sudah banyak kejadian plagiarisme kolom ini di berbagai media sosial.

loading...
loading...